Chapter 2

6 0 0
                                        

"Mama, mengapa mama sangat cantik?" Tanyaku sambil menatap cermin. Mama yang sedang menyisir rambut ku dibelakang hanya tersenyum memperlihatkan lesung pipi nya yang membuatnya semakin terlihat cantik. Mata coklat terangnya semakin membuatku hanyut dalam mengagumi kecantikan mama.

"Aku ingin secantik mama, tapi bahkan aku tidak mempunyai lesung pipi." ucapku sambil mengerucutkan bibir.
Mama yang mendengar hanya bisa tertawa pelan mendengar celotehan ku.

"Sayang, apakah kamu tidak melihatnya? Kamu sangat cantik. Bahkan melebihi mama." balas mama dengan suara merdunya

"Aku rasa tidak. Mama yang paling cantik," ucapku masih dengan bibir yg mengerucut sambil menatap cermin

"Tidak, tidak. Lihatlah.. kamu mempunyai mata coklat terang seperti mama. Hidungmu terlihat sangat pas dengan pipi bulatmu. Bibir mungilmu terlihat lucu dengan warna senada mawar. Oh, dan lagi rambut hitam kecoklatan yang bergelombang wangi strawberry." ucap mama sembari mencium rambutku dan menggelitik perutku yang membuatku tertawa cekikikan.

"Tapi dari itu semua, yg terpenting adalah ini," lanjut mama sembari menunjuk dadaku. Lebih tepatnya sesuatu yang ada di balik dadaku.

"Hatimu.."

______

Aku mencoba untuk membuka mataku yang terasa sangat berat. Pening menghampiri kepalaku dan menyiksa ku sangat hebat. Dengan mengerjapkan mataku, aku berusaha meninggalkan kegelapan yang selama ini menyelimutiku. Terlihat seberkas cahaya saat aku mulai membuka mataku. Aku berharap menemukan senyuman mama di tengah cahaya ini. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali , melihat langit langit ruangan yang di dominasi warna putih ini. Aku mencium bau obat-obatan beriringan dengan rasa haus yang menghampiriku.

"Sayang. Kau sudah bangun?" Tanya seseorang di sampingku tak dapat menyembunyikan suara bahagianya.

"Dimana aku?" Tanyaku sambil melihat keadaan sekitarku. Aku tak dapat mengalihkan pandangan ku dari infus yang berada di sebelah kiri ku serta perban yang melilit di sebelah tangan kananku.

"Sebentar, biar kupanggilkan suster," ucap orang itu sembari berusaha menekan tombol yang ada di dinding belakang kepalaku.

"Mama?" Panggilku pada orang yang saat ini berada di sampingku. Pengelihatanku belum sepenuhnya kembali. Aku berusaha mengerjapkan mata dengan cepat agar dapat melihat dengan jelas orang yang saat ini berada di sampingku. Aku harap itu mama. Aku sangat merindukannya.

"Ini nenek sayang, nenek ada disini." ucap orang itu bergetar.

"Nenek? Kenapa menangis? Dimana mama? Dimana kak Leon dan papa?" Tanyaku saat aku sudah mendapatkan pengelihatanku dengan jelas. Aku mencoba bangun untuk mencari keberadaan keluarga kecilku. Dimana mereka? Ah apakah mereka juga dirawat sama sepertiku? Mengingat sebelumnya kami mengalami kecelakaan yang parah, sama sepertiku, pasti sesuatu terjadi juga pada mereka.

"Jangan bergerak nak, kamu baru saja sadar, kepalamu pasti sangat pusing kan?" Tanya nenek khawatir. Pertanyaan nenek sontak membuatku refleks memegang kepalaku yang semakin berdenyut. Rasanya sakit sekali saat aku meraba perban yang melilit kepalaku.

"Dokter," lanjut nenek diiringi dengan suara langkah kaki yang memasuki ruanganku. Sekilas aku melirik dokter dan beberapa suster yang menghampiriku.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya dokter memastikan sembari memeriksa detak jantungku menggunakan alat yang kutahu bernama stetoskop.

"Pusing dan haus." kataku serak

"Ya, tentu saja kau pasti haus. Suster bisa tolong ambilkan segelas air?" Tanya dokter tersebut pada salah satu suster dibelakangnya yang disertai anggukan.

The EyeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang