Ara tak bisa terlelap mengingat kejadian di daerah Cibogel―tempat cowok yang memanggil namanya turun―tadi. Rasanya ingin mengutuk diri sendiri. Bisa-bisanya kejadian biasa itu mengambil alih sebagian pikirannya. Plis, ia bukan gadis yang baru puber. Bahkan ia sudah punya―
"Tuh, kan, Ra...." Ara menghela napas kemudian memberingkan tubuhnya di kasur. "Bawaannya dia lagi, kan."
Jujur saja, Ara lelah kalau harus berhubungan dengan err, dibilang mantan pun Ara tak pernah menerima pernyataannya―atau mungkin ia memang tak punya perasaan itu. Intinya, orang yang dulu adalah pendiri dari vocal dance cover yang pernah ia tekuni selama setahun lebih.
Sebelumnya, ini bukan berarti Ara belum move on. Hanya saja, kalau sudah dalam keadaan gelisah dan memikirkan salah satu cowok yang ada di dunia. Otaknya refleks menyalahkan orang itu.
Padahal dia nggak salah, batinnya.
Tapi pada akhirnya, pada posisi inilah Ara berada. Memeluk gulingnya erat-erat, lalu menangis tanpa suara.
***
Sesuai jadwal yang disepakati Pak Wira soal Ara dan Shiki. Mereka bisa pakai Lab pulang sekolah. Atau di mana pun kalau salah satunya sedang bawa laptop. Dan ... di sinilah mereka berada sekarang. Bukan di lab yang ruangannya gelap atau di markas band milik Shiki. Melainkan di salah satu kelas 11 yang ada di lantai dua.
Ara menghela napasnya begitu sampai, kelas ini begitu sepi. Cahaya matahari menembus jendela yang tak ditutupi oleh tirai. Sesekali, angin berhembus seolah kipas angin yang berputar di dalam tak berfungsi.
"Sebelumnya, Lo tau kan kalo gue sama Lo itu gak akan bisa akur setelah kejadian di Lab kemaren?" Ara bicara beruntun.
Shiki mengangguk. "Bahkan gue nggak ngarep sedikitpun buat akur sama Lo."
"Dan satu hal lagi," kata Ara, "gue ngelakuin ini bukan karena gue mau atau apa. Tapi gue cuma ga bisa nolak permintaan Pak Wira karena dia udah baik banget sama gue."
Meskipun dia cowok―ah, dia bapak-bapak.
"Wakat―"
"Jangan ngewibu depan gue, jijik tau," potong Ara begitu Shiki hendak mengucapkan sesuatu yang artinya mengerti.
Shiki mendelik. "Plis, itu spontan!"
Setelah itu, Ara hanya mengangguk karena tak ingin memperpanjang ocehan dengan manusia yang kini tengah memainkan pulpennya di bibir. Ah, menggelikan kala mengingat dirinya dulu seperti ini. Tapi, ya, mungkin ia bisa mengerti sedikit perasaan Shiki saat mengucapakan hal itu.
Setelah membuka laptop, Ara langsung membuka salah satu aplikasi yang ada. Sistem pengolah angka.
"Gue masih nggak ngerti di bagian mananya masalah Lo," kata Ara, "soalnya, apa yang kita pelajari selama ini masih dasar banget. Cuma fitur sama tambah-tambahan ples, temennya."
Shiki menghela napas. "Gue tau Lo bakal jengkel tau semua ini. Tapi gue gampang lupanya. Entah sih, cuma bawaannya males liat kotak-kotak banyak gini, lalu―"
"Bikin Lo males buat merhatiin?" potong Ara.
Ara membuang napas kasar. Sebenarnya ia sudah menduganya sejak awal. Karena pada dasarnya manusia itu bukannya tidak bisa, melainkan malas untuk menjalankannya.
"Gini, ya," kata Ara. "Gue juga pemales, bahkan sangat. Pak Wira tau itu."
"Terus?" balas Shiki tak acuh.
"Gue nggak bego kayak Lo, Shiki! Seengaknya gue mau ngerjain tugas meski ngumpulinnya paling telat."
Cowok itu berpikir sejenak. Sebenarnya ucapan Ara tak salah. Lalu, ia juga tidak sepenuhnya bego seperti yang dikatakan Ara. Oke, bahasanya kasar barusan. Tarik! Ia hanya malas karena matanya pusing melihat kotak-kotak rempet itu. Ia sudah bilang tadi, bukan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Sugirai - Real Identity
Novela JuvenilWarning! - Cuma cerita biasa. - Bakal banyak typo. *** "Wibu kok gaptek." Satu kata yang membuat Shiki―sang vokalis ekskul light music di SMA Patriot―dendam habis-habisan pada cewek kelas sebelah bernama Ara. Namun, siapa yang tahu kalau c...
