CEO

22 3 0
                                    

Seluruh kantor mempersiapkan penyambutan pimpinan baru perusahaan ini, semua sibuk sana sini benar-benar melelahkan. Rapi bersih wangi itu lah keadaan kantor ini sekarang.

"Tumben bangat ya kantor kita, wangi gini. " terdengar celetukan seseorang di belakangku

"Benar itu, kaya presiden aja yang datang lihat itu persiapannya berlebihan." terdengar lagi salah satu temannya

Langsung ku jawab "Bukannya ini juga menyambut presiden direktur." tanpa menoleh

"Anak kecil, diam saja. "

Rasanya ingin menyahut tapi perut nggak persahabatan langsung saja aku berlari ke toilet. Benar-benar tak terduga kenapa pasti sekarang sih.

Selesai ke toilet aku ke lokasi tadi untuk ikut menyambut, tapi apa yang terjadi mala kosong nggak ada orang sama sekali. Ku hampiri mang Ujung yang lagi bersih-bersih untuk menanyakan semua ini. Katanya sih sudah selesai apa aku lama di toilet atau emang menyambutannya cepat. Aku melangkah menuju ruang kerja.

"Woi, loe kemana aja tadi?" Anya langsung menayaiku

"Dari toilet, sumpah nggak kuat, sakit bangat ini perut. " menjelaskan

"Untung loe nggak ada, sumpah ya itu CEO LB, cantik sih tapi kog galak gitu ya." Leka menimpalih

"Bukannya galak tapi tegas, namanya juga ketua CEO se-Indonesia. " mba Tara sekarang berbicara

"Masa iya mba? Huis hebat doang, pantesan LB di segani di mana-mana." Reina kagum dengan sosok CEO itu

"Gue dengar-dengar sih, s1 lulusan oxford, s2 harvad, waow super duper deh. " sekarang giliran Gita

"Hebat, bukan cuma itu, dia juga belum merit." Leka masih menyambung gosip

"Siapa yang mau dekatin kalau hebat gitu,  sebelum kenalan juga tu para laki-laki minder duluan. " masih juga Anya melanjutkan

"Kalau di lihat-lihat ya, CEO itu cantik bangat, tinggi putih berwibawa tapi sayang galak." Gita menyambung gosipnya Anya

"Benar tu nggak ada semyum-senyumnya, irit ekspresi beda kaya yang satunya siapa namanya, yang akan pimpin kantor kita"

"Ibu Kiara Larasati. " Leka menjawab

"Benar tu baik murah senyum lagi, mudahan royal deh bisa lancar minjam duit." Reina bersuara

"Udah-udah gosipnya sekarang kerja. " mba Tara membubarkan kerumunan gosip

Aku cuma terdiam menjadi pendengar setia karena nggak ikut tadi jadi tidak tau apa yang terjadi. Rasanya tenggorokan aku kering mungkin dari tadi belum minum air, aku pergi mengambil air putih ternyata dispensernya belum di sini. Dasar mang Ujung pasti lupa deh aku melangkah keluar untuk mengambil keluar. Di dekat dispenser aku mengingat sudah beberapa hari ini tidak bertemu pocong apa dia sibuk ia. Biasanya juga ribut dengan stiker-stiker yang tidak jelas di Line atau tidak misscall di tengah malam benar-benar makhluk gentayangan tapi tumben.

"Kalau ambil air hati-hati doang, jadi tumpah kan. "

Menoleh ke arah suara " astagfirullah, baru juga nyebut namanya udah nongol aja ni orang. " terkaget apa yang di lihat

"Kebiasaan deh, melamun mulu." merapikan map yang di pegang

"Wait..... Ini kan tempat kerjaku, kog kamu ada di sini? " sambil berfikir keras

"Kamu kerja di sini?" kaget

"Aku yang tanya kamu duluan, kenapa kamu balik tanya. " makin curiga

"Oh itu, ngambil map." memperlihatkan map

Mendekati Clau "Kamu kurir? Bukannya kamu gengster." menyipitkan mata

"Hahahaha, aduh kamu ini, suka ngaco kalau ngomong, mulai sekarang nggak usah deh nonton film lagi, otak kamu udah kecuci tu. " menunjuk kepala Dinda

"Enak aja, emangnya otak aku pakaian kotor, terus ngapain ke sini."  bingung

"Kan aku udah bilang, ambil map, udah ah gih sana kerja, nanti atasan kamu nyariin. Aku juga buru-buru, mesti nganterin ni map. " berlalu meninggalkan Dinda seorang diri

'Aku yakin sekarang dia salah satu gengster' batinku sambil menyipitkan mata. Tapi tunggu apa pimpinan baru ini ganggester juga dia kan dari arah sana. Benar-benar mesti di selidiki ini.

Aku masih berkutat dengan fikiranku tentang pocong sang kurir gengster. Kalau di drama korea yang ku tonton biasanya para gengster akan menyembunyikan identitas mereka, aku mesti menyelamatkan pocong gimana-mana pun aku sayang sama dia. Tunggu kenapa ada kata sayangnya? Tau ah yang penting misi menyelamatan pocong. Mesti cari drama korea tentang gengster-gengster ini biar tau langkah selanjutnya.

Aku clinga clingu melihat sekitar takut ada Arya atau mas Radit. Hari ini tidak mau berurusan dengan kedua makhluk gila yang bikin sakit kepala, tingkah mereka bikin elus-elus dada benar sudah gila. Cepat-cepat aku berlari meninggalkan kantor. Di dekat warung kecil yang menjual beraneka makanan dan minuman aku bersembunyi. Ku lihat sepintas seperti sosok yang ku kenal, pocong dengan siapa itu? Kalau di lihat-lihat itu cowok tinggi samar-samar seperti bukan penduduk asli indonesia campuran. Mereka berbincang dekat mobil sport warna biru. Dengan senyum manis Clau naik dalam mobil dan pergi, lagi-lagi gonta ganti mobil.

Lama menunggu angkutan umum akhirnya datang juga, pulang ku terus mandi tidak lupa makan dan tidur.

Belum sempat memejamkan mata terdengar nada panggilan dari handphone, aku langsung saja  mengangkat.

'Shit! Ini video call? ' kaget langsung lihat layar handphone - Dinda

'Hahahaha, sumpah muka kamu lucu, kenapa rambut kaya singa gitu. ' tertawa puas - Clau

'Gila... Nggak lucu tau. ' menarik selimut dengan kesel - Dinda

'Hahahaha, pemandangan langkah, gini ya kalau anak kecil mau tidur, cup cup jangan ngambek. ' tertawa puas - Clau

'Tau ah bodo.' makin kesel - Dinda

'Pintar' masih tertawa lepas - Clau

'Ngapain sih video call tengah malam gini, mau pamitan ke alam lain, gih sana pergi, hus hus. ' - Dinda

'Cuma say halo aja.' - Clau

Sambungan terputus benar-benar makhluk gaib se'enaknya sendiri. Tak kenal waktu mengganggu saja. Ku lirik jam weker sudah jam 01.00 pantes saja dia muncul.

Smile LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang