Claudya Bernard

18 3 0
                                    

"Ini tempatnya?" tanya Claudya ketika mereka tiba di depan kafe Mentari.

Kiara mengangguk  "Ini tempat tongkrongan karyawan gue, sehabis pulang kerja." dengan melirik sekeliling kafe

Claudya tersenyum melihat interiornya "Loe pernah ke sini sebelumnya?" masih memperhatikan isi ruangan kafe

Kiara menggelengkan kepalanya "Belum pernah, cuma sering dengar tentang kafe ini." tersenyum

"Ok kalau gitu. " pergi meninggalkan Kiara

Kafe Mentari memang unik desain bangunannya hingga membuat pengunjungnya takjub dan merasa nyaman berada di dalamnya.

Tiba-tiba Claudya menghampiri Kiara yang lagi asik menikmati secangkir coklat  "Yuk balik ke kantor, urusan gue udah selesai di sini."

"Urusan apan Ya?" mengejar Claudya yang berlalu begitu saja

Kini mereka di dalam mobil BMW berwarna putih yang di kemudikan Claudya, Kiara cuma terdiam tanpa banyak pertanya. Karena dia tahu sahabatnya yang satu ini paling tidak suka di ganggu bila lagi menyetir. Untuk membunuh rasa jenuh Kiara menyalakan radio, terdengar syair-syair indah milik Michael Buble 'Home'.

Sesampainya di gedung LB Claudya menyuruh Kiara turun tanpa basa basi sama sekali. Begini lah sifat asli Claudya Bernard agak sedikit dingin dan begitulah kata sahabat-sabahatnya. Angkuh arogan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, tegas mengambil keputusan misterius smart dan cantik di pandang mata itu lah sekilas tentang dirinya.

*****

"Hai, sorry telat. " sambil duduk

"Gue udah ngasih tau loe beberapa kali, jangan suka janji kalau nggak bisa." sambil memandangi leptot

"Kan gue udah bilang sorry, ya mana gue tau kalau macet, baru juga dua kali dengan ini. " memperbaiki posisi duduk

"Hm, langsung saja, gue nggak ada waktu." masih tetap fokus dengan leptopnya

"Yampun Ya.... Gue aja baru duduk, nawarin minum ke. " protes

Claudya langsung berdiri membereskan barang-barangnya di atas meja.

Dengan refleks Renata memegang lengan Claudya "Tunggu dulu Ya, ok fine, gue minta maaf udah telat datang, loe duduk dulu, gue jelaskan maksud dan tujuan gue, janjian di sini ma loe." terlihat panik

"Ok, silahkan. " mengambil botol air mineral yang di atas meja

"Heran deh gue ma loe, nggak ada berubahnya sama sekali. Gini Ya, anak-anak mau ngadain party, dan tempatnya di puncak. Gue udah beberapa kali hubungin loe masalah ini, tapi susah bangat." mengambil handphone dalam tas "Loe sih sibuk mulu, heran gue, coba sekali-sekali loe ngumpul ke, ma kita-kita."

Langsung motong pembicaraan "Gue sibuk, loe tau sendiri kan pekerjaan gue."

"Iya gue tau tapi kan sesekali Ya, nggak tiap saat, loe kayaknya perlu refresing. Ikut ya Ya, pleas...... "

"kapan? Asal jangan bentrok aja sama kerjaan gue."

"Weekend kog acaranya. " meyakinkan

"Gue nggak punya kata weekend, semua hari sama, jam kerja."

"Oh ya, gue lupa, loe kan wanita karir. Ok deh ntar gue hubungin waktunya kapan. "

Setelah urusannya selesai Claudya pergi melanjutkan urusannya yang lain, hari ini akan sibuk sampai malam banyak yang mesti di lakukan. Rasanya lelah itu yang di rasakan tubuh Claudya tapi tidak dengan tekad dan keinginannya, harus melampaui batas kemampuannya harus bisa lebih unggul dari pemikiranya dan yang pasti harus lebih keras menjadi yang nomor satu di hidupnya.

Belum sempat sampai tujuan Claudya menghentikan mobilnya sejenak seperti melihat sesok yang di kenalinya samar-samar tapi siapa ia? Claudya turun dari mobil menghampiri sosok itu, benar dia mengenal orang itu Dinda yang lagi berada di halte.

"Ada yang bisa di antar?" berada di belakang Dinda

"astagfirullah, pocong! Bikin kaget aja. " tersentak

"Hahahaha, makanya jangan melamun."

"Apan sih, bisa nggak sih, sekali aja jangan bikin kaget, kalau mau muncul pakai kode gitu." cembetut

"Satpol pp kali pakai sirine, ngapain di sini? Kaya anak hilang. "

"Mau joget di sini, ih udah tau halte tempat nunggu angkutan, masih tanya."

"anak kecil juga tau kali,  halte itu apan opst.... Sorry kalau di sini ada anak kecil. " sambil melirik Dinda

"Tau ah, bodo."

"pintar dong, ini kan bukan arah rumahmu? Kog bisa di sini sih? " curiga

"Nyasar."  dengan nada lemes

"Hahahaha, itu kan, apa aku bilang, anak kecil itu nggak boleh pergi sendirian. " tertawa puas

"Puas puas, ketawa aja ampe gigi kering." kesel lihat tingkah Claudya

"Udah yuk ikut aku. " menarik tangan Dinda

"Hadeh, kebiasaan main narik orang sembarangan." menyipitkan mata

Meninggalkan halte pergi kesuatu tempat yang jauh dari keramaian. Di sebuah danau mereka kini duduk berdua sambil memandang jauh kedepan.

"Pocong ngapain sih ke sini?"

"Brisik deh, diam nikmati aja hambusan angin begitu sejuk, benar-benar damai. " memejamkan mata dan menarik napas panjang

"Tapi pocong." berhenti berkata-kata sambil memandangi wajah Claudya, heran wajah itu berbeda dengan yang di lihat sebelumnya seperti menyiratkan sesuatu. Begitu indah dan damai melihatnya benar-benar beda "Indah." tanpa sadar

"Apanya yang indah?" tersadar

"Hah? Oh i-itu alamnya ya alamnya indah sekali. " sambil menggaruk kepala yang tidak gatal untuk menghilangkan grogi

"Emang indah, sejuk lagi nggak ada polusi damai tempatnya."  berdiri memeluk tubuh sendiri

"Kamu sering ke sini? " ikut berdiri

"Nggak juga, kalau lagi pingen aja baru ke sini." memejamkan mata "Coba deh kamu  rasakan, udarah seperti bercerita tentang alam yang bersedih karena kehilangan sesuatu, tak ada yang bisa menghiburnya. Dan akhirnya alam tersenyum begitu manis karena gemuru angin datang mengajaknya bermain." terdiam sejenak dan tersenyum

"Pocong, ngomong apa sih? Gagal paham ni. " bingung dengan perkataan Claudya "Pulang yuk, serem deh jadi keingat sama film horor gitu, tiba-tiba ada hantu di bawa air danau ih serem."  langsung berlari meninggalkan Clau

"Dasar anak kecil, tungguin. " menyusul Dinda ke mobil

Smile LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang