3 - Never Change

25 6 1
                                    

   Kevin menghela nafasnya. Ia hanya bisa melihatnya, tak berani mendekatinya. Ia takut jika ia mendekatinya, maka hal buruk akan terjadi padanya. Melihatnya tersenyum sudah membuat Kevin lega bahwa ia bahagia dan tak ada yang mengganggunya.

"Deketin kek... masa cuma diliatin mulu," ucap Leo menyeringai.

"Ya, terserah gue. Kalo dia nggak mau di deketin?" Ucap Kevin menaikkan sebelah alisnya.
"Udah tanya?" Ucap Leo menatap Kevin remeh.
"Udah,"
"Sejak kapan?"
"Barusan,"
"Perasaan lo disini terus, gak kemana - mana,"
"Ya mungkin lo gak liat pergerakkan gue,"
"Mata gue gak kemana - mana!"
"Kurang cepat,"
"Lo kira-"

"UDAH SELESAI NGOMONGNYA?" Tanya bu Amira sambil tersenyum ramah. Eh? Masih jam pelajaran toh? Batin Leo.

"Udah kok bu," jawab Kevin tersenyum sopan. Bu Amira hanya menatap mereka dengan sinis lalu kembali menjelaskan. Kevin pun merasa lega bu Amira kali ini tidak menghukum mereka. Ia menoleh ke arah Leo dan menatapnya tajam. Yang di tatap hanya nyengir kuda. Gini - gini dia juga pintar ya? Batin Kevin.

👣

   Waktunya pulang sekolah. Lisa pun buru - buru membereskan buku - bukunya. Lisa bergegas keluar kelas seraya berjalan mencari kelas kedua temannya. 12 empat ya? Batinnya. Akhirnya Lisa menemukan mereka sedang berjalan bersama dan nampaknya mereka sedang asyik berbicara.

"Hai, ada apa? Lagi asyik nih gak ngajak aku," sapa Lisa cemberut. Yang di sapa hanya menoleh lalu menyengir ke Lisa.

"Gak papa. Cuma lucu aja di kelas kita siswa nya selalu membuat onar," ucap Laura sambil menahan tawa.

"Wah, seru ya di kelas kalian? Di kelasku biasa aja. Malahan terlalu fokus di pelajaran. Ada juga yang mau kenalan. Tapi, ada beberapa yang dulu sekelas sama aku jadi ya biasa aja. Eh, tapi ada 1 orang yang selalu buat para guru marah saat jam pelajaran mulai," ucap Lisa panjang lebar.

"Oh ya? Siapa tuh?" Tanya Livi penasaran.

"Hmm... Lio, Lea, Le..o? Leo kali," jawab Lisa mengangkat bahu acuh.

"Maksudnya buat para guru marah?" Tanya Laura sambil menaikkan sebelah alisnya. Lisa pun menjelaskan sikapnya si Leo di kelasnya kepada kedua temannya. Livi hanya bertanya sedikit mengenai dia sedangkan Laura tidak peduli sama sekali.

"Iya - iya, terserah kamu deh. Mending kita pulang aja," ucap Laura seraya berjalan meninggalkan keduanya. Lisa dan Livi pun menurutinya dan mengekor di belakang Laura.

👣

   Pulang sekolah Kevin pergi ke kafe favoritnya dimana ia sering menyendiri dan kadang membuat PR disana. Ia memesan minuman kesukaannya yaitu Hot Chocolate Coffee. Menurutnya, tempat itu membuatnya nyaman karena tidak terlalu ramai. Dan bila sedang ramai, ia lebih memilih duduk di pojokkan lalu mendengarkan musik dengan headphone nya. Musik yang ia dengar juga santai (pop) dengan volume yang rendah. Kevin tidak suka dengan keramaian walau ia menimbulkan keramaian di sekolah dan ia tidak suka dengan musik yang keras alias rock. Inilah salah satu kebiasaanya yang hanya diketahui olehnya. Nongkrong di kafe sendirian untuk menghilangkan rasa stress nya.

"Gue tau lo sering kesini," ucap seseorang yang mengganggu lamunan Kevin. Kevin yang merasa diganggu hanya mengabaikannya. Ini pertama kalinya ia diganggu di kafe ini. Tidak pernah ada yang mengganggu ia melamun kecuali para pelayan. Ini membuatnya kesal karena orang itu terus berbicara padanya sedangkan Kevin tidak mendengar satu kata pun darinya. Akhirnya, dengan wajah jengkel Kevin melihat orang tersebut. Kevin terkejut melihat orang yang ada dihadapannya disini. Setelah 2 tahun lamanya, akhirnya seseorang menemukannya disini, di tempat favoritnya untuk menyendiri. Dengan ragu, Kevin bertanya pada orang itu.

"Ka-kamu ngapain disini?" Sial..

"Gue se-" ia berhenti untuk sementara. Nampaknya ia sedang berpikir.

"Aku cuma mau pesan minuman. Nyoba aja, katanya minuman disini enak. Tapi malah ketemu kamu Vin, ngapain?" Ucap orang itu. Kevin menatapnya curiga.

"Jangan pake aku-kamu dong! Geli dengernya tau!" Sahut Kevin menatapnya geli. Kalo gak kebiasa pake aku-kamu, gak usah maksa kali! Batin Kevin menatap orang itu jijik.

"Lah, kan lo yang duluan. Jadi gue ngikutin aja daripada nanti lo rasa lo itu terlalu lebay pake aku-kamu segala," ucap orang itu santai seraya duduk di depan Kevin. Ini orang ngejek atau gimana ya? Pake duduk segala lagi! Siapa juga yang suruh dia duduk?! Batin Kevin kesal.

Buset, ini orang natap gue gitu amat. Gue ada salah apa coba? Batin orang itu sambil menatap kekesalan di wajah Kevin sedari - tadi.

"Siapa yang nyuruh lo duduk?" Sahut Kevin dengan wajah kesal. Yang ditanya cuma menatap Kevin datar. Kapan ada ekspresi?! Batin Kevin.

"Loh, kok pake lo-gue sih? Pake aku-kamu dong Vin biar so sweet," ucapan orang itu membuat Kevin mual.

"I-iya deh, ngomong - ngomong kok kamu gitu sih? Jijik tau. Beda drastis sama biasanya," ucap Kevin menatap orang itu ngeri.

"Masa sih? Terserah kamu deh. Eh, ada yang mau aku tanyakan daritadi. Kamu ngapain disini?" Tanya orang itu sambil menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum.

"Hah?" Pertanyaan orang itu membuat Kevin kembali tersadar bahwa ia sedang ada di kafe favoritnya yang tenang itu. Dan seseorang mengetahuinya....

👣


   Seharusnya ini menjadi hal favoritnya. Yaitu malam yang tenang dengan bintang yang menghiasi langit itu. Tapi tidak, kali ini ia tidak menyukai malam yang tenang ini. Ia merasa gelisah dan entah apa alasannya. Satu hal yang pasti, ia tidak bahagia. Mengetahui bahwa ia bisa mendapat malam yang tenang ini dengan kehilangan seseorang, ia tidak bahagia mendapat malam yang tenang kali ini. Ia butuh keramaian dari mereka. Ia butuh kebersamaan dari mereka. Tapi kenyataannya, ia sendirian. Meminta maaf sudah tidak bisa ia lakukan. Ini kesalahannya. Rasa bersalah itu sudah tidak bisa dihilangkan. Dan sekarang, mereka sudah memberikan ketenangan yang diinginkannya. Tidak ada lagi keramaian yang tidak disukai olehnya di malam hari. Tidak ada lagi tawa yang jelek itu. Tidak ada lagi pertengkaran yang dibuat oleh mereka. Tapi mengapa? Mengapa harus dengan cara seperti ini? Apa yang bisa ia lakukan hanya merasa bersalah karena ia tidak pernah membuat mereka bangga. Merasa bersalah karena tidak bisa membuat keharmonisan keluarga. Merasa bersalah karena,
Tidak pernah ada untuk kalian....

Tak terasa air mata keluar dari mata biru indahnya.

👣


TBC

How Far I'll GoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang