4 . Tragedi Aldebaran

18 2 1
                                        


" Lean !"

"Kok chat aku ga dibales?"

"Udah ada cowok lain ya?"

"Hey"

"Off ya?"

"Yaudah"

"Dah"

"Kayaknya aku gak akan on lagi"

"Gatau sampai kapan"

"Dah"

From Someone

●●●

Kenapa selalu begini? Adakah cara lain dalam otak kamu? Apa tak ada niatan dalam batinmu ? Apa rasa malasmu terlalu menguasai hingga kamu memberi pesan yang singkat ?

Jauh berbeda denganku
Aku bisa bikin notif line jadi 999+
Ketimbang kamu yang singkat

"Aku pun malas jika kamu malas" ucap batinku seraya mematikan ponselku

1.

Selasa

Tepat pukul 5.34 aku melangkahkan kaki ku menuju sekolah . Bukankah terlalu pagi? Ya memang ku lakukan ini dengan sengaja . Lagipula aku tak mau merepotkan Om Wisnu , kasian dia

Aku memutuskan untuk berjalan kaki dipagi yang dingin ini . Kendaraan sangat sepi , hanya angin yang menerpa kulitku meski sudah terbalut oleh jaket hitam ini

Saat aku berjalan pada trotoar , aku melihat ada sebuah tempat yang sangat membuatku menarik , dan aku memutuskan untuk mengunjungi tempat tersebut

"Gak apalah lagipula ini masih jam 5.45 ini " ucapku seraya melangkahkan kaki menuju tempat tersebut

"Alharon XXVVI"

Itulah nama tempat yang saat ini sedang ku kunjungi . Tempatnya tidak terlalu berada pada pinggir jalan . Melainkan masuk ke sebuah jalan jalan sepi tepat berada di jalan pintas yang kugunakan untuk ke sekolah .

Tempat ini dari depan tak ada nama tempat tersebut , tak ada motor atau mobil yang terparkir . Dari depan terlihat bangunan Khas Belanda dengan cat putih . Ini seperti rumah pada jaman penjajahan dulu .

Aku memasuki tempat ini dan aku terkejut melihat pengunjung disini sedang duduk santai pada sebuah sofa

"Halo , Nona . Selamat datang "
Ucap seorang wanita paruh baya yang menyambut kedatanganku

"Ada ruangan yang cocok untuk usia mu , mari ikuti saya " ajak wanita paruh baya itu yang menggunakan kebaya berwarna putih itu

Ia membawaku pada sebuah ruangan yabg terlintas seperti kamar namun ada sebuah balkon yang menyambung dengan sebuah kebun yang sangat sejuk

" Disini kami punya aturan " ucap wanita itu

"Apa itu ?" Tanyaku pada Wanita bernama Lilis itu

" Anda hanya diperkenankan untuk mengabadikan foto menggunakan kamera milik tempat ini , tidak boleh menggunakan ponsel .
Kedua , jika anda membawa kendaraan sebaiknya diparkir jauh dari sini . Ketiga jangan memberi tahu siapapun tempat ini .Mengerti Nona ?" Tanyanya padaku

"Baiklah " jawabku

"Baik silahkan menikmati " ucapnya lalu tersenyum seraya meninggalkanku dengan menutup pintu

2

"Siapa namamu?" Tanya Pria Tua dengan memengang sebuah gagang sapu

"Saya Lean " jawabku dengan wajah datar

Sebuah Adaptasi Gagal Dari Dilan : Resdian *ehem*Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang