10

43.9K 4.3K 352
                                        

"Abs, pleaseeeee!!" Diva menangkupkan dua tangannya dan menatap Abby penuh harap.

Sahabatnya itu hanya memandangnya sekilas dan kembali sibuk dengan pekerjaannya menyetrika pakaian. Bahkan, sejak tadi dia seolah tidak memperhatikan Diva yang merengek-rengek padanya.

"Abs... "

"Diva, kau tahu aku harus bekerja, kuliah. Aku tidak bisa mengambil cuti."

"Aku yang akan mengurusnya untukmu. Please. Aku butuh liburan atau aku akan mati."

Ini adalah hari-hari terberat Diva. Sejak terakhir dia mengirim pesan pada Daniel, pria itu bak hilang ditelan bumi. Daniel tidak membalas pesannya, tidak juga terlihat berkumpul bersama kakaknya dan dua sahabatnya yang lain. Bahkan usaha Diva untuk meminta informasi dari sekretaris Dave yang ada di kantor bersama mereka tidak membuahkan hasil.

Daniel menghilang tanpa Diva tahu kemana pria itu pergi. Untuk bertanya pada Dave, Diva tidak berani. Untuk menghubungi Daniel kembali, dia juga tidak berani. Bukannya memalukan jika dia menghubungi pria itu sedangkan dia sendiri yang memutuskan agar mereka tidak berhubungan lagi?

Seharusnya dia berpikir panjang sebelum mengirim pesan itu. Oke, mungkin dia terlalu berekspektasi macam-macam tentang 'hubungan' mereka. Mereka hanya pergi makan siang satu kali. Tidak ada satu ucapan Daniel pun yang menunjukkan jika lelaki itu tertarik padanya sebenarnya. Atau memang dia yang berharap terlalu banyak?

Diva mendesah dan meraih boneka babi gendut berwarna pink milik Abby lalu berbaring di kasurnya yang tipis. Matanya menerawang memandang langit-langit kamar yang rendah. Jauh berbeda sekali dengan tempat tidurnya di rumah.

"Sebenarnya ada apa?"

Diva memandang Abby yang menatapnya. Tangan gadis itu melipat bajunya dengan lincah.

"Daniel menghilang."

Abby mengangkat alisnya. "Lalu apa hubungannya denganmu?"

Diva baru akan menjawab saat mimik muka Abby berubah pertanda gadis itu menyadari sesuatu. Yeah, Abby mengenal dirinya sebaik dirinya sendiri.
"Kau benar-benar jatuh cinta padanya."

Itu bukan pertanyaan.

"Kak Dave pasti tidak menyetujui hubungan kalian."

Itu juga bukan pertanyaan. Abby pasti tahu tanpa Diva bercerita. Dia juga sudah lelah menyangkal perasaannya. Dirinya pikir, dia akan baik-baik saja. Bahwa tidak akan ada yang hilang karena dia bahkan baru saja mengenal Daniel. Tetapi cinta punya misterinya sendiri.

"Cari tempat di Indonesia saja. Jangan ke London. Aku tidak mau ke sana. Lagipula pasporku tidak bisa dipakai lagi."

Mata Diva berbinar. Tangannya dengan lincah langsung mencari-cari tempat liburan di ponselnya. Ya, sejak tadi memang dia mencoba merayu Abby untuk menemaninya ke London. Dia butuh pergi dari kota ini sejenak. Sayangnya dia lupa jika Abby benci London.

"Abs! Kau akan jatuh cinta dengan ini!" Teriak Diva seraya menunjukkan ponselnya pada Abby. "Anambas," sebutnya kemudian dengan penuh kesyahduan.

Abby tersenyum. "Let's go, there!!"

......

Pulau Anambas adalah salah satu gugusan pulau yang termasuk di wilayah Kepulauan Riau. Pulau ini terletak tepat di Laut China Selatan dan berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura. Terdapat sekitar dua ratus tiga puluh delapan pulau namun hanya ada dua puluh enam pulau yang dihuni. Kepulauan Anambas adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Natuna yang beribukota di Pulau Tarempa.

Mungkin bagi wisatawan domestik, Kepulauan Anambas masih terdengar asing. Berbanding terbalik dengan para wisatawan luar negeri yang malah tertarik untuk datang ke pulau ini. Bahkan, Pulau Anambas sudah mendapat predikat sebagai pulau tropis terbaik pertama di Asia Tenggara.

THE ONETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang