Sudah tiga hari berlalu semenjak Jaejoong berhasil mengungkap kebohongan Yunho. Ia seolah membuat dinding pertahanan khusus ketika laki-laki tersebut tiada henti mengejarnya seperti orang kesetanan. Jaejoong bersikap seolah Yunho ialah makhluk tak kasat mata. Setiap kali Yunho mengejarnya setelah kelas berakhir atau sepulang sekolah, Jaejoong akan selalu berhasil menghindar darinya dengan berbagai alasan
Saat ini jadwal Jaejoong mengajar dikelas Yunho pada jam terakhir. Jangan sampai setelah kelas selesai, Yunho kembali memaksanya untuk mendengarkan omong kosongnya lagi. Rasanya gendang telinga Jaejoong ingin berbuih mendengar alasan yang sama terdengar kembali dari mulutnya
Hanya iseng! Memangnya Jaejoong itu Gold Digger walau sekalipun Yunho jujur padanya, dia akan langsung menjerat bocah sialan itu untuk menguras harta kekayaannya? Yang benar saja. Dia memang matre but still classy
Meskipun begitu, Jaejoong diam-diam masih memperhatikan Yunho. Khususnya bagaimana perkembangan pembelajaran murid bodoh itu. Ia selalu rajin bertanya pada Lee Sooman. Guru pengganti yang sekarang menjadi pendamping belajar Yunho. Ia terkejut saat mendengar bahwa Yunho tidak pernah sekalipun absen dalam jam pembelajarannya
Seperti sekarang misalnya. Setelah selesai menuliskan rumus dipapan tulis, Jaejoong menyuruh anak-anak untuk mencatatnya sebelum ia menghapus dan menuliskan rumus yang baru. Ia melihat kesekeliling dan matanya terpusat pada Yunho yang sedang memperhatikan dirinya
Ia gugup dan langsung menyampirkan rambut depannya kebelakang telinga sambil menunduk. Menghindar dari tatapan itu. Ia berjalan kaku menuju kursi dan menghitung sampai lima dalam hati. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati kini pandangan Yunho tidak tertuju lagi padanya
Ia melihat bahwasanya Boa tengah berbalik kebelakang. Menghadap Yunho. Mereka terlihat sangat akrab ketika sedang berdiskusi belajar. Jaejoong yang semula ingin menegurnya seketika mengurungkan niatnya saat Yunho memanggilnya, " Jae Saenim"
"Ya?" jangan pernah mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan. Itulah yang selalu muncul dikepala Jaejoong layaknya iklan baris di Televisi. Ia bersikap dingin memandang mata musang itu, "Ada yang tidak kau mengerti?"
"Jawabanmu tidak lengkap nol koma sekian. Dan kau tidak boleh menggenapkan angka itu karena soal kita adalah dalam hitungan uang bukan barang" Jaejoong tidak merasa murid kurang ajar ini patut diancungi jempol. Yang ada ia malah bersikap semakin menyebalkan menjawab koreksi Yunho
"Terima kasih Yunho-sshi sudah mengoreksi jawabanku dengan kalkulatormu. Tidak semua orang bisa menghitungnya sampai sedetail itu"
'Siapa sekarang yang seharusnya dipuji huh? Otak encer ku yang meleset nol koma lebih atau otak dengkulmu itu?' Batin Jaejoong sambil menyeringai kearah Yunho yang terlihat tenang menanggapinya
Tidak seperti laki-laki dewasa yang kekanakan ini, Yunho mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, "Aku kan hanya ingin memberitahumu saja"
Jaejoong tahu arti tersirat seperti apa yang sedang Yunho lontarkan padanya, "Ya setidaknya aku tahu kau punya keahlian lebih dari sekedar membohongi orang" semua murid menyaksikan kejadian ini dengan pandangan bertanya-tanya
Mereka tidak mengerti ada masalah apa dengan keduanya. Mereka sama-sama tahu jika Yunho itu anak pembangkang dan Jaejoong adalah guru yang tegas namun ramah diluar kelas. Mungkin Jaejoong bersikap seperti guru-guru lainnya yang tidak mampu menghadapi kenakalan Yunho
"Baiklah, pelajaran hari ini cukup sampai disini. Lima menit terakhir ini akan kubagikan kertas jawaban kalian. Bersiaplah..." raut wajah Jaejoong berubah menjadi ceria saat ia merasa penghuni kelas terdiam memandangi ketegangan yang terjadi antara dirinya dengan Yunho. Jangan sampai Jaejoong mengingkari moto kerjanya sendiri
KAMU SEDANG MEMBACA
My Bad Student (Completed)
Fanfiction*Perpanjangan ijin menulis Fanfic ini sudah didapatkan (Kazuha Yamato) Mempunyai murid badung seperti Jung Yunho siapa yang tahan? Selain mesum, ternyata pria itu juga usil dan manja. Karena nilai-nilainya yang buruk dan jarang...
