Part 8

13 2 0
                                        

HAPPY READING :) MAAF KALO ADA TYPO :)



Buliran keringat masih mengalir dari sekujur wajah oriental Mikha. Tidak peduli bagaimana pandangan orang lain tentang dirinya sebagai seorang perempuan yang seharusnya terlihat bersih dan anggun. Karena, saat ini dia butuh sesuatu untuk menyalurkan emosi dari dalam dirinya. Dan, pilihannya jatuh pada futsal. Satu-satunya permainan yang dapat dilakukannya sekarang ini.

Merasa sudah cukup, Mikha pun menghentikan permainannya dan sekarang dia sungguh menginginkan sesuatu yang dingin untuk meredakan emosi dan suhu badannya yang terasa panas terkena sinar matahari. Sesaat kemudian, ia merasakan sebuah halusinasi dari apa yang ia pikirkan barusan. Pipi kananya merasakan ada sesuatu yang dingin menempel padanya. Mikha segera menolehkan kepalanya ke kanan untuk memastikan bahwa ia tidak berhalusinasi.

"Eh... Kok masih disini? 'Kan udah jam pulang." Tanya Mikha kepada Bryan, orang yang ternyata memberikannya sebotol air mineral dingin. Dalam hati, ia bersyukur karena ia tidak berhalusinasi dan tanpa aba-aba dari Bryan dia langsung meminumnya hingga tersisa setengah botol lagi.

"Thanks, Yan. Oh ya, lo belum jawab pertanyaan gue tadi."

"Gue tadinya niat mau pulang, eh pas mau ke parkiran gak sengaja ngeliat lo lagi main futsal sendirian. Ya udah, gue jadi nungguin lo selesai main terus cari air dingin buat lo." Ucap Bryan disertai sebuah senyuman di bibirnya.

"Oh. Peduli amat sama gue." Balas Mikha dingin. Sebenarnya, ia merasa canggung dengan Bryan setelah kejadian di kantin tadi dan ditambah lagi saat ia menangkap tatapan Stella yang terlihat cemburu kepadanya ketika Bryan ingin menenangkannya. Mikha hanya tidak tahu harus bagaimana.

"Jutek amat, ih. Tapi, kebetulan ada lo disini jadi gue gak perlu buang-buang pulsa buat nelpo n lo. Gue mau cerita sama lo."

"Cerita aja. Segala minta izin lagi lo."

"Gue jadian sama Stella. Hari ini." Seketika raut wajah Mikha terlihat tegang namun, ia segera menetralkan kembali raut wajahnya. 'Stop it, bitch. Lo gak mungkin cemburu sama Bryan. Dia temen lo. Lo dan dia udah selesai.' Batin Mikha dalam hati

"..."

"Gue juga lagi berantem sama dia hari ini. Dan itu, gara-gara..."

"Gara-gara gue ya 'kan?" ucapan Bryan terpotong karena Mikha sudah bisa menebaknya. Kini, ia mengerti arti dari tatapan Stella saat di kantin tadi. Stella cemburu. Temannya cemburu hanya karena masalah sepele. Cowok. "Bisa lo cerita ke gue, lo dan Stella gimana?"

"Maksud lo?"

"Cerita ke gue kenapa kalian bisa jadian, sejak kapan kalian dekat, dan yang paling penting, kenapa ada gue diantara kalian? Salah gue apa?"

"Kita.. maksud gue, gue dan Stella dekatnya belum lama ini. Kita deket sejak awal masuk SMA, dan hari ini kita baru jadian setelah gue nembak dia tiga hari yang lalu. Sebelumnya, gue udah nembak dia tapi, ternyata ditolak katanya 'Gue gak bisa jalanin hubungan dengan cowok yang hatinya maih nyangkut ke cewek lain. Gue akan terima lo setelah gue liat lo bisa melupakan cewek itu'"

"Makanya gue sekarang udah jarang hubungi lo dan ngobrol sama lo di sekolah, dan setelah dia liat perubahan gue ini, dia terima gue hari ini. Tapi, karena dia baca chat di grup dan dia liat apa yang gue lakuin ke lo waktu di kantin, dia marah sama gue."

"Jujur, gue bingung harus gimana sekarang. Gue gak mau dia jauh dari gue, gue gak mau dia marah sama gue, gue gak mau, Ka."

"Lo gak mau dia marah dan jauh dari lo? Berarti lo harus menjauh dari gue, Yan. Lo pergi dari gue. Lo tinggalin gue. Lo gak perlu jadi temen gue lagi. You have no choice, Bryan." Ucap Mikha dengan santai namun, terdengar seperti sebuah perintah yang harus dilakukan demi kebaikan semua orang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 23, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Without YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang