Kevin Syahputra
Mempunyai keluarga yang sempurna membuatnya berpikir bahwa dia laki - laki yang beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Arbi. Tapi dugaannya salah, ia tidak beruntung sama sekali. Malahan setelah mengetahui kejadian itu, Kevin merasa dihantui oleh rasa bersalah yang sangat besar karena perbuatan 'Arbi'. Arbi adalah marga keluarganya. Tapi ia malu memberitahukan orang - orang tentang marganya. Semua orang hanya mengetahuinya sebagai Kevin Syahputra, tidak lebih.
"Woi, Vin, melamun terus. Mikirin apa? Cewek? Tumben," ucap teman baiknya Melki yang selalu menggodanya kalau ia melamun.
"Ck, berisik lo. Kapan lo berhenti ganggu lamunan gue?" Ucap Kevin kesal.
"Cieee, pake lo-gue. Barusan pake aku-kamu, emangnya buat apa ganti - ganti gitu Vin?" Ucap Leo yang baru saja masuk kelas bersama Vino.
"Lamunin apa?" Ucap Vino yang terkesan tidak peduli.
"Terserah gue mau lamunin apa!" ucap Kevin dingin.
"Wow, wow. Slow bro, kita nggak maksa. Biasanya lo selalu santai," ucap Melki sambil menepuk - nepuk pundak Kevin lalu beranjak keluar kelas bareng Vino.
"Emangnya-"
"Semua siswa harap duduk!" Ucap bu Venny yang sudah berada di meja guru.
"Sejak kapan?" Batin Leo yang masih mematung di tempat ia berdiri. Bu Venny menatap Leo yang belum juga duduk.
"Kamu tuli?? DUDUK DI TEMPAT DUDUK KAMU, SEKARANG!!!" Teriak bu Venny yang langsung membuat Leo lari terbirit - birit menuju tempat duduknya, takut dihukum. Bu Venny hanya menghela nafas panjang.
"Sekarang keluarkan buku kalian," ucap bu Venny yang sudah duduk di kursi guru.
***
"Bosan tau di kelas nungguin lo. Kantin yuk," ucap Melki yang dari tadi hanya mengomel.
"Setuju. Lo berdua ikut?" Ucap Leo menatap Kevin dan Vino. Kevin hanya menanggapinya dengan deheman sedangkan Vino hanya mengangguk. Mereka pun bergegas pergi ke kantin (Melki dan Leo). Sesampainya di kantin,
"KEVIN!!"
"VIN, BARENG KITA AJA!"
"AKU TRAKTIRIN!"
"KEVIIINNN!!!!"
"NANTI AJARIN GUE MAIN FUTSAL YA!?"
"PULANG BARENG YUK, VIN!"
"Kevin!"
"KEVIN!"
"KEVIN!"
"Ada yang bisa kubantu?" Ucap Kevin sambil tersenyum berusaha sabar daritadi. Ucapan Kevin mampu membuat seluruh siswi berteriak histeris. Melki, Leo, dan Vino hanya geleng - geleng kepala.
Ini sih biasa
Kevin yang sibuk membuat fansnya bahagia tidak melihat sekitarnya. Ada seseorang. Melki yang sudah memesan semangkuk bakso melihat orang itu.
"Eh, Vin! Liat, ada siapa tuh?" Ucap Melki menyenggol lengan Kevin seraya menunjuk orang itu dengan dagunya. Kevin pun menoleh ke arah yang di tunjuk Melki. Kevin terkejut dengan kedatangannya. Ia hanya memandangnya dengan kagum. Disana, berdiri seorang gadis cantik yang sudah ia kagumi dari ia kelas 10. Mereka sekelas, tapi nggak dekat. Mengetahui Kevin yang jarang bersosial kecuali kepada teman - temannya.
"Dia selalu cantik. Dan selalu baik hati. Aku tak pernah melihatnya berubah. Dan aku harap ia tidak akan pernah berubah. Maafkan aku Fel," batin Kevin seraya menghela nafas. Melki yang melihatnya hanya menatapnya bingung.
"Woi, jangan melamun terus! Makan dulu gih. Keburu bel masuk. Di kelas lo juga bisa ngeliat dia sepuasnya," ucap Melki sambil menepuk pundak Kevin. Mereka pun menyelesaikan makan mereka tepat saat bel masuk berbunyi.
"Gue duluan," ucap Vino meninggalkan mereka bertiga.
"Tuh anak gak ada sabar - sabarannya aja. Baru aja kelar makan," ucap Leo yang terus memandang kepergian Vino.
"Lo bego atau gimana ya? Udah bel masuk!" Ucap Kevin seraya berlari ke kelasnya.
"Sialan! Nanti pelajaran ibu Venny! Cabut," ucap Melki meninggalkan Leo sendiri.
"Tunggu dulu, ngapain gue diem disini kayak orang bego?" Ucap Leo sambil menunjuki dirinya. Leo baru menyadarinya, bahwa ia akan telat masuk pelajaran bu Amira yang lemah lembut, tapi suka menghukum siswa - siswi. Dengan segera Leo berlari ke kelasnya.
👣
TBC
Please leave vote and comment 😊 thanks

KAMU SEDANG MEMBACA
How Far I'll Go
Novela Juvenil"Tidak ada yang mengerti..." "Aku pastikan tidak ada yang mengetahuinya," Hidup seorang Velisya Maura bisa dibilang sempurna. Apapun ia miliki. Namun setelah kematian kedua orangtuanya, ia merasa hampa. Ditambah lagi dengan pengkhianatan yang dilak...