11

1.2K 78 0
                                        

Yang sering dilupakan dalam hal kecil maupun hal besar adalah Bersyukur.

♡♡♡

Aku setia membolak-balikkan jaket itu sedari dua jam pelajaran yang telah berlalu. Menimbang-nimbang bagaimana caraku mengembalikan, apa menunggu bertemu dengannya atau aku mencarinya, tetapi dimana?
Tentunya aku tidak ingin, dihantui rasa hutang budi, apalagi setelah semalam aku bersamanya. Di pasar malam.

Tiba-tiba, aku merasakan pipiku memanas, mengingat kejadian semalam. Bagaimana dia menenangkanku ketika aku ketakuan menaiki wahana ombak. Dia yang bersedia memegang tas plastik untuk wadahku muntah serta berlari untuk membelikanku air mineral. Uh, itu sungguh baik.

Aku menggeleng keras untuk kesekian kalinya, baru tadi aku berpikir agar tidak merasa berhutang budi, dan sekarang yang malah kulakukan adalah mengingat budinya.

"Lo nggak bisa ya, jangan berdecak tiap 6 menit sekali selama kurang lebih 124 menit." Aku menoleh kearah kiriku, Anya yang melihat jam tangannya. "Dan lo nggak bisa ya, jangan mendesah sampe muka lo merah!" Kini Anya menoleh padaku.

Aku menjitak keningnya pelan, "Dan lo nggak bisa ya, ngomongnya jangan keras-keras?" Aku memelototi Anya.

"Lah, emang lo dari tadi decek mulu, terus bentar-bentar 'huft' 'huft." Anya mempraktikkan bagaimana aku menghela nafas berkali-berkali.

"Tinggal balikin aja apa susahnya sih?" Ica ikut menyahut dan mendekat ke arahku. Memperhatikan jaket ditanganku dan kembali lagi kemataku.

"Gue nggak tau gimana caranya."

"Ya tinggal kasih pake tangan lah!" Anya bersungut-sungut, aku mendengus kasar dan bergaya ingin mencakar Anya.

"Maksudnya si Alda itu-" Ica berhenti, menatapku heran. Kemudian, "Emang kenapa nggak tau Al?" Ica menyengir lebar. Aku melotot, astaga mereka sama saja.

"Ya si Usus Besar, Somplak juga lo!" Anya menepuk jidatnya pelan dan menggelengkan kepala, tanda prihatin.

"Stop!" Ica yang baru saja membuka mulut, kembali mengatupkannya cepat. Aku melihat mereka, kemudian menghela nafas lagi. Aku menunduk dalam.

"Gue nggak tau kelasnya mana dan gue malu."

Bukannya menjawab mereka malah tertawa. Aku mendongak memandang mereka dengan ekspresi bingung. Apa yang salah?

"Ternyata lo punya malu juga Al." Ica memengang perutnya karena kebanyakan tertawa.

Aku meringis dalam hati, mereka pikir aku tidak punya malu apa? Kalau rasa malu aku masih punya, untuk selamanya malahan. Misalnya seperti, aku akan malu apabila aku disuruh telanjang atau malu kalau aku disuruh untuk berjoget kera ditengah jalan.

Oh, itu berlebihan.

"Kalian, ish gue serius!" Aku mengepalkan satu tanganku, memperagakan orang yang akan mengulek-ulek, dan mereka berdua adalah sasaran yang tepat.

"Diejek kingkong bakar, lo biasa aja. Nah ini, balikin jaket ke cowok gak berani. Gue kira urat malu lo udah hilang." Anya berdecak dan menatapku jahil.

Aku tidak menyalahkan ucapannya yang memang benar. Saat aku dikatai apapun, bukan berarti aku tidak malu, tetapi aku memang tidak peduli, lagi.
Tetapi untuk yang satu ini, sepertinya sangat sulit untuk tidak peduli, bahkan sekadar pura-pura.

"Tai bebek lo lo pada! Anterin kalau gitu!!" Aku menatap mereka memelas. Dan ya, aku tahu mereka pasti akan luluh.

"Ya udah." Anya menyahut kemudian tersenyum, "Apasih yang nggak buat, orang yang baru aja punya malu?" Anya mengedipkan sebelah matanya. Aku memutar kedua bola mata malas.

Semu [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang