20

4.5K 517 54
                                        

20

**

Elektroensefalografi itu terdengar menyakitkan di telinga Iqbaal, darah (Namakamu) terlihat menodai baju putih Iqbaal. Iqbaal menggenggam tangan mungil itu, tangan yang sering ia kecup, tangan yang membuatnya mampu hidup bahagia, tangan yang selalu menjadi penyemangat hidupnya. Kini, dia terbaring di sana dengan alat-alat itu semua.

Iqbaal mengusap rambut kekasihnya dengan lembut, ia menyandarkan pipinya di punggung tangan (Namakamu). "Sayang... bangun ya, sayang. Jangan tidur lama-lama, Iqbaal nggak ada teman nanti. Ya, sayang ya? Kamu pasti bangun, kan?" bisik Iqbaal dengan airmatanya yang tidak pernah berhenti.

Iqbaal terlihat sangat berantakan, ia terlihat begitu sakit melihat kekasihnya yang terbaring lemah di sana. Iqbaal menangis di dalam punggung tangan kekasihnya. "Bangun, ya, sayang. Jangan tidur lama-lama.. kamu kasian, kan sama Iqbaal. Iya kan, sayang?" gumam Iqbaal dengan isak tangisnya.

Iqbaal menangis kembali dengan isakan yang tidak ia tahan lagi. Ia tidak menyangka, jika (Namakamu) ingin mengakhiri hidupnya seperti ini. Iqbaal mengecup kembali punggung tangan itu dengan tangisnya.

"Apa yang harus aku lakukan, (Namakamu)?

Pintu kamar rawat (Namakamu) terbuka, Iqbaal melihat itu. Gilang, akhirnya datang dengan rambutnya yang berantakan. Iqbaal melihat sahabatnya tertatih-tatih saat berjalan menuju (Namakamu).

Airmata Gilang sangat jelas, ia melihat adiknya menutup matanya dengan rapat. Gilang menjatuhkan dirinya tepat di samping (Namakamu). Ia menggenggam tangan adik perempuannya itu dengan tergesa-gesa, Gilang mencoba tersenyum.

"Dek, abang di sini, Dek. Lo nggak rindu sama gue? Ha? Lo pasti rindu sama gue, kan? Iya, kan?" Gilang berdiri dengan sekuat tenaganya. Ia mengecup dahi (Namakamu), airmata Gilang jatuh begitu saja.

"(Namakamu) ku, bangun, ya. Aku di sini datang karena rindu, karena ingin melihat mata kamu bukan ketidakberdayaan kamu. Bangun, ya." Gilang terisak tepat di hadapan adik perempuannya.

Iqbaal menelungkuplkan kepalanya di punggung tangan kekasihnya, ia sudah tidak sanggup lagi menangis.

Gilang menangis dengan isakannya yang kuat, ia menatap adik perempuannya dengan rasa sakitnya. "Aku ada di sini, (Namakamu). Aku bersumpah akan selalu di sini. Jadi, tolong buka matanya,lihat aku di sini,"isak Gilang tidak tertahan.

Iqbaal sesekali mengecup tangan (Namakamu). Gilang sudah sangat menyesal, ia menyesal pergi dari sisi (Namakamu), ia menyesal lebih memilih menghapuskan rasa cintanya daripada melindungi adik perempuanya ini. Ia menyesal, sangat menyesal.

Gilang mengusap puncak rambut adiknya dengan gemetar." Abang minta maaf karena pergi.."

Elektroensefalografi mulai menunjukkan perhitungan yang cepat. Iqbaal menegakkan kepalanya saat mendengar suara yang aneh dari alat itu.

Gilang menangis dengan isakannya yang kuat." Maafkan abang yang mencintaimu melebihi dari rasa persaudaraan kita"

Alat itu semakin menunjukkan kondisi (Namakamu) semakin tidak stabil, Iqbaal berdiri dengan cepat, ia memencet bel pemanggil dokter beserta perawatnya.

Gilang semakin menangis dengan histeris saat ia melihat (Namakamu) mulai kejang-kejang.

"Abang akan bahagia kalau kamu bahagia juga, (Namakamu)."

Dan garis yang rumit itu akhirnya lurus tanpa ada lagi harapan, suara dari alat itu pun berbunyi nyaring .

Iqbaal menggelengkan kepalanya, ia mengusap kepala kekasihnya dengan lembut. "Nggak! (Namakamu), jangan bercanda sayang. Ini nggak lucu, kamu bangun sayang.. ayo, jangan bercanda (Namakamu)." Iqbaal mencoba menggoncangkan bahu (Namakamu).

Gilang terjatuh, ia sudah menjambak rambutnya dengan tangisan histerisnya.

Dokter dan perawat itu datang, Iqbaal melihat serangkaian alat pengejut jantung itu mulai di pasangkan.

'150 jole. Clear? Shoot!'

(Namakamu) terangkat, tapi tidak berdetak lagi.

'200 jole.Clear? Shoot!'

(Namakamu) terangkat, tapi tidak juga merespon.

Iqbaal melihat dokter itu mulai melepaskan alat pengejut jantung itu, lalu mencoba memompa jantung (Namakamu) dengan kedua tangannya.

Namun, hasilnya tetap tidak ada. Dokter itu mulai menggelengkan kepalanya, Iqbaal mendekat.

"Waktu kematian—"

"TIDAK! DIA MASIH HIDUP! TOLONG SELAMATIN DIA! TOLONG DOKTER! (NAMAKAMU) ! BANGUN SAYANG1 BANGUN!"jerit Iqbaal dengan tangisnya.

Dokter itu menundukkan kepalanya," waktu kematian jam dua belas lewat satu menit bagian indonesi barat." Kini dokter benar-benar menundukkan kepalanya.

Gilang menjerit tidak terima, Iqbaal menangis di atas punggung tangan kekasihnya.

"(NAMAKAMU)! JANGAN PERGI SAYANG! TOLONG DENGARKAN AKU! KITA SAMA-SAMA MENCINTAI, KITA SAMA-SAMA MENYAYANGI KAN? KENAPA KAMU PERGI TINGGALIN AKU! KENAPA ?! (NAMAKAMU)!" teriak Iqbaal dengan tangisannya.

"Iya, kamu benar. Terima kasih, telah memilih aku jadi  happy ending kamu."

**

'Aku ingin setelah kepergian ku nanti, kalian melupakan kesakitan yang pernah ada itu. Aku pergi untuk mendatangkan kalian pada akhir yang bahagia. Tolong, jangan menangisi kepergian ku ini.'

**

THE END

EPILOG AKAN NYUSUL. SO, FINALLY, I CAN MAKE A SAD STORY.

Mrs. Happy EndingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang