04

254 16 0
                                    

Kini, dibawah terik matahari yang membakar kulit, aku dihadapkan dengan kesialan bertubi-tubi.

Entah karena salahku apa memang sejak kenal 2 mahluk sinting itu aku sering kena sial.

Sudahlah, buat apa aku ngelamunin mahluk-mahluk itu.
Mending aku pikirin gimana caranya terbangin nih motor ke tambal ban depan gang.

Mana anak-anak SMA udah pada balik. Emang Lio kampret minta di tampol beneran.

Liat aja besok, motor lo gue betusin.
Ehh.. Kalo gue betusin, utang gue sapa yang bayar?

Oke, kita harus selesaikan ini.
Mendorong motor dan tambal bannya.

Cepet-cepet sampe rumah.
Aku mau makan banyak nambah 3 piring, mau peluk guling, dan tidur miring.

Dan fix, aku lelah.
Siapapun disini, tolong gue..

"Lohh Dian? Motor kamu juga bannya bocor?" ucap seseorang yang berhenti, membuatku menoleh dan sedikit sebal melihatnya.

Udah tau, masih nanya.

"Iya nih Bu" jawabku lesu.

"Tenang Dian, Besok ibu cari tau kerjaan siapa ini. Ibu duluan ya.." ucap Bu Usi yang motornya kukerjai tadi dan sedang diStep motornya bersama suaminya mungkin.

Dan aku hanya mengangguk mengiyakan.

Gak usah dicari Bu, pelakunya udah depan mata.

Dan aku masih terus melanjutkan perjalananku ini.

Sabar Dian, tambal ban sudah depan mata. Lo harus dorong 200 meter dan sampai.

Dengan sisa tenaga yang masih ada dan sekucur keringat mengalir di wajahku.

Ku percepat langkahku dan akhirnya sampai sudah.

"Huahaha, penyiksaanku akhirnya berakhir" ucapku sangat senang.

"Eumm.. neng" panggil seseorang yang menepuk-nepuk pundakku.
Aku pun menoleh.

"Maaf neng, bukan mau ganggu acara ketawa-ketawanya. Tapi motornya ini mau di apain?" ucapnya membuatku sadar.

"Ooh iya bang"
"Tolong tambal ban belakang motor saya bang" ucapku.

"Ngantri ya neng, masih ada 2 motor lagi" ucapnya membuatku mengangguk pasrah.
Dan ku lihat ternyata motor itu..

"Ehh Dian lagi, mau nambal ban ya?" tanya Bu Usi.

Bukan, mau nambal mulut ibu!

"Iya Bu" jawabku.

"Ibu Lena juga bannya dibetusin, tuhh" ucapnya menunjuk dengan mulut ke arah motor Va*io hitam.

"Kok bisa ya, kita motornya dibetusin gini?" tanya Bu Lena pada Bu Usi.

Karena kalian ngeselin.

"Iya, saya juga gak abis pikir. Kurang kerjaan kali ya orang itu" jawab Bu Usi.

Banyak kerjaan gue mah Bu.

"Biarin lah Bu, besok-besok kita cari tau" balas Bu Lena.

"Iya Bu, saya juga kasian sama Dian. Jadi kena sasaran juga" ucap Bu Usi.

Gak usah kasian Bu, gue yang betusin kok. Kalo motor gue mah karna kena karma aja.

"Sabar ya Dian, kalo Ibu tau orangnya. Entar Ibu hukum depan kamu juga" ucap Bu Usi.

Hukum aja gue Bu, ikhlas kok.

Dan setelah setengah jam akhirnya kelar, maksudnya motor 2 Ibu-ibu itu.

"Dian.. Ibu duluan ya" ucap Bu Usi.

Aku hanya mengangguk.

"Ibu juga duluan ya Dian.." ucap Bu Lena juga.

Aku pun hanya mengangguk lagi.

Tiba saatnya ban motorku yang ditambal.

Perutku sebenarnya sudah tak tahan namun apa daya, aku tak punya duit.

Hah? Duit? Watdefak, duit gue kan udah abis bayar kas tadi.
Aduhh, gue bayar nambal ini gimana dong.

Handphone, handphone.
Kuperiksa saku bajuku namun aku ingat.

Anjirr hp gue kan lowbat.
Masa gue ngutang lagi sih.

"Bang?" panggilku pada tukang tambal ban itu.

"Kenapa neng?" ucapnya sambil melakukan sesuatu pada ban motorku.

"Kalo misalnya ngutang boleh gak?" tanyaku.

"Gak boleh lah neng" ucapnya membuatku terdiam.

Mati gue, gimana nih. Mana gak boleh ngutang lagi.

Oke, ini kesialanku yang kesekian kalinya.

"Bang.. Saya ke rumah temen dulu ya" ucapku pada abang tukang bengkel itu.

"Oh.. Iya neng" balasnya.

Yaa, hanya ini caranya. Aku harus pulang berjalan kaki dan mengambil uang di rumah.

Jangan anggap aku gila, karena disini tak akan ada yang mau menolong diriku.

Sekarang, aku benar-benar akan menandai hari ini sebagai hari tersialku di kalender.

Ku lewati jalan berdebu dan ramai kendaraan ini.

Dengan wajah yang kusam, perut lapar, dan kaki yang tak mampu untuk berjalan.

Rumahku sebenarnya tak jauh tetapi aku tak terbiasa berjalan seperti ini apalagi abis dorong motor.

Siapapun yang membantuku, akan ku balas budinya.

Jadi kumohon Tuhan.. Aku lapar..

"Eh... Kamu, Kenapa jalan?"

Tuhan.. Jangan bilang kalo orang ini yang bakal bantu?

#Janganlupa
#Vote&Comment
#FollowMyAccount
Mareena_

PACARku Si Kutu BukuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang