Chapter 7 : Promise

21 4 4
                                        

Aku tahu bahwa pelajaran tambahan dimulai sebelum pelajaran utama, namun tetap telat bangun. Aku tergesa-gesa dan lupa sarapan.

Di jalan, aku sangat terburu-buru menyetir, bahkan aku hampir menabrak mobil orang lain. Untungnya aku bisa tiba seperempat jam sebelum mulai.

Saat tiba, aku merasa ada yang berbeda. Tidak ada guru dan janitor sama sekali di sekolah, hanya seorang satpam. Seharusnya mereka sudah datang, paling tidak semua janitor.

Terkejut pula aku melihat teman-temanku di kelas. Mereka semua terlihat sangat rajin dengan buku-buku yang tertata rapi di mejanya.

Memang, baru seperempat kelas yang datang namun sikap mereka kepadaku sedikit tidak bisa. Mereka terkadang mencuekan aku saat sedang bicara, atau tiba-tiba melemparkan bola kertas ke arahku.

Tak memperdulikan itu, Bu Siti lalu masuk dan mulai mengajar.

Fisika, salah satu pelajaran yang paling tidak kusuka. Ribetnya rumus-rumus tak penting dengan kurangnya implementasi pada kehidupan nyata. Namun ada satu subbab pada fisika yang paling disukai dari yang lain. Gelombang Elektromagnetik, itulah materinya.

Aku suka melihat bagaimana berubahnya frekuensi dan panjang gelombang dapat mengubah sifat gelombang tersebut.

Namun yang saya lebih suka adalah implementasinya yang ada di mana-mana. Anda bisa melihat benda-benda sekitar karena gelombang elektromagnetik, anda bisa merasakan hangatnya matahari karena gelombang elektromagnetik, dan contoh-contoh lainnya.

"Ok. Pelajaran tambahan hari ini adalah hukum gravita....."

Huh, kalimat itu lagi. Bu, aku tak ingin menjadi orang yang bekerja pada proyek-proyek antariksa. Aku tak perlu memahami terlalu dalam mengenai gravitasi. Aku hanya perlu bagian yang diterapkan di kehidupan saja.

Namun seperti yang ku bilang, pendidikan di negeri ini memang begitulah.

"Karena kalian pernah mendapatkan pelajaran ini, tentu ada yang kalian masih ingat, kan?"

"Saya akan meminta salah satu dari kalian untuk menjelaskan sedikit tentang gravitasi."

"Bima, bagaimana kalau kamu yang menjelaskan?"

Sudah kuduga.

"Yang lain saja bu. Saya lupa banyak. Yang saya tahu, gravitasi menarik benda satu sama lain."

"Ok. Yang lain?"

"Gaya gravitasi berbanding lurus dengan kedua massa benda yang terlibat dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak pusat benda yang terlibat." ujar anak paling pintar di kelas, Rian.

"Itu benar. Yang lain?"

"Tetapan umum gravitasi newton adalah 6,67×10^-11 m³/kgs²"

"Benar, yang lain?

Aku hanya terdiam mendengar celoteh-celoteh teman-temanku. Mereka juga sepertinya tidak begitu peduli akan apa yang mereka bicarakan. Toh tidak semua ilmu akan langsung diterapkan dalam kehidupan nyata.

"Permisi. Maaf bu, saya telat." ujar Michelle.

"Kenapa telat?"

"Tadi ada kecelakaan di jalan, jadi macet."

"Oh, yaudah. Silakan duduk."

Aneh, Bu Siti tidak begitu marah. Michelle duduk disampingku.

"Sori, gua telat. Tadi ada kecelakaan sih, jadi macet."

"Siapa?"

"Dari bajunya sih kayaknya anak sini."

"Oh."

The Missing PieceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang