"Selalu seperti ini." Naruto menggumam, gadis cantik itu sekarang dalam balutan seragam kebesaran nya, kacamata bulat tebal, membuat sapphire nya tidak tampak dengan jelas.
Naruto terus menggerutu dalam hati, gadis itu melangkah dengan kepala menunduk, ia harus terlihat meyakinkan, sesuai dengan perintah ayahnya. Kalau saja tidak ada insiden beberapa tahun yang lalu ia tidak akan berpenampilan seperti ini. Konyol.
"Hey lihat itu Senpai cupu dari kelas 3-A." kupingnya sedikit gatal, mendengar namanya disebut.
"Cih aku bahkan malu mengakuinya Senpai, tidak seperti Sakura-Senpai," balas temannya.
Naruto tak bereaksi ia sudah terbiasa, walaupun dalam hatinya ia ingin sekali membenturkan mulut siswi itu yang telah berbicara sembarangan.
Hampir sepanjang koridor ia harus merasakan cemoohan ataupun perlakuan tak menyenangkan dari murid yang membencinya. Ia menyesal, mengungkapkan perasaannya pada Utakata dulu, kalau ia tau kejadiannya akan seperti ini. Pemuda pujaannya itu bahkan tak ingin bertemu walau hanya sekedar berpapasan dengannya. Membuat rasa kagumnya perlahan luntur, Naruto tidak ingin menjadi perempuan bodoh yang menyukai laki-laki seperti itu.
Ia memasuki kelas, gadis itu duduk di kursinya yang berada dekat dinding. Suasana kelas yang tenang membuat ia bisa melamun sepuasnya, Naruto cukup beruntung menempati kelas yang diisi orang orang pendiam yang tidak suka mencampuri urusan orang lain, walaupun begitu terasa kompetitif setidaknya lebih baik daripada kelas penuh siswa dengan hobi menggunjing.
.
.
Sesi pembelajaran berakhir, gadis itu merapikan buku yang telah dipenuhi rumus-rumus kimia, jam istirahat telah tiba, Naruto meraih kotak bekal yang telah maid siapkan, nasi goreng dengan double telur. Tujuannya tentu saja belakang gedung sekolah, tempat favorit nya. Namun ditengah koridor tepat samping gedung olahraga berdiri sekumpulan siswa, dalam sekali lihat pun Naruto tahu jika mereka adalah berandalan sekolah yang sering dibicarakan, uh...pakaian mereka pun jauh dari kata rapi.
"Sepertinya aku harus memutar," ucapnya lirih, berurusan dengan mereka mungkin berasa di list terakhir—saat ini— untuk Naruto.
.
.
"Kau lama Dobe, aku sudah menunggumu sejak tadi." Ia hanya memandang malas Sasuke, sahabatnya itu duduk di bangku besi tua.
"Baka ini bahkan baru lima menit sejauk bel berbunyi," jawabnya menanggapi keluhan berlebihan Sasuke, seperti ditinggal pacar saja dengkus nya.
Gadis itu mulai membuka bekal, ia sudah lapar, dengan lahap ia menyantap menu makan siangnya yang terasa pas di lidah. Mereka duduk berhadapan onyx kelam Sasuke terus memperhatikan gerak gerik sabahatnya. Gadis itu terlihat lucu dengan tampilannya sekarang, andai saja tidak kenal dengan Naruto sejak dulu, mungkin juga ia akan terkecoh dengan penampilan nerd si gadis Namikaze.
.
.
"Teme, setelah lulus aku ingin ke Todai, kau juga kesana," ucap Naruto menggantung, "Kita tinggal bersama ya?"
Uhuk...
Sasuke menepuk dadanya cukup keras, apa-apa an dengan ucapan itu. Sasuke tahu Naruto berotak cerdas namun begitu polos—idiot—dibeberapa hal, ia memijit pangkal hidung, Sahabat dengan pemikiran absurd nya. Ia lihat manik si Namikaze, sejak kapan Naruto memakai lensa kenapa mata sahabatnya itu terlihat berkilau.
'Aku bisa mati jika itu terjadi.'
"Tidak bisa Dobe, aku ingin mengikuti pelatihan seperti ayah," jelas Sasuke menolak, pemuda itu sedikit kaku mengucapkan kata ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ambigu (FemNaru)
FanfictionHanya sepenggal kisah bagaimana Sasuke dan Naruto akhirnya jadian. Desclaimer: Masashi Kishimoto
