Disini Dirga sekarang, di depan gerbang sebuah rumah besar milik tante Sarah-adik kandung mamanya. Sungguh dirinya dilanda kebingungan saat ini, bagaimana berbicara pada mereka? Apa Dirga harus menceritakan semuanya? Ah sudahlah, yang terpenting dirinya harus memikirkan bagaimana ia berbicara pada penghuni rumah ini jika ia ingin menginap beberapa hari.
Dirga berusaha membunyikan klakson beberapa kali agar gerbang rumah ini dibuka seseorang. Karena bunyi klaksonnya di acuhkan, Dirga keluar dari mobil dan memencet bel, saat ketiga kalinya bel dipencet, pintu gerbang terbuka sedikit dan menampilkan Mbok Darmi yang mengerutkan keningnya heran. Siapa yang malam-malam seperti ini datang? Rasanya Bu Sarah, Pak Ando, dan Nona Zora sudah didalam?.
"Permisi Mbok." Dirga menampakkan dirinya di hadapan Mbok Darmi.
"Eh ternyata Den Dirga toh, kirain Mbok siapa, ayo masuk Den." Mbok Darmi tersenyum ramah.
"Iya Mbok, makasih udah dibukain gerbangnya. Mbok masuk aja, Dirga mau masukin mobil dulu."
"Monggo Den, ini gerbangnya Mbok lebarin aja ya?" tanya Mbok Darmi sambil bersiap kembali mendorong gerbang.
"Eh gausah Mbok, biar Dirga aja. Terima kasih."
"Oh yaudah Den, Mbok masuk duluan ya." Dirga mengangguk sebagai jawaban.
Dirga mendorong gerbang hingga terbuka lebar lalu memasukkan mobilnya ke dalam rumah Tantenya itu. Setelah gerbang telah tertutup kembali, dengan gugup Dirga memasuki pintu utama.
"Assalamualaikum." ucap Dirga dengan nada sedikit kencang.
"Eh Mas Dirga, tumben kesini malam-malam, ada apa toh mas?" Zora yang sedang duduk di sofa depan menghampiri Dirga dan mencium punggung tangannya.
Zora adalah putri dari Tante Sarah dan Om Ando. Dirga memang dekat dengan Zora sejak dulu, sering bermain bersama, tetapi semenjak Tante Sarah dan keluarganya memilih menetap di Jakarta sejak 1 tahun lalu, jadilah dirinya jarang bertemu dengan adik perempuannya ini.
Dirga senang jika harus menetap juga di Jakarta, sudah 2 bulan lamanya Dirga berada di kota ini. Dirga selama ini sering datang ke rumah Tante Sarah untuk mengajak Zora bermain atau hanya sekedar menemani. Zora satu tahun lebih muda darinya, jadilah mereka seperti teman, bahkan jika mereka sedang berjalan berdua keluar komplek hanya untuk berjalan-jalan mungkin akan banyak yang mengira jika mereka berpacaran. Dan mereka sangat serasi, Dirga yang tampan dan Zora yang cantik. Tapi realitanya mereka hanya bersaudara, tidak lebih.
"Ayah Bundamu kemana?" Dirga mengusap rambut Zora dengan sayang.
"Ada di kamar, sebentar Zora panggilin. Mas duduk aja dulu."
Setelah Zora berjalan menuju kamar orang tuanya, Dirga duduk di sofa sambil terus memikirkan apa yang akan dirinya katakan pada Tante dan Om nya. Uh ini sungguh menegangkan.
"Kenapa mas kesini malam-malam?" Sarah datang bersama Ando dan Zora dari arah belakang.
Dirga langsung menghampiri mereka dan mencium punggung tangan Tante dan Om nya. "Dirga mau nginep disini beberapa hari, boleh kan Tan?"
"Boleh dong Dirga, anggap saja ini rumahmu sendiri." Sarah dan lainnya duduk di sofa, begitu juga Dirga.
"Kamu nginep kok udah kaya mau pindahan bawa koper sebesar itu Ga?" tanya Ando yang menunjuk ke arah koper besar Dirga.
"H-hm ini cuma baju-baju Dirga aja kok Om, gak lebih. Oiya Tan kamarnya yang buat tamu kan?"
Sarah mengangguk sambil tersenyum. "Iya, kelihatannya kamu cape, tidur gih istirahat. Besok sekolah kan?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Dirnaya
Teen FictionThis story just my imagination oke! Don't forget to vote and comment! Enjoy guys! :) Follow my instagram : najwanfs_17 Thanks. Happy Reading!