Maaf baru bisa update 😋
rada gimana gitu.. 😆
aku udah agak, gimana ya? susah gitu buat bikin chapter baru.
dangkal otaknya.. 😂 nggak kok masih bisa mikir..
Ini murni cerita karanganku yah
Gak nyontek cerita sebelah
Jangan lupa vomment yah 😉
Happy Reading 📖
👣
Apa sebaiknya aku memberitahunya?
"Jadi prihatin gue liatin lo Vin. Jadi suka melamun gitu," ucap Leo khawatir. Duh, jangan sampe itu anak sakit jiwa terus gila. Eh, sakit jiwa sama gila sama gak sih? Batin Leo bimbang.
Kevin hanya mengerang kesal pada Leo. Inilah sifat baru Leo, mengganggu Kevin. Entah mengapa sifat khawatir Leo selalu timbul ketika Kevin melamun. Sedangkan kalau temannya lagi diserbu satu sekolah ia hanya acuh tak peduli. Lagipula bukan dia yang di pukuli, pikirnya. Leo hendak bertanya sesuatu pada Kevin tapi Sely teman sekelasnya mendahuluinya.
"Eh, Vin, tau gak soal nomor 5? Lo kan pintar, pasti tau dong. Jelasin dikit boleh gak?" Ucap Sely dengan mata memelas. Leo mendengus kesal. Tanpa memprotes Kevin melakukannya. Leo menatap Kevin tidak percaya. Kevin menjelaskan rumus - rumusnya secara detail. Yap, mereka sedang belajar Matematika. Pelajaran yang tidak disukai oleh Leo. Tapi terkadang ia juga menyukai pelajaran Matematika. Kenapa? Karena pak guru tidak pernah menghirukan murid - murid yang berisik maupun berkeliaran kelas. Guru favoritnya Leo dan kawan - kawan. Kevin, Leo, dan teman - temannya masuk IPS. Kevin dan Leo di kelas 12 IPS 1, sedangkan temannya Melki dan Vino di kelas 12 IPS 4.
Bagaimana mereka bisa berteman? Mereka sudah berteman sejak SMP. Dan bagaimana mereka bisa berteman saat itu? Itu lain cerita.
"Leu, nanti istirahat kita ngumpul bareng yah, panggil si Melki sama Vino juga. aku pengen membicarakan sesuatu," ucap Kevin dengan raut wajah serius. Leu adalah panggilan singkat untuk Leo. Apa namanya terlalu panjang sehingga masih saja harus diberi nama panggilan?"Lah, elo pengen ngobrol pake ngerencanain segala. Jangan pura - pura bego ya, kita tiap hari selalu barengan kecuali pas bel masuk kelas. Nah, sekarang, lo pake bilang - bilang kalo nanti harus ngumpul. Lo sakit?!" Sahut Leo menanggapi. Salah makan kali, yah? Batin Leo.
"Leo, ada apa di belakang sana? Kenapa kamu teriak - teriak begitu?" tanya pak Radit. Sok peduli lo, pak Radit! Batin Leo berteriak.
"Ehh.. Ng-nggak papa kok pak! Tadi saya cuma... cuma khawatir aja! Soalnya katanya si Kevin pusing, pak! Jadi, saya sontak kaget aja," ucap Leo bohong dengan wajah sok imutnya. Dialah rajanya berakting. Disaat ia terlambat masuk sekolah, entah apa yang ia lakukan sampai - sampai bu Maulyana atau sering dipanggil bu Lyana memberikannya izin masuk sekolah. Kevin sempat berpikir kalau mungkin bu Lyana itu kelewat polos atau rada bego gitu. Tapi, mana mungkin? Sedangkan bu Lyana itu termasuk daftar guru killer alias galak. Di sogok kali, yah? Pake rokok gitu... HAHAHA mana mungkin pake rokok. Terus apa? Pikir Kevin saat itu.
"Ya nggak, Kev?" Tanya Leo menatap Kevin penuh harap sambil mengedipkan sebelah matanya. Kevin yang cukup peka pun mengerti dan memulai aktingnya.
"Iya, pak! Saya rasa kepala saya pusing gitu Jadi nggak bisa fokus sama bapak," ucap Kevin sambil memegang kepalanya dan pura - pura meringis sakit.

KAMU SEDANG MEMBACA
How Far I'll Go
Teen Fiction"Tidak ada yang mengerti..." "Aku pastikan tidak ada yang mengetahuinya," Hidup seorang Velisya Maura bisa dibilang sempurna. Apapun ia miliki. Namun setelah kematian kedua orangtuanya, ia merasa hampa. Ditambah lagi dengan pengkhianatan yang dilak...