Putri menyiapkan perban dan kotak P3K, ia mendekati seorang gadis kecil. Wajahnya berlumuran darah. Ia bersihkan luka menganga di kepalanya. Gadis itu tak sedikitpun menangis.
"Kamu anak yang pintar," tukas Putri. Gadis itu hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Putri melangkah melewati seorang anak laki-laki yang terbujur kaku. Paramedis menutup wajahnya dengan kain putih. Betapa hatinya teriris melihat pemandangan itu. Perang, hanya menyisakan kepedihan mendalam.
"Putri, selanjutnya ke kamar 3021 ya!" Dokter Anna Ia mengikut dari belakang. Seorang anak kecil tak sadarkan diri terkulai di atas pembaringan. Dokter Anna segera mengecek detak jantungnya.
" Nanoid 72," perintahnya.
Putri dengan segera mengambil biochips berukuran nano itu dan memasukkannya ke dalam tubuh gadis itu.
"Dok, anak ini kenapa?" tanya Putri ingin tahu. Tidak seperti anak lainnya, anak ini tidak memiliki luka sedikitpun.
"Ia terkena Hipoksia." ujar Dokter.
"Aku sangat menyesalkan tindakan Nordik yang ingin memusnahkan manusia." Putri berujar sambil meneteskan air mata.
Nordik sang penguasa benar-benar egois. Ia menyerang seluruh manusia yang akan pindah menuju mars. Berjuta-juta manusia terjebak dalam ballistic capsules.
Pesawat mereka terjerembab entah dimana. Im
Anak itu mulai menggerakkan tangannya.
"Bertahanlah," ujar Putri memegang tangan gadis itu.
"Namamu siapa?" tanyanya sambil tersenyum.
"Nabilla." Ia mulai leluasa bernapas perlahan.
Perang antara penguasa bumi dan penguasa Nordik membuat para manusia berbondong-bondong ingin meninggalkan bumi. Asteroid-asteroid yang di lempar ke bumi telah meluluh-lantakkan negeri hijau itu. Mereka adalah yang tersisa, kebanyakan dari mereka terluka parah dan nyaris mati karena kekurangan oksigen.
Beberapa pesawat bahkan sudah hancur berkeping, bergesekan dengan asteroid, mengalami penurunan tekanan dan berhamburan di angkasa.
Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan menyerempet serpihan pesawat lainnya. Beberapa dari anak-anak tersedot dalam ruang vakum.
Ini sudah tujuh belas jam mereka terjebak. Mereka hanya memiliki sedikit cadangan air dan makanan. Mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama.
"Kak, sampai kapan kita di sini? tanya Nabilla padaku.
"Tidak lama lagi." Putri menjawab dengan menggantung, karena ia pun tidak tahu sampai kapan mereka akan bisa bertahan.
"Kamu istirahat ya," Putri menepuk pundaknya untuk memberinya semangat. Ia mengangguk, menghela napas dan memejamkan matanya.
Putri menuju pintu dan menekan tombol kunci. Pintu metal itupun terbuka.
"Hai Put, kemana saja dari tadi aku cari," tanya Bintara khawatir.
"Oh ya, banyak anak-anak yang lemas." Putri menjelaskan.
"Apa kita tidak bisa balik lagi?" Putri sepertinya sudah kehilangan semangatnya.
"Tidak mungkin lagi, Sayang, pesawat kita tidak mampu naik lagi." Ia memegang lembut dagu gadis itu.
Putri sebenarnya tahu, bahwa ia harus terus bertahan. Anak-anak itu lebih lemah dari dirinya.
"Sepertinya tidak ada gangguan Nordik di sekitar sini. Aku akan mengecek keluar." ujar Bintara, seorang astronout yang juga kekasih Putri. Mereka berdua lari bersama ribuan pesawat luar angkasa lainnya menuju planet Mars.
Di tengah gempuran asteroid, pesawat-pesawat luar angkasa yang berhasil menembus atmosfir itu pun menjadi berpencar, keluar dari orbit dan mereka terjebak bersama sembilan belas awak lainnya termasuk delapan orang anak-anak.
Bintara mengenakan baju astronoutnya, mengecek keluar.
Gelap, ia tidak dapat melihat apapun selain pesawat yang dikendarainya. Angin besar menyambutnya. Ia mendaratkan kakinya ke atas daratan.
Gravitasi tanah yang dipijaknya besar sekali. Ia mendengar deburan ombak. Seperti di pantai. Sayang ia tak bisa melihat apa-apa.
Ia membuka helm astronoutnya. Ia menghirup udaranya.
'Ini sebuah planet, dan terdapat oksigen di dalamnya, tetapi ini bukan Mars.' Ia membatin.
Segera Bintara kembali ke dalam.
"Sayang, tidak ada Nordik dan konconya di luar sana!" Ia menjelaskan dengan mata berbinar.
"Bagaimana persediaan air kita?" tanyanya.
"Hanya bisa untuk dua hari lagi." ujar Putri.
"Baiklah kita baru saja mendarat, ini sebuah planet!" Tukas Bintara. Ia memeluk Putri.
"Ah, benarkah kita berada di Mars?" Putri bertanya penuh harap.
"Sepertinya bukan sayang. Namun yang paling penting, tersedia oksigen di planet ini." jelasnya.
"Ooh syukurlah." ujarnya sambil tersenyum. Putri membuka pintu pesawat dan ikut melongo keluar. Mereka hanya bisa menunggu, tidak ada jalan lain. Pesawat mereka keluar orbit dan mereka terdampar di sebuah planet tak berpenghuni.
Langit berwarna jingga mulai menampakkan diri. Warnanya kemerahan sama seperti bumi. Sekarang tampak jelas mereka berada di tepian laut dengan pohon-pohon menjulang seperti kelapa pada pinggirnya. Mereka baru saja tiba, namun sepertinya planet ini mengorbit lebih cepat pada mataharinya.
Pantai-pantai biru yang indah, sama seperti bumi. Putri memeluk Bintara, ia tak kuasa menahan bulir airmata yang mengalir di pipinya. Ia sangat tahu, mereka tidak berada di planet merah yang menjadi tujuan mereka. Namun Tuhan mengirimkan mereka ke tempat ini.
"Apakah ini surga?" tanya Putri. Ia menoleh pada Bintara. Ia merasakan pelukan Bintara sangat nyata.
"Kita masih hidup, Sayang." tukasnya.
