Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gelap bukan berarti tak bisa beraktivitas. Seiring berjalannya peradaban manusia, seorang Thomas Alva Edison menemukan cara mengganti api dengan sebuah bola lampu. Satu gebrakan membuka nalar, banyak orang yang memodifikasi hingga bentuknya tak hanya sekedar bulat. Putih, kuning, hingga berwarna warni semua ada, tergantung menyesuaikan dengan ruang.
Lampu lantai dansa, contohnya. Dibuat berkelap-kelip untuk mempertahankan gairah jiwa. Apalagi dipadukan dengan musik dari DJ yang memekakkan telinga. Raga seolah enggan meninggalkan irama. Meliuk sampai pagi buta, tau-tau terdampar disuatu tempat dengan sakit kepala.
Guanlin menjadi salah satu dari mereka. Bahkan sebelum 17 tahun pun ia sudah menghabiskan malam yang panjang dengan keluyuran.
"Kau melamun?"
Guanlin terperajat oleh tepukan salah satu teman sekelas; Kang Daniel, penyelenggara pesta malam ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hah?!" Guanlin tak bisa mendengar kata yang terujar. Musik bervolume tinggi mustahil bisa menandingi.
"Aku tanya apa kau melamun?!" ulang Daniel dengan lebih keras
"Oh," Guanlin mengangguk, "hanya sedang memikirkan minuman apa yang akan kupesan."
"Benar kau tak apa?" tanya Daniel memastikan.
Guanlin tersenyum tipis. "Sungguh! Kau ini seperti gadis yang mengkhawatirkan pacarnya saja!"
Daniel tergelak, "Aku hanya khawatir jika kau punya masalah. Sebagai sahabat sudah sepatutnya saling membantu, kan?"
Guanlin tak punya sahabat, setidaknya itulah yang ia pikirkan. Semua orang yang mendekati hanya mengincar harta dan kesenangan. Tak peduli sedikitpun tentang darimana datangnya uang yang dihamburkan. Yah, lagipula Guanlin sendiri takan membiarkan orang tau tentang siapa ia sebenarnya.
Teman-temannya hanya tahu orang tua Guanlin adalah pengusaha sukses di Taiwan.
"Tenang saja! aku pasti akan bilang jika ada masalah!" terang Guanlin.
Hidup enggan, mati tak mau. Ada sesuatu yang menahan Guanlin untuk membuang semuanya. Sebuah lubang besar menganga tepat di dada, meminta diisi entah dengan apa.