"Hei, Charizia.. "
"Are you upset that you can't fall in love with me? "
"Why would I.."
Cuma helaan napas yang terdengar. Kau juga cuma melirik keluar dengan senyum sedihmu yang nampak samar.
"You love her, right? "
Kurasa aku belum punya niatan menjawab pertanyaan itu. Atau mungkin aku takut jawabanku tidak sesuai ekspektasimu.
"I can't think of anything else."
"Well.. Char.. Maybe you should.. "
"Aren't you tired of me yet? "
Apa mungkin bagimu bagiku ini cuma permainan, Char?
Wangi metal berhamburan di mana-mana. Semua berwarna merah dengan cairan kental nan lengket melekat di tanganku.
"Arvi, you got me wrapped around your fingers. But what's the use of that anyway? "
Kalau aku tahu percakapan seperti ini tidak bisa diulang, mungkin aku akan menahanmu lebih lama.
"Once I get home, I think I'll love you. "
"It's a challenge then. "
Tapi tahu sendiri, kan? Kalaupun aku kembali, kau tidak akan ada untuk menyambutku lagi.
"Yeah, and you got me wrapped around your fingers too, Charizia. "
YOU ARE READING
Coffee Break✔️
Aléatoirerandomize brain dump Kayak kalo tiba-tiba di angkot kepikiran kata-kata sarkas buat orang. Percakapan fiktif yang gue harap terjadi antara gue sama doi (Cihuyy) Selipan drabble gak jelas. Sampe iseng bikin cover (Visual person indeed) inspired by :...
