[Ending]

427 46 24
                                    

"A─APA KAU GILA? Masih ada banyak orang di dalam gedung ini, dan demi Tuhan, masih ada aku! Tidak satupun dari kami bertanggung jawab atas karmamu! Nonaktifkan bom itu atau kau akan membunuh kita semua, dasar kau bajingan─"

"Aku tidak bisa melakukannya meskipun aku mau Mr. Milton," selanya tajam, "Bom waktu itu tidak bisa di nonaktifkan. Bahkan meskipun kau memiliki pasukan anti bom, tingkat keberhasilanmu hanya 0,08%. Aku tahu itu, aku yang merakitnya sendiri." Setiap katanya seperti es. Dingin, menyakitkan, tetapi nyata dan didasarkan oleh kebenaran. Kenyataan bahwa mungkin hidupku akan berakhir kurang dari dua jam lagi menghujam diriku.

Perasaan yang menguasaiku setelah itu adalah kesedihan. Kesedihan yang menggetarkan seluruh indraku, yang hanya pernah kurasakan sekali selama hidupku; saat aku mendengar bahwa orangtua kandungku akan bercerai. Aku mencengkram sisi tubuhku seakan aku akan terburai apabila aku melepaskannya. Pandanganku perlahan buram oleh air mata. Wajah-wajah orang yang kukenal terlintas di benakku. Mulai dari Ren, saudara kembarku yang sedang menungguku. Kedua orangtuaku yang tidak pernah kuanggap lagi. Sahabat-sahabatku di MIT. Bahkan wajah-wajah musuhku, orang-orang yang kubenci. Airmataku mulai merebak.

Semuanya terasa begitu dekat beberapa saat yang lalu, kenapa sekarang itu semua terasa begitu jauh?

Hari esok, tahun yang baru terasa begitu nyata saat itu, tetapi kenapa sekarang aku hanya bisa melihat air mata?

Kenapa semuanya terasa begitu berharga ketika hidupmu akan berakhir?

Aku terisak, airmata membasahi pipiku dengan setiap tetesnya. Aku hanya menangis, membiarkan luapan emosiku mengalir keluar bersama dengan airmataku. Dingin. Rasanya sakit.

"Kau bilang kau selalu ingin menjadi seorang pahlawan," kata Sehun tiba-tiba. "Seorang pahlawan tidak menangis." Aku mengusap mataku yang lembap dan tertawa sinis.

"Memangnya, ini semua salah siapa?" tanyaku sarkastis. Kebencian merambati tubuhku tanpa terkontrol. Sehun adalah orang yang harus bertanggung jawab. Dia.

SEHUN CORNWALLIS.

"Salahku," jawabnya datar. Kata itu seharusnya ia ucapkan dengan rasa bersalah. Seharusnya dia menyesal dengan perbuatannya. Harusnya dia merasa bertanggung jawab atas seluruh kematian yang akan disebabkannya. Tapi tidak. Ia mengucapkan kata itu tanpa emosi, dengan tatapan kosong yang sama seperti saat ia menatap ke luar jendela. Aku menggeretakkan gigiku geram, berusaha keras menelan luapan perasaan yang membuncah di kepalaku.

"Dan kenapa, kalau aku ini berhak mengetahui jawabannya, kau memberitahuku soal ini? Semuanya akan lebih mudah kalau aku tidak tahu bukan, Mr. Cornwallis?" tanyaku ketus. Mataku melebar. Apakah karena dia... merasa bersalah padaku...?

"Aku hanya merasa kau berhak tahu," balasnya. Kedua mata itu sekarang tidak berusaha menghindariku lagi. Meskipun begitu, aku masih tidak dapat membaca perasaan apa yang berada di baliknya. Mata itu adalah mata yang telah lelah. Mata yang telah melihat terlalu banyak penderitaan. Aku kembali berpikir. Mungkin sebenarnya aku kasihan padanya. Mungkin aku bersimpati padanya.

Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa dia telah memasang bom waktu di gedung ini, dan aku tidak bisa keluar dari lift terkutuk ini.

Waktu terus berjalan, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk dan menunggu. Menunggu apa? Dua hal sebenarnya. Penyelamatan atau maut. Jujur saja, aku ragu pintu lift ini akan terbuka sebelum Malam Tahun Baru.

"Apa kau percaya pada Tuhan?" tanyanya tiba-tiba. Aku mendongak. Biasanya aku tidak akan menganggap pertanyaan macam ini serius, tapi di saat-saat seperti ini aku benar-benar memikirkannya. Lagipula, hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.

Feuerblume (New Year eve tragedy)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang