TEN : SO DIFFERENT

98 13 2
                                        

So Different

Mulailah tersenyum, menyapa, dan berbicara. Maka kau juga akan mulai mengenalnya. Jangan pandang dia sebelah mata, karena perspektif yang salah pada akhirnya akan menghadirkan kecewa - Adara✍

❣❣

Dara dan sohib-sohib kental Aldi seperti Saga, Ega, Devan, Kenor, dan lainnya serta beberapa rekan sekampus Jo yang sengaja di minta untuk meramaikan suasana sudah menyelesaikan acara sesi dekor-mendekor di rumah si kembar yang memang sedang tidak berada dirumah sekarang. Dara sudah mengatur rencana demi rencana, ia sengaja menyuruh kedua orang tuanya mengajak kakak-kakaknya itu untuk makan malam di luar dan mengatakan bahwa Dara akan segera menyusul karena masih sibuk merayakan keberhasilan paskibra Farin. Padahal faktanya tidak sama sekali. Bahkan Dara pun belum mengetahui bahwa apakah sahabatnya itu sepenuhnya berhasil melakukan tugas sebagai paskibraka atau tidak, karena Dara tak sempat melihat Farin dalam penurunan bendera yang dilangsungkan tadi sore.

Dara pun mengikuti interupsi Saga yang memintanya untuk menelepon Mami atau Papinya agar segera membawa Jo dan Aldi pulang.

"30 menit lagi mungkin nyampe kak, kita tunggu aja." Ujar Dara pada mereka.

"Oke kalo gitu kita masih punya waktu banyak nih, kita istirahat dulu aja deh. Pasti udah pada cape kan?" Tanya Saga pada semua insan yang turut membantu untuk acara itu.

"Iya nih, gue juga udah pegel,"

"Sama gue juga."

"Yaudah kak ayo diminum dulu, udah pada haus kan?" Tawar Dara.

"Iya nih, Ra. Haus banget malah," Kenor mengambil segelas sirup dan meneguknya sampai tak tersisa diikuti oleh yang lainnya.

"Oh iya, Ra. Kamu mending makan dulu aja deh, muka kamu dari tadi pucet banget soalnya." Ucap Saga khawatir dengan adik sahabatnya itu.

"Iya, Ra. Dari tadi gue perhatiin Lo lemas banget kayanya. Lo sakit?" Tanya Dena-salah satu teman Jo.

"Engga ko' Kak, aku gapapa. Cuma kecapean aja," Dara berusaha tersenyum.

"Oh gitu, yaudah kamu istirahat dulu deh, kalo mau rebahan dikamar juga gapapa," Tawar Dena.

Dara menggeleng. "Engga deh kak, aku disini aja nemenin kalian."

Dena tersenyum seraya menghela nafas. "Yaudah kalo gitu,"

"Kak, sorry gue telat,"

Semua lantas menoleh ke sumber suara.

Dara terbelalak.

ALFA?!! -batinnya.

"Yaelah elo, Fa. Pasti habis balapan kan Lo?" Ega menunjuk Alfa dengan jari telunjuknya.

Alfa berdecak. "Pake toa Pak Reno sono Lo ngomongnya!"

Ega nyengir sambil membentuk huruf V dengan jarinya. "Sorry brother gueh!"

"Ada yang perlu dikerjain lagi kagak nih?" Alfa memandangi seisi ruangan yang sudah dipenuhi balon, pita dan ucapan Happy Birthday yang ditempel pada dinding.

"Kagak, kalo istilah murid-murid yang mau UN mah minggu tenang lah." Kenor melipat tangannya didepan dada.

Alfa meneloyor kening Kenor. "Cie'elah.. yang udah kelas dua belas!"

Kenor nyengir seraya menggaruk-garuk tengkuknya.

"Eh btw toilet dimana ya?" Tanya Alfa.

"Tanya aja noh sama yang punya rumah." Kenor menunjuk Dara dengan dagunya.

Mendung Jangan Pergi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang