Setelah menekan klakson mobil, pintu gerbang yang menjulang tinggi pun terbuka.
Menampakkan mansion mewah membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum. Tidak berlebihan kok, nyata.
Semua pelayan menunduk hormat, menyambut nona mudanya yang cantik.
Disinilah Nana sekarang, dirumah papa nya yang selalu mengesankan dirinya bak tuan putri. Agak risih.
Berbeda dengan rumah yang ia tempati bersama mama nya yang begitu santai namun membuatnya nyaman.
"Gadis papa akhirnya datang juga" Sambut sang papa sambil merentangkan kedua tangannya.
Nana pun langsung menghambur ke pelukan ayahnya, menenggelamkan kepalanya sambil meluapkan kerinduan yang 3 minggu terakhir ia pendam.
Aroma papa, Nana suka.
"Papa, i miss youuu" Ucap Nana sambil mengeratkan pelukannya.
"I miss you too, sayang" Ucap sang ayah sambil mengecupi puncak kepala gadisnya.
"Papa kenapa ngga kerumah?" Tanya Nana. Manja, manis sekali
"Maafkan papa sayang, akhir akhir ini papa sangat sibuk dan harus bolak balik ke Itali. Maaf" Ucap papa dengan raut menyesal.
"Papa ngga ada bawa oleh oleh buat Nana?" Tanya Nana to the point.
"Ada dong, masa putri cantik papa ngga di kasih. Nanti yang ada mogok ketemu papa kaya dulu" sindir papa Nana
Nana tiba tiba berjinjit lalu berbisik "Papa pasti belum bisa move on ya dari mama?"
"Kok?" Tanya papa Nana
"Itu buktinya, papa masih aja inget yang dulu dulu" Ucap Nana ssmbil cekikikan
Papa Nana pun seketika mematung, bingung harus menjawab apa.
Ngga nyambung, Na.
Anak siapa sih ni bocah. Batin Papa Nana
Ingat proses, lupa hasil. Dasar papa.
"Ekhem.. Bagaimana Nana? Apa kamu sudah berubah pikiran?" Tanya sang papa sambil merangkul anak tercintanya menuju sofa ruang keluarga.
"Maaf pa, Nana tetep sama keputusan Nana. Nana belum kepikiran buat lanjut kuliah, apalagi di Perancis kaya keinginan papa"
Menarik nafas sejenak, sebelum melanjutkan--"Nana masih pingin tinggal sama Mama, apalagi mama tinggal sendiri dirumah. Nana nggak tega pa"
Apalagi mama tinggal sendiri dirumah, nana nggak tega pa
Seketika wajah papa menegang, ia seakan tersiram air panas. Tertampar oleh nalar. Segala tubuhnya terasa panas, matanya pun mulai memanas.
Kejamnya dirimu, mas. Batinnya sendiriHalah!
Apaan ini!
Betapa penyesalan takkan merubah apapun..
Mereka duduk di sofa dengan Nana memeluk manja sang Ayah. Sayang sekali
"Baiklah kalo itu keputusan kamu, papa ngga bisa maksa"
"Makasih papa" Ucap Nana sambil mengecup pipi sang papa.
Papa tersenyum melihat tingkah manja sang anak yang tidak berubah meski sudah beranjak dewasa. Jujur, ia rindu. Sungguh.
.
Di rumah Nana
Bel rumah tak hentinya berbunyi, membuat Mama Nana yang sedang memakai kutek geram sendiri.
Wait? Kutek? Hoo
Pintu pun terbuka dari dalam..
"Sore tante cantik, Nana nya ada?" Tanya lelaki tersebut sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu itu demen sama anaknya atau sama emaknya sih, Glen?" Ucap mama Nana dengan nada bercanda.
"Anaknya lah tan, tapi kan harus jinakin induknya dulu hehe." Cengir Glen, ya Glen Ferdinan.
Teman SMA Nana yang begitu dekat dengan Nana dan juga mama Nana. Dekat, sangat dekat.
"Untung ganteng" umpat Mama Nana.
"Nana belum pulang, lagi dirumah papa nya. Ayo nunggu didalem aja." Sambungnya."Ooooooo... Saya nunggu disini aja deh tan" jawab Glen.
"Beneran?"
Glen mengangguk, nyengir pula.
"Yaudah tante masuk dulu yah, hati-hati barangkali ada tante tante nakal." Goda Mama Nana
"Tenang tan, tante slalu dihati abang Glen kok" cengir glen
Berondong? Ga lefel ah. Batin Mama
"Yaudah tante masuk dulu. Kalo laper tinggal pulang---eh tinggal bilang maksudnya" kata Mama
Glen cengo
.
Mansion Papa Nana
"Pa, Nana pamit pulang yah udah sore nanti mama khawatir.. " "Oh ya tentang tawaran papa tadi, Nana kayanya tertarik deh pa, tapi Nana pikir pikir dulu dan minta persetujuan mama. Boleh kan pa?"
Papanya tersenyum dan mengangguk "Apapun untukmu, baby"
Fyi, sang papa menawarkan Nana untuk mengurus cafe miliknya yang berada di dekat rumah Nana.
Karena papa nya dengar bahwa akhir akhir ini Nana sedang mencari pekerjaan. Nana malas kalau hanya luntang-lantung di rumah, membosankan.
Nana menolak melanjutkan sekolahnya karena ia tak mau meninggalkan mama nya. Nana sayang mama.
Apalagi tentang papa nya yang berniat mengirimnya ke Perancis, big no!Dan mendengar tawaran sang papa tentang cafe, sepertinya ia tertarik.
Yup. Cafe yang letaknya tak jauh dari rumah Nana. Milik sang papa.
Sedikit memberi kebebasan kepada si gadis kecil untuk mengurus cafe tersebut, tidak sepenuhnya sih. Tapi Nana senang, karena ia tak akan berdiam diri dirumah.
Juga dengan begitu ia tak perlu meninggalkan mama nya sendirian. Ia tetap bisa pulang kerumah, dan tinggal bersama mama nya. Mengingat jaraknya yang tak terlalu jauh.
.
.
Yuk lah mampir ke cafe nya Nana. HEHE
-Tbc-

KAMU SEDANG MEMBACA
Nothing, Nana My Everything
De Todo"Siapa ya?" "IHHH GLENNNNNNN!" "Hehe. Sayang Nana."