I Can't. ㅡ Ver. 3

292 33 10
                                        

04 10 2034

Duduk sendirian di stasiun kereta yang sepi ini.
Hanya tersisa beberapa orang karena malam sudah larut.
Suara perempuan yang sedang mengumumkan informasi terdengar dari audio yang terpasang sepanjang stasiun.
Kereta terakhir akan
segera tiba.
Tidak lama dari itu, kereta terakhir datang.
Aku menutup kedua mataku.
Meremas botol minumku.
Lalu,
Terdengar suara perempuan kembali dari audio, bahwa kereta terakhir telah berangkat.
Aku menghela nafasku pelan dan melangkahkan kakiku pergi keluar dari stasiun.
Meremas tiket kereta dan membuangnya kedalam kotak sampah.

Malam sudah terlalu larut.
Jalanan sudah sepi.
Hanya semilir angin malam yang menemaniku.
Merapatkan mantelku karena udara sekarang sangat dingin.
Menatap langit yang mendung.
Apakah kau akan menangis lagi?
Ah, ya aku tahu.
Sekarang musim hujan.
Wajar saja kau akan menangis.
Aku tetap berjalan, sedikit bersenandung kecil.
Dan,
Aku merasakan airmatamu telah jatuh secara perlahan.
Sekarang kau sudah menangis ya.
Lalu airmatamu bertambah besar dan deras membasahi tubuhku.
Aku berlari mencari tempat berlindung.
Aku melihat ada sebuah tempat berlindung, lalu aku berlari kesana.
Dan tibalah aku disebuah teras toko kelontong yang sudah tutup.
Menggosok kedua tanganku untuk memberikan kehangatan.
Menempelkan kedua telapak tanganku pada kedua pipiku.
Aku benar kedinginan.

Lalu hal yang tidak pernah kusangka,
seorang lelaki datang menuju kearahku untuk berlindung dari hujan yang deras.
Lelaki itu..
Meremas kedua ujung jaketnya yang basah, ia melepaskan ranselnya dan menaruhnya dibawah.
Lalu melepaskan jaket dari tubuhnya.
Surai rambutnya, hidungnya, matanya, bibirnya.. Benar-benar mirip.
Apakah aku sedang berhalusinasi?
Tubuhku bergemetar sekarang.
Lelaki itu tersenyum padaku.
Tersenyum lembut menatap manik mataku.
Apakah itu kau Seungcheol?
Atau.. Aku hanya berhalusinasi?
Aku mencoba meraih tangan lelaki itu, tetapi lelaki itu langsung menghilang begitu saja.
Airmataku keluar begitu saja dari pelupuk mataku.
Aku menangis sambil meremas dadaku.
Menangis pilu ditemani langit yang juga menangis dengan derasnya.

Aku benar-benar merindukanmu sehingga halusinasi ini terjadi padaku.











.




08 10 2034

Sejak malam itu, aku sering mengalami halusinasi.
Halusinasi tentangnya.
Tentang kekasihku yang telah pergi.
Aku Menghela nafasku pelan dan menatap cangkir berisikan teh vanilla.
Aku merasakan sebuah elusan pada punggungku, lelaki itu tersenyum pelan menatap wajahku yang pucat.

"Jeonghan-ah.. Bisakah kau melihatku?"

Aku menggeleng.
Aku tidak bisa.

"Aku tahu kau menderita akan kepergiannya. Dan.. Bisakah kau melihatku? Bisakah aku menggantikan posisinya? Bisakah aku melindungimu? Bisakah?"


Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.
Lelaki itu menghela nafasnya lalu memeluk tubuhku, mengusap punggung belakangku dengan pelan.

"Bisakah aku?"

"Tidak Jisoo-ah. Tidak bisa."

My Thoughts ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang