SIXTEEN : PAINFUL

95 8 0
                                        

Painful

Seringkali aku tak mengerti, antara bodoh atau apa. Mencintaimu sedalam ini tanpa ku pernah berpikir bahwa semua hanyalah sia-sia - Adara✍

❣❣

Author

Derum knalpot motor sport 800cc berwarna merah-hitam melaju dengan kecepatan sedang membawa dua insan berseragam SMA itu menelusuri padatnya jalan raya. Dengan cekatan, Alfa meliuk-liukkan setang motornya menyalip kendaraan lain. Beberapa kali Dara terhempas kedepan menabrak punggung jangkung Alfa karena rem mendadak. Dan selama beberapa kali itu juga Dara menggerutu dalam hati. Ia menyesal menerima tawaran ini.

Sampai akhirnya mereka tiba didepan rumah Dara.

"Makasih ya." Ujar Dara setelah turun dari motor dan membuka helm kemudian memberikannya pada Alfa. Dara mencoba tersenyum walaupun terasa sangat sulit.

"Iya," Alfa menerima helm itu kemudian mendongakkan kepalanya menatap Dara. "Kalo Kak Aldi besok-besok masih latian futsal, Lo bisa minta gue buat anterin Lo lagi kok."

Dara mendecih dalam hati. Enggak. Makasih! -batinnya.

"Oh iya." Balas Dara tersenyum kebohongan.

Alfa tersenyum manis. Senyum yang selalu berhasil melelehkan hati banyak perempuan namun tidak untuk Dara. Bahkan gadis itu ingin muntah saat itu juga.

"Yaudah kalo gitu, gue balik dulu ya." Alfa memasang helm di jok belakang kemudian menyalakan mesin motornya.

Dara mengangguk. "Sekali lagi makasih ya."

"Oke." Ucapnya sebelum benar-benar pergi.

Tak butuh waktu lama, Dara segera meluapkan emosinya dengan menggertakkan gigi dan meninju bayangan Alfa sambil berteriak sebal. Nafas gadis itu terdengar cukup lelah dan wajahnya merah padam. Sampai sebuah mobil merah dari arah depan mengehentikan aktivitasnya.

Kak Dion! -batinnya.

Dara menelan ludah sudah payah. Jantungnya perlahan kian lebih berirama. Tubuhnya menjadi kaku.

Gue harus apaa?! -batinnya.

Wajah Dara berubah lemah. Mobil Dion tampak semakin dekat hingga membuat gadis itu kian membeku.

Entah bisikan dari jin mana, Dara menolehkan pandangannya perlahan dan saat itu juga pandangan mereka bertemu. Dilihatnya Dion menebar senyumnya, cukup lebar. Pipi Dara bersemu merah. Dengan super percaya diri, Dara hendak membalas senyum itu tak kalah manis.

Tunggu dulu.

Kenapa secepat itu? Dion hanya menatap Dara sekilas. Dara mengurungkan senyum yang hampir merekah dan mengernyit bingung. Dara terhenyak. Ia menangkap sosok perempuan yang kemarin dilihatnya berdiri di podium sekolah dan berseragam yang sama dengannya. Itu Sean. Sial! Senyum itu bukan untuk Dara. Dion tengah asik bercengkrama dengan gadis disampingnya. Mungkin Dara yang terlalu baper, atau Dion yang salah? seharusnya Dion tak perlu memandang kearah Dara agar gadis itu tidak salah menganggap.

Tiba-tiba saja seperti ada yang retak. Apa yang dilihat Dara barusan berhasil merobek-robek hatinya. Mencabik-cabik perasaan gadis itu.

Dara melemah. Tubuhnya seolah tak lagi sanggup menopang. Ingin sebenarnya gadis itu segera berlari dan menumpahkan air mata yang sebentar lagi akan jatuh ditempat yang tak seorangpun boleh mengganggunya, namun sayang, kakinya benar-benar seperti lumpuh seketika.

Ingin tak menoleh, namun kepala memaksa. Ingin tak melihat, namun mata selalu ingin melirik.

Dan saat itu juga, Dara mendapati pemandangan yang luar biasa menyakiti hatinya. Seperti yang lalu, Dion membukakan pintu dan memperlakukan Sean layaknya puteri raja. Digenggamnya erat tangan gadis itu kemudian mereka melangkah sambil tertawa bersama. Dion mengusap-usap gemas puncak kepala Sean dan Sean terlihat mengerucutkan bibirnya. Dion merangkulnya, dirayunya gadis itu hingga membuatnya kembali tertawa. Hal itu terekam jelas dipikiran Dara. Kali ini, bahkan lebih dekat.

***

Dara menangis sejadi-jadinya. Situasi yang menguntungkan. Semua kecuali Bibi sedang tak berada dirumah. Dara bisa berteriak sekencang-kencangnya tanpa harus terkena omelan atau pertanyaan-pertanyaan dari Helena atau kakak-kakaknya.

Adara Pov

Aku sadar, aku ibarat beras bulog dan dia beras mahal. Aku ibarat imitasi dan dia emas murni. Aku hanya gadis culun yang nggak tau gaya. Hanya gadis yang nggak pinter-pinter amat dibandingin dia. Hanya gadis kaku yang susah bergaul. Nggak ada apa-apanya.

Tapi salahkan aku mencintaimu? Salahkah aku harus punya perasaan sedalam ini untukmu? Tolong jangan salahkan aku. Aku benar-benar tak ingin memilikinya. Namun dia datang begitu saja, sesukanya.

Aku tak pernah memaksa untuk dicintai. Namun kumohon, sekali saja kau peka. Tidakkah kau lihat sikapku berbeda? Apa itu tak cukup untuk membuatmu mengerti bahwa aku menyimpan perasaan ini? Aku bertemu denganmu hampir setiap hari dan kita tak pernah saling menyapa. Ya, aku selalu menghindar untuk bertemu denganmu. Karena aku kaku. Namun apa yang membuatku mengagumimu? Entahlah, toh cinta tak butuh alasan kan?

Percayalah. Perasaanku seperti dunia, yang punya masa kedaluwarsanya. Seperti cahaya langit yang tak selamanya terang, ia juga bisa redup, bahkan suatu saat akan lenyap.

***

"Sabar aja, Ra." Farin mengusap-usap punggung Dara yang baru saja menceritakan kejadian kemarin. Farin tahu jelas bahwa sahabatnya itu menangis terlalu lama, tampak dari matanya yang sembab dan hidung yang sedikit merah.

"Ra, mending Lo move on aja deh," Saran Farin padanya. "Gue jadi cape sendiri ngeliat Lo." Sambungnya lagi.

"Gue mau move on, Ra. Tapi gimana?" Tanya Dara dengan raut wajah frustasi. Nadanya terdengar tak berdaya.

Hening sejenak.

Farin menjentikkan jarinya. "Gue tau!" Farin tersenyum menatap Dara. "Gimana kalo elo nyibukin diri ngurus kesenian? Dengan begitu Lo bisa lupa, secara perlahan.." Farin tersenyum sinis.

Dara menatap Farin. Berpikir sejenak dan perlahan senyumnya mengembang. "Boleh juga."

Farin merogoh tasnya, mengambil secarik kertas. "Nih, gue ada program-program yang bisa Lo pake, siapa tau bermanfaat. Gue dapet dari kakak gue kemaren,"

Dara menerima kemudian membacanya. "Oke," Dara tersenyum. "gue pake."

Farin tersenyum lega.

Salah satu bahagiaku adalah melihatmu, kembali tersenyum. Sahabat.





Give your voment guys!!!

Saran dari kalian sangat membantu

Dukungan dari kalian adalah semangatku!

Disempetin dulu walau besok ulangan seni musik😌

Mendung Jangan Pergi Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang