Salah satu pemain kunci, Siti belum bisa diantar pulang karena mobilku tiba-tiba mogok.
Lebih kacaunya lagi, mogoknya di tengah jalan kosong. Jadi gak bisa minta tolong warga sekitar.
Untungnya salah satu pak guru, Pak Ridwan melihat saya di pinggir jalan. Lalu ia menepi dan melihat keadaannya.
"Bima, kok kamu ada di sini?"
"Mobil saya mogok pak, gak tau kenapa."
"Coba bapak liat dulu ya."
Kap mobil dibuka, asap langsung keluar dengan rusuh dari mesin.
"Waduh, mobilmu kenapa ini?"
"Gak tau pak, pemakaian saya wajar-wajar aja pak, gak suka ngubah apa-apa."
"Coba kamu nyalain mesinnya."
"Ok pak. Siti, tunggu bentar ya."
"Oh iya, kok ada Siti di sini?"
"Abis latihan buat pentas seni pak. Saya mau nganterin dia pulang."
"Oh iya, soal pentas itu....."
"Iya pak?"
"Pentasnya itu diselenggarakan setelah UAS."
"Lho, bukannya 1 bulan lagi ya?"
"Iya, tapi jadwalnya terlalu mepet sama UAS, jadi setelah UAS aja. Menurut saya...."
"Kenapa tadi di sekolah tidak diumumkan?
"Kami baru rapat tadi. Menurut saya ini lebih baik daripada kalian tergesa-gesa menyiapkan diri untuk UAS karena sebelumnya harus bersiap untuk pentas seni dulu."
Aku bingung harus berkata apa pada teman-temanku nanti.
"Toh setelah UAS kalian gak kemana-mana kan?"
Aku semakin bingung harus menjawab apa.
"Jujur, saya gak tau pak."
"Saya takut kalo kayak gitu, banyak murid yang gak bisa datang pentas seni karena harus pulang ke orang tuanya, karena sebagian murid SMA di sini adalah anak merantau."
"Dikhawatirkan mereka akan lebih memilih pulang, daripada menonton pentas ini."
Pak Ridwan terdiam. Aku segera memberitahukan hal ini pada grup kelas.
"Guys, ada kabar mendadak nih. Dari Pak Ridwan, koordinator pentas seni."
"Jadwal pentas (seni) mundur. Jadinya setelah UAS pentasnya."
"Loh kok gitu, keputusan sepihak. Gimana sih Pak Ridwan."
"Jih gak bisa dong, aku kan harus pulang kampung."
"Kalo pada pulang, pentasnya gimana?"
"Guys, tenang dulu bentar. Aku lagi sama Pak Ridwan sekarang."
"Pak Ridwan mah egois ah."
"Wah gak adil nih."
"Tenang semuanya guys, aku yang ngomong." ujar Rita."
"Gw yang nelpon Pak Ridwan."
(Ringtone HP Pak Ridwan berbunyi)
"Ini Rita, bentar ya Bima."
(Puluhan menit kemudian)
"Ok. Persetujuan telah dibuat."
"Persetujuan apa?" ujarku.
"Jadwal pentas kembali normal...."
"Gitu dong pak. Lain kali kalo bikin keputusan....."
"Bentar Bim. Bapak belum selesai bicara. Tapi akibatnya kalian akan mendapat pelajaran tambahan setelah pulang sekolah."
