Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

[7] Why?

9 1 0
                                        

•    •    •

#Velera POV

Mataku mengerjap menyesuaikan cahaya remang lampu taman. Siluet orang itu semakin jelas seiring langkahnya yang mendekat. Jaket denim gelap, postur tinggi tegap, dan... rahang yang mengeras menahan emosi. Bau mint bercampur aroma maskulin yang sangat familiar langsung menyapa indra penciumanku.

"Madd?!" pekikku kaget. Setengah tak percaya melihat patung es berjalan ini menyusulku.

"Lo ngapain di sini? Bukannya lo lagi main game sama Kak Dava?" tanyaku bingung. Aku merapatkan hoodie keluaran Vayaclo kesayanganku karena angin malam ini rasanya lumayan menusuk tulang.

Madd sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Mata tajamnya menatap lurus melewati bahuku, tepat ke arah Arga yang masih duduk santai di atas motor sport-nya. Hawa di sekitar mereka mendadak berubah dingin dan awkward banget. Serius deh, kalau tatapan bisa membunuh, mungkin Arga udah tinggal nama sekarang.

"Pulang." Suara Madd terdengar berat dan datar, namun ada penekanan absolut di setiap suku katanya. Tangannya langsung mencengkeram pergelangan tanganku. Nggak terlalu keras, tapi cukup untuk membuatku sadar kalau dia nggak sedang bercanda.

"Biasa aja kali, Madd," suara Arga memecah ketegangan. Ia turun dari motornya dan tersenyum miring. Senyum yang biasanya bikin cewek-cewek satu sekolah klepek-klepek, entah kenapa malam ini kelihatan sedikit... berbeda? "Gue cuma ngajak Vera nyari angin. Lo nggak usah se-posesif itu dong. Dia temen lo, bukan pacar lo."

Madd mendengus sinis. "Bukan urusan lo."
"Madd, lepasin ih! Lo apa-apaan sih?!" Aku berusaha menarik tanganku, jujur aja aku sedikit malu ditarik-tarik begini di depan Arga. Red flag banget kelakuan temen masa kecilku ini.
"Gue bilang pulang, Velera."
Arga melangkah maju, berniat meraih tanganku yang lain, tapi Madd dengan cepat menarikku ke belakang punggungnya. Melindungiku.

"Jangan. Pernah. Sentuh. Dia." Desis Madd dengan tatapan membunuh.

Aku terdiam. Jantungku tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Ada sesuatu dari nada suara Madd yang membuatku merinding. Perpaduan antara marah dan... takut kehilangan?

"Oke, chill, Bro." Arga mengangkat kedua tangannya ke udara, seolah menyerah, tapi senyum sinis itu tidak luntur dari wajahnya. "Ver, gue balik duluan ya. Sorry kencan kita diganggu bodyguard lo. See you tomorrow."
Tanpa menunggu balasanku, Arga menyalakan mesin motornya dan melesat membelah jalanan malam, meninggalkan kepulan asap dan tanda tanya besar di kepalaku.

Begitu motor Arga hilang dari pandangan, Madd langsung menarik tanganku menuju mobil hitamnya yang terparkir tak jauh dari taman.
"Madd, lo tuh kenapa sih?! Sumpah ya, lo tuh-"
"Masuk." Potongnya cepat saat membukakan pintu penumpang. Karena malas berdebat di pinggir jalan, aku menurut dan masuk ke dalam mobil dengan bibir mengerucut sebal.

Keheningan menyelimuti perjalanan kami. Aku membuang muka ke arah jendela, menatap lampu-lampu jalanan Jakarta yang berlalu lalang. Kesal. Iya, aku kesal banget. Dia tiba-tiba datang, marah-marah nggak jelas, dan merusak mood-ku.

Aku melirik Madd dari sudut mataku. Ia mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan kirinya memijat pelipisnya kuat-kuat. Wajahnya yang biasa sedatar triplek kini terlihat pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahinya.
Rasa kesalku perlahan menguap, digantikan oleh kepanikan.
"Madd? Lo... lo sakit?" tanyaku pelan.
"Nggak." Jawabnya singkat, tapi suaranya terdengar bergetar menahan sakit. Ck, dasar cowok egois keras kepala!

Tiba-tiba, Madd membanting setir ke kiri dan mengerem mobilnya mendadak di bahu jalan. Tubuhnya menunduk, bersandar pada setir mobil sambil mengatur napasnya yang memburu.

"Madd! Lo kenapa?! Jangan bikin gue takut dong!" Aku panik bukan main. Tangan mungilku refleks menyentuh pundaknya. Panas. Badannya demam, tapi dia berkeringat dingin.

Madd menoleh ke arahku perlahan. Tatapannya sayu, pandangannya tidak sefokus biasanya. Tapi yang membuat nafasku tercekat bukanlah wajah pucatnya, melainkan tangannya yang tiba-tiba terulur menyentuh pipiku. Dingin.

"Jangan deket-deket cowok itu, Ver," bisiknya lemah.
"A-arga? Emangnya kenapa sih? Dia baik sama gue, Madd. Nggak kayak lo yang bisanya bikin gue jantungan." Aku mencoba menutupi kegugupanku dengan sedikit ngegas, padahal aslinya hatiku udah disko dangdut di dalam sana.

Madd memejamkan matanya, menghela napas berat seolah ada beban ribuan ton di pundaknya. Saat ia membuka mata, ada sebersit luka dan ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Karena gue nggak mau ngeliat lo hancur, Ver." Ibu jarinya mengusap lembut pipiku. "Dan gue... gue nggak sanggup kehilangan alasan gue buat tetap hidup... untuk kedua kalinya."
Deg.
Dunia seakan berhenti berputar. Tatapan matanya yang kelam seolah menyedotku masuk ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Kata-katanya barusan... apa maksudnya?
Belum sempat aku memproses semuanya, Madd menjatuhkan kepalanya di atas bahuku. Ia pingsan.
"MADD!! ALDO MADDISON!! BANGUN BEGO!!"

•    •    •

#Arga POV (Tyo)

Dari kejauhan, aku menghentikan motorku di balik rimbunnya pohon besar. Mengamati mobil hitam milik Madd yang terparkir darurat di pinggir jalan.
Aku tersenyum miring. Rasanya menyenangkan melihat kakak tiriku yang sok sempurna itu mulai kehilangan kendali.

Velera. Gadis cerewet kesayangannya itu ternyata adalah kelemahan terbesarnya. Siapa sangka bocah cengeng tetangga sebelah yang dulu sering kuganggu kini bisa jadi kartu AS-ku untuk menghancurkan Madd?
"Ini baru permulaan, Kakak tersayang," gumamku sinis sambil menyalakan pemantik api. "Lo udah rebut kebahagiaan gue 10 tahun lalu. Sekarang giliran gue yang ngambil satu-satunya alasan lo buat senyum."
Game on, Madd.

[TBC]

•    •    •

HUAAAA AKHIRNYA BISA UPDATE LAGIII!!
Gimana gimana part ini? Bikin greget gak sih liat kelakuannya si Arga/Tyo? Udah mulai keliatan kan red flag-nya dia?

Maaf banget ya man-teman kalau part ini agak baper gimanaa gitu. Silva nulisnya sambil dengerin lagu sedih soalnya wkwk🎧💔

Jangan lupa buat selalu tinggalin jejak VOMMENTS ya! Satu komen dari tmn" tuh moodbooster banget buat ngelanjutin ceritanyaa.

See you on the next chapter! 👋
Hope you like it ❤️

With love, Silva.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MADDISONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang