Budidayakan Vote sebelum di baca yak :)
Hargai juga karya Author dengan jejak Vote tiap chapter
*****
"Pagi yang cerah, cepat bangun! Dasar kebo!" Pekik Artleta seraya mengguncang-guncangkan badanku.
Aku berusaha membuka kedua mataku perlahan, kepedihan dan panas terasa di semua bagian mataku. Aku berusaha menggerakkan tanganku, sama sekali tak kuat ku gerakkan. Badan ku serasa diikat menggunakan rantai besi gang kuat. Tulang punggungku serasa mau patah. Kepala ku pusing, sangat pusing. Bahkan, keringat dingin bercucuran menghiasi wajah dan tubuhku. Aneh, padahal suhu AC sudah dingin, tapi aku masih saja berkeringatan. Apa aku sakit?
"Kau kenapa? Mata mu merah, wajahmu sangat pucat dan kau sangat berkeringat." Ucap Artleta.
"Entahlah, mungkin aku sakit." Aku menjawab lemah, sangat lemah, bahkan tenaga ku seperti sudah terkuras banyak semalam. Apa yang terjadi? Padahal semalam aku hanya membaca buku di Perpustakaan.
Artleta memegang dahiku dengan tangannya, "Tidak panas, tenggorokan mu sakit?"
"Tidak, aku sehat saja. Tapi aku seperti melemas, tidak ada tenaga" Jawabku lemah. Sungguh, aku bahkan tak bisa menggerakkan badanku. Bisa, tapi itu sangat sulit. Tenaga ku sudah terkuras, tapi untuk apa?
"Yasudah, kamu jangan sekolah dulu deh. Nanti aku ijinin ke Bu Runa." Ucapnya bersiap untuk turun dari ranjangku. Aku membelalakan mataku, walaupun agak susah. Dengan cepat aku mencengkram tangannya, walau itu agak susah.
"Jangan! Aku harus sekolah." Pekik ku tak terlalu keras, masih lemas.
Ia menoleh padaku dan menatapku bingung. "Loh, kan lagi sakit." Ucapnya.
"Aku tak sakit parah kok, aku harus sekolah. Nanti aku gak bisa menang di Ujian kalau seperti ini." Ucapku beralasan.
Padahal tujuanku itu hanya untuk mengambil buku Sejarah Sihir Flora yang dipinjam oleh Vanisa, dan bertemu Limoxar juga. Aku tak bisa berpisah muka darinya walaupun hanya sehari.
"Yaudah, aku kompres dulu pakai air hangat ya." Tawarnya lalu beranjak turun dari ranjangku, tanpa persetujuanku.
"Buat apa? Aku kan gak demam." Aku merasa badanku sudah sedikit membaik, aku bisa menggerakkan jari-jari tanganku dengan leluasa. Ya, baru jari yang sembuh, dan suaraku sudah mulai membaik.
Aku berusaha menggerakkan lenganku, sedikit berhasil, walau itu agak susah dan melelahkan. Pelan-pelan aku menggerakkan masing-masing anggota tubuhku. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu menggerakkan tubuh ku secara bersamaan. Berhasil, tapi aku masih lelah. Tulang punggungku masih tidak membaik, sudah seperti nenek tua saja, tulang keropos, retak dan sebagainya.
Artleta datang menghampiriku dan membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil. Ia mencelupkan handuk tersebut ke dalam air dan memerasnya, kemudian menaruhnya di dahiku.
"Kalau gak kuat, jangan dipaksa. Bisa-bisa makin parah." Ucapnya sambil menatapku kelam dan sedih. Aku menanggapinya dengan anggukan kecil.
"Aku masih bingung, kok kondisi mu tiba-tiba drop begini?" Tanyanya. Aku bahkan tak tau mau menjawab apa, karna aku tak tau apa yang terjadi padaku.
"Uhm, paling kecapekan. Seperti biasanya" Aku meragukan jawabanku. Tapi daripada tidak ku jawab kan.
"Kecapekan? Gak sampai segininya juga kan?" Ucapnya mengelak jawabanku. "Mata udah merah, keringatan kayak orang mandi, badan gak bisa gerak, tulang sakit. Itu namanya kecapekan?"
"Ayolah, palingan bentar lagi aku akan sehat lagi." Aku berusaha meyakinkannya.
"Ini sudah jam 7, kau yakin mau sekolah?" Ucapnya seraya melihat jam dinding yang tergantung di dinding.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Maguxal
Fantasia[Fantasy - Romance] Clyxa Violet Carolline, gadis yang tinggal di Bumi. Gadis yang sangat menyukai alam tumbuhan di penuhi bunga-bunga indah. Sampai akhirnya sesuatu terungkapkan, ia harus pindah sekolah. Selama di sekolah barunya ia mempunyai teman...
