Ruang berukuran 4×4 m² dengan cat tembok berwarna putih, hanya ada Yuri dan pria tua disana.
Yuri duduk gelisah dengan jantung yang berdetak tak beraturan, hal ini jauh lebih menegangkan 2 kali lipat dari pada pengumuman kelulusannya 3 tahun yang lalu.
Gadis itu menunduk sambil meremas ujung bajunya, dirinya benar benar tidak siap mendengar yang akan dokter itu katakan.
Ruangan bernuasa putih ini terasa sangat mencekik, seakan tak ada oksigen didalamnya, Yuri berapa kali berusaha menarik nafasnya namun terasa sangat berat.
"Anda saudari nyonya, Gieun, benar?" Dokter yang mengenakan jas berwarna putih dengan kemeja biru kotak kotak didalamnya itu buka bicara.
Yuri mendongak mencoba membuat kontak mata dengan pria yang kira kira berusia 45 tahun itu. Setelah matanya bertemu dengan sang dokter Yuri mengganguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Arraseo," sang dokter tersenyum lalu mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop berwarna coklat yang ada ditangannya. (Baiklah)
"Hentikan," Ucap Yuri seketika.
Sang dokter pun menatap Yuri dengan tatapan bingung, "Mwo?"
"Aku tak sanggup mendengarnya, dokter," Yuri menunduk lalu meremas ujung bajunya (lagi)
"Apakah kau sudah 'tau?"
Yuri mengganguk, saat SMA ia pernah belajar tentang penyakit kakaknya ini, tanpa diberitau dokter hanya dengan melihat ciri ciri yang dialami Gieun Yuri bisa mengetahui nya.
Yuri masih saja menunduk tak berani menatap bola mata coklat sang dokter yang ada dibalik kacamatanya.
Dokter itu memegang bahu Yuri. Merasa
tak nyaman jika bagian tubuhnya dipegang sembarangan gadis berambut blonde itu mendongak, sang dokter pun melepas pegangannya dari bahu Yuri."Aku permisi dulu," Ucap Yuri sambil berdiri lalu ia membungkukan badannya separuh kepada sang dokter yang jauh lebih tua darinya.
"Gidalim!" (Tunggu)
Yuri membalikan badannya kearah sang dokter yang sedang menatapnya. Lalu ia berjalan mendekat.
"Bawa ini," Dokter menyerahkan amplop itu pada Yuri. Gadis itupun mengambil amplop itu lalu tersenyum masam.
"Tidak akan sudi aku membuka ini, aku tidak ingin sakit hati," ucap Yuri. Sang dokter hanya tersenyum.
"Baiklah, itu urusanmu, Yuri-ya."
Menjijikan sekali dia memanggilku seperti itu. Batin Yuri.
"Apakah tidak ada lagi yang ingin kau katakan?" Yuri menaikan kedua alisnya sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Dokter itu diam menatap Yuri, "Aku rasa, tidak."
Dia tidak meminta maaf karna memegangku, tadi? Cih!! Batin Yuri lagi.
Yuri membalikan badannya lagi kearah pintu yang berjarak kira kira 15 ubin dari dirinya berdiri sekarang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Inopinatums | Jungkook
Fiksi PenggemarPeople maybe watching I don't mind 'cause Anywhere with you feels right -Inopinatums Kisah semu dibalik backstage. Satu hal yang harus diketahui, they fall in love and slammed in the plains. © Wechanxz 2010 Started: 13-06-18. Hightgst rank : 'Longli...