Suara tangis sesenggukkan Neysha tak kunjung juga mereda. Ia tidak peduli dengan tatapan keheranan para pasien—yang juga sedang dirawat di ruang UGD rumah sakit itu—yang ditujukan padanya.
Sebuah erangan halus mencelos dari bibir Alka. Pria itu perlahan membuka kedua matanya karena merasa terganggu dengan suara berisik yang tampaknya berasal dari seseorang yang berada cukup dekat dengannya.
"Ney?"
Alis Alka bertaut seiring dengan mengerasnya suara tangisan Neysha yang membuat Alka sontak terkejut dan refleks mengubah posisinya menjadi duduk. Alka meringis sembari mengusap tengkuknya kikuk ketika melihat tatapan-tatapan tak nyaman yang diberikan oleh beberapa dokter yang berjaga di ruang UGD itu.
"Lo ngebuat gue malu, Ney ... please berhenti nangis."
Neysha menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengucur keluar layaknya seorang anak kecil. Bahunya yang bergemetaran membuat Alka yakin bahwa wanita itu sudah menangis dengan waktu yang cukup lama.
"Lagian gue, kan, nggak mati, Ney ...."
Alka mengulurkan tangannya untuk menghapus sisa-sisa air mata Neysha yang hampir membasahi semua wajah wanita itu, tetapi Neysha malah menahan tangan Alka dan menarik baju bagian lengan pria itu untuk dijadikannya alas membuang ingus yang sejak tadi telah menyumbat hidungnya.
Alka meringis jijik melihat cairan bening yang lengket itu melekat di pakaiannya. Pria itu segera melepas pakaian luarnya dengan sedikit kesulitan hingga menyisakan sebuah kemeja putih polos yang menutupi tubuh bagian atasnya.
"Bahu kanan gue cuma terkilir ringan, Ney ... nggak ada yang perlu lo tangisin, palingan minggu depan juga udah baikkan."
Alka berpikir tangisan Neysha mungkin akan mereda setelah ia menjelaskan kondisi kesehatannya saat ini. Tapi, ternyata tidak. Wanita itu malah kembali mengeraskan suara tangisnya.
"Sumpah, hidung lo mirip sama hidung primata kalau lo nangis kek gini."
Terserahlah. Kini Alka hanya bisa pasrah menidurkan tubuhnya kembali sembari mendengar dan meratapi kesedihan Neysha yang tampaknya tidak kunjung juga ingin berhenti.
*
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam untuk menghabiskan cairan infus yang terpasang di punggung tangannya, Alka pun langsung diperbolehkan pulang oleh dokter yang mengawasinya saat itu.
Alka menekan sandi apartemennya sembari melirik Neysha yang berdiri di belakangnya secara diam-diam. Jujur, pria itu merasa lega karena Neysha telah menghentikan tangisannya. Tetapi, ia tidak berharap melihat tangisan wanita itu diganti dengan keheningan dan tatapan kosong seperti ini.
Rasanya hati Neysha mencelos begitu saja ketika mengetahui kebenaran, bahwa sebenarnya Alka bukanlah seorang korban tabrak lari mobil maupun motor, melainkan seorang korban tabrak lari pengguna sepeda yang tiba-tiba saja kehilangan keseimbangannya saat mengendarai benda yang tak seberapa itu.
Neysha mendorong tubuh Alka yang menghalangi pintu masuknya. Wanita itu berjalan tanpa nyawa menuju ruang tamu sederhana milik Alka dan mendudukkan dirinya di sebuah karpet berbulu berwarna abu-abu.
Kini Neysha tidak lagi bisa menopang tubuhnya dengan baik. Ia bahkan merasa kesulitan untuk mengangkat kepalanya yang entah mengapa terasa sangat berat hingga membuat dagunya terpaksa ditopang oleh meja tamu Alka.
"Ka ...."
"Apaan?"
"Tutup telinga lo sekarang."
Alka menuruti perintah Neysha dan segera menutup telinganya menggunakan kedua telapak tangannya yang ia tekan.
Pecahlah tangisannya yang sejak mereka keluar dari rumah sakit sempat ia tahan-tahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wildest Marriage
ChickLitNeysha tidak menyangka akan berakhir menjadi istri dari Alka-sahabatnya sendiri. Tetapi, rahasia yang disimpan Alka membuat Neysha bertanya, sampai kapan hal ini akan bertahan? *** Putus dari pacarnya setelah dua tahun menjalin hubungan, Neysha tida...
Wattpad Original
Ada 5 bab gratis lagi
