6

133 27 6
                                        

“Hah?” Hanya itu yang keluar dari bibir Ara begitu tahu siapa sosok sebenarnya orang ini.

Dia...

Re-Ichi: How are you?

“Ichiiiiii!” pekik Ara membuat semua yang ada di angkot menoleh ke arah gadis itu. Well, sepertinya ia harus turun dekat sini.

Hingga akhirnya, mereka berdua benar-benar turun di salah satu gerai fastfood tepi jalan. Dengan Ara yang masih tertunduk malu mengingat kelakuannya di angkot tadi. God, ia suka lupa diri kalau sudah terlalu senang sampai-sampai tak sadar dengan keadaan di sekitar.

Itu memalukan.

“Maaf sebelumnya,” kata Ichi pada Ara. “Gue nggak pernah bilang kalau gue cowok.”

Oh. Ara diam sejenak. Mungkin orang yang ada di hadapannya tahu kalau Ara agak anti dengan cowok. Tak ayal lagi, ia pasti sudah tahu tentang Ara.

“Gak masalah,” balas Ara tak enak. “Lagian, itu cuma berlaku sama orang-orang tertentu aja. Gak sepenuhnya benci, kok. Jatohnya ke kesel mungkin, ya.”

Cowok di hadapannya tersenyum. “Udah gue duga, sih.”

“Hah?”

“Lagian, Ara gak bakal benci sesuatu tanpa alasan, bukan?”

Ya, apa yang diucapkannya benar. Ara benci bukan tanpa alasan. Lagi pula, pada awalnya mereka yang memancing.

“Untuk perkenalan dunia nyata,” kata Ichi ragu. “Gue Resta—dan inget itu nama cowok,” tekannya di akhir sambil terkekeh.

Tanpa sadar Ara pun ikut tertawa, padahal ia sama sekali tak berpikir kalau itu nama untuk perempuan.

“Ara still Ara as Ararara79,” kata Ara memperkenalkan diri yang sejujurnya membuat lidah keseleo.

Mereka terdiam sejenak, lantas tertawa setelah mata mereka bertemu. “Gak ada yang nyangka.”

Resta tersenyum. “Seandainya gue peka lebih cepet sama kouhai, mungkin udah lama kita kopdar.”

Ara hanya bisa tersenyum menanggapinya. Dan, omong-omong sebelumnya mereka ada di komunitas yang sama. Bukan grup yang besar, namun berkat itulah mereka bisa saling mengenal satu sama lain. Ya, walau kenyataannya privasi mereka masing-masing sangat terjaga. Seperti Ara dan Resta yang ternyata satu sekolah.

“Lagian dulu pas Ara masih di grup SMP kan, ya?” Resta mengingat kembali. “Mana berani gue nanya Bogornya di daerah mana. Plus, nggak bisa ngira-ngira karena Lo juga di ig jarang upload foto RL, kan?”

Ara kembali terkekeh sambil mengangguk. “Gak tau mau ngomong apaan, habis ya ngedadak banget—meski sering seangkot hehe.”

“Harusnya dari pertama sering balik bareng ya gue nyapa,” kata Resta setengah berpikir, “Ah, nggak jadi, deh, yaaa. Ara kan tukang tidur di angkot.”

Ara menatap Resta datar. Entah kenapa cara bicaranya dan topik bahasannya jadi menyebalkan. Mirip sama Shiki yang suka mengejek—tunggu, ngapain bawa-bawa orang itu segala? Batin Ara langsug diiringi gelengan dalam pikirannya.

“Emm, tau Ara itu Ararara dari mana?” tanya Ara ragu.

Sejenak Resta hanya tersenyum memandang Ara. Dan entah kenapa ini membuat Ara sedikit gugup. Well, mungkin karena Re-Ichi yang di chat ia kira sebagai perempuan. Karenanya saat tahu kalau kenyataannya adalah seorang laki-laki, Ara langsung panik.

“Beberapa bulan lalu kamu ngechat, kan?” kata Resta yang tanpa sadar sudah mengubah panggilannya. Sama seperti mode chat mereka. Dan, ia baru menyadari itu saat berkata, “Ah, sori! Kadang cara bicara di daring jadi kecampur di RL.”

“Nggak masalah kok, gue juga kadang gitu,” balas Ara. Ya, kadang terlalu banyak daring bisa pengaruh pada kepribadian termasuk cara bicara. Kalau kasar akan kasar, kalau baik bisa lebih baik lagi.

“Nah, dari situ,” tegas Resta, “Lo yang bilang kalau ribut sama anak kelasan, kan? Kebetulan ada beberapa nama yang gue kenal. Mereka satu ekskul. Dan pas gue tanya soal ocehan mereka yang kebetulan tentang Ara, jadinya... ya, gue penasaran dan nyari tahu. Lalu, inilah...."

Ya, Ara ingat hari di mana ia menceritakan semuanya pada Ichi. Sampai sekarang ia tak mengira kalau orang yang ada di hadapannya adalah Ichi, adalah Resta. Mungkin ini yang membuatnya merasa biasa saja saat di hadapan Resta.

“Why?” cicit Ara. Hatinya kembali bertanya, kenapa bisa Resta masih mau mengenal dirinya yang sebenarnya. Terlebih, dia seorang kakak kelas.

Resta tersenyum. Entah perasaan Ara saja atau bukan. Tapi matanya menusuk lembut dan itu ... membuat Ara membeku sejenak. Sialan, ia ingin memaki senyuman itu.

"Karena Ara gak akan ngelakuin itu ke Ichi."

***

"Plis, mati gue, Dun!" pekik Ara pada Redin yang sedang terkejut karena teriakan milik Ara. "Gilaaaa, ya kali gue suka sama Kak Res!"

Ara tahu kalau ini terlalu cepat seribu tahun untuk bilang ia suka pada senpai sekaligus teman curhat daringnya itu. Tapi demi apapun juga, senyuman Resta yang terulas kemarin sore masih terbayang dalam otaknya. Great, ia bisa gila.

"So? Gue harus bilang―"

"HARUS!" potong Ara.

Redin mengembuskan napasnya kasar. Lantas menatap teman sebangkunya minggu ini―dan mungkin minggu-minggu selanjutnya berhubung akhirnya selalu saja Ara yang duduk dengannya.

"Plis, Ra, liat Lo kesemsem sama cowok bikin orang-orang itu bego ngeliatin Lo tau!" tunjuk Redin pada anak cowok di kelas yang dengan tumbennya memasang wajah sangat penasaran tanpa kebencian pada Ara. Gila. Efek seorang anti cowok jatuh cin―nggak, ini cuma crush doang. Ara cuma tergila-gila sama senyum sinting senpai wibu itu, batin Redin.

"Lagian, Din. Ada untungnya juga kelakuan Ara gitu." Saras datang sambil menepuk pundak Ara. "Kata-kata sadisnya ilang pagi ini."

"Tuh, kan, denger kata Saras, Dun!"

"Nama gue Redin, plis!"

Ya, Ara tahu kalau kebahagiaan ini hanya sesaat. Lagi pula, ia tak benar-benar menyukai Resta seperti itu. Ini mungkin hanya sebatas jalan agar ia bisa berbuat baik pada anak laki-laki lainnya. Setidaknya, itu yang ada dalam otaknya saat ini.

Ya, ini semua sandiwara.

***

Sepulang sekolah seperti biasa, Ara datang ke kelas di mana ia dan Shiki biasa bertemu. Namun kali ini, bukan hanya cowok itu yang datang.

Mereka....

"Gue tau kalo ini nggak seharusnya," kata Shiki panik begitu Ara datang sambil mematung di depan pintu, "tapi sumpah, mereka yang datang sambil buntutin gue!"

Ara tak bisa percaya begitu saja pada ucapan cowok yang kadang pakai kacamata itu. Tapi, wajah paniknya tak mengatakan sesuatu yang mengandung kebohongan. Lagi pula, sepertinya mereka bukan tipe seperti Tio dan antek-anteknya.

"Terus, temen-temen Lo mau ngapain? Masalahnya gue nggak dapet info dari Pak Wira kalau temen-temen Lo setara begonya sama Lo terus minta gue buat nga―" Ara terdiam melihat ekspresi rada kesal mereka. Bukan benar-benar kesal, hanya saja. "Err, gue salah ngomong ya?"

***

Subang, 18 Juni 2018
22:05 WIB

Sugirai - Real IdentityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang