Rahang terkatup, bibir sempurna bergetar, wajah memerah padam, tidak sanggup menelisik apa pun dalam diri yang mengutuk keluh dan kebodohan.
"Proyek milikku ditolak mentah-mentah."
Itu kalimat yang terakhir kali Park Jaehyung dengar dari gadis bersurai sebahu kesayangannya.
Awalnya, Jaehyung tidak mau memaksanya untuk bercerita, namun melihat ia sedemikian kacau, tertariklah kedewasaan Jaehyung detik itu juga. Ia memaksa sang gadis untuk bercerita, dan rupanya, itu masalahnya.
Membuat Jaehyung kini didera bingung harus melakukan apa. Sejujurnya, Jaehyung belum pernah merasakan apa yang sang gadis rasakan.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" Sebilah tangan Jaehyung merambat naik, mengusap pundak sempit di hadapannya dengan lembut.
Berharap apa yang ia punya dapat menenangkannya, walau sebentar.
"Tidak tahu." Sang gadis memalingkan wajahnya, ke lain tempat, tidak sanggup melihat wajah cemas milik Jaehyung. "Aku telah melakukan semuanya. Aku yakin, lalu aku gagal, lalu kini aku menyerah, apa lagi?"
"Hei ... kamu tidak boleh menyerah." Park Jaehyung berhenti berucap, sempat menengadah sekian detik ketika basah terasa menghunjam wajah.
Hujan turun lagi.
"Jangan biarkan kata menyerah menguasai dirimu, aku yakin kamu bisa."
"Bisa apa?! Kamu tidak berpikir apa yang aku pikirkan!"
Park Jaehyung tersentak, tentu. Wajah memerah padam itu akhirnya memandangnya lirih, bersamaan dengan genangan air mata yang telah pecah membasahi lekuk wajah.
Melupakan fakta hujaman debit air yang terus berjatuhan, sang gadis menangkap reaksi wajah Jaehyung di detik yang sama. Membuatnya kembali mengutuk diri untuk yang kesekian kali, ia sadar bahwa ia salah, tidak seharusnya ia berkata seperti itu pada Jaehyung.
Seseorang yang masih mau menemaninya dalam keadaan terendah.
Lantas langkahnya mundur teratur, hingga tidak dirasakannya lagi pijak telapak tangan hangat milik Jaehyung pada pundaknya. Melihatnya dari jarak yang lebih jauh, Jaehyung masih bergeming di tempat.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud--"
"Jangan menjauh, aku mohon."
Masih di tempatnya, Jaehyung menatap netra bening berkaca beberapa langkah di hadapan.
"Aku ... aku bukan gadis yang baik untukmu."
Park Jaehyung tetap tidak bergerak, hanya napasnya yang naik-turun berintonasi demikian serupa.
"Aku selalu gagal. Aku selalu membuatmu kecewa, kan? Kamu tidak seharusnya menyaksikan semua sisi burukku, kamu tidak pantas menerima semua cerita kegagalanku, Jaehyung."
Isak tangis perlahan membuncah, tangis pecah mendera, sesak makin melibati relung diri. Sang gadis menekuk lututnya, membiarkan utuh dirinya jatuh bersanding dengan deras hujan yang menyapa area, seutuhnya membasahi dirinya sendiri, humani lain di hadapan, dan hamparan pijak yang sepi memandang.
Tidak ada yang ia dengar lagi selain deras hujan berjatuhan di sekitar, suara isaknya sendiri bahkan tidak dapat didengarnya dengan baik seakan frekuensi rungu tidak lagi berfungsi.
Namun sempat netranya menangkap sepasang sepatu hitam yang dikenalnya mendekat, terdiam di sana selama sekian sekon, sebelum akhirnya dapat ia lihat dengan retina basahnya, humani itu ikut andil menekuk lutut tepat di hadapan.
Melawan hujam keras yang menahan, sang gadis tidak urung tetap berusaha mendongak, menemukan lekuk wajah kurus seputih porselen itu kembali.
Park Jaehyung kembali ke hadapan. Memberikan selembar senyum terbaik yang ia punya, tidak peduli dengan dirinya dan sekitar yang telah basah tiada ampun.
"Kamu cantik."
Katanya, setelah berhasil membingkai wajah mungil sang gadis dengan kedua tangan dinginnya.
"Bahkan menangis, pun kamu tetap cantik."
Katanya, lagi, setelah berhasil melindungi tubuh sang gadis dalam rengkuhan. Tidak mengizinkan setetes hingga dua tetes gulir air dari langit menyentuh satu-satunya kehangatan yang ia miliki kini.
Dapat Jaehyung rasakan, ceruk di dadanya bergemuruh, mengerti sebuah isak kembali pecah di sana. Perlahan membawa sebelah tangan Jaehyung terangkat naik, mengusap puncak kepala yang sedikit malu-malu bersembunyi.
Sempurna basah dengan hujan yang mendampingi, tidak membuat senyum Jaehyung menghilang begitu saja. Justru di sana, di detik yang sama, menit yang sama, ulasan senyumnya semakin terangkat naik seiring pikirannya merajut bait-bait pendek, dirangkumnya dengan barisan konsonan sederhana, membawanya jauh ke atas titik pandang yang membuat sebagian dirinya merekah dalam tenang.
"Tunjukkan semua usahamu, jika kamu mau. Tunjukkan semua kegagalanmu, jika kamu mau. Menangislah dengan kencang, jika kamu mau. Ulangilah semua, jika kamu mau."
Park Jaehyung mencari napas sebentar, mengeratkan peluknya selembut yang ia bisa, lantas menumpukan kepalanya pada bahu sempit sang gadis. Masih tersenyum.
"Tunjukkan semua yang ingin kamu tunjukkan, sampai kamu berhasil. Kamu adalah inspirasi terindah yang aku miliki."
*
"Biar aku ceritakan.
Aku telah menemukan bait yang sempurna untuk tugas itu."
"Yang benar?"
"Apa aku terlihat bercanda??
Yang jelas, aku tahu ini akan menjadi sangat istimewa."
"Beri aku lihat, kalau begitu."
"Tidak bisa, kau hanya boleh melihatnya jika semua sudah selesai."
"Baiklah, baiklah. Janji?"
"Janji."
"Omong-omong, tentang apa?"
"Tentang apa yang kita sukai."
"Hujan?"
"Iya. Dan tentang dia."
*
KAMU SEDANG MEMBACA
RAINDROPS
FanfictionRaindrops are twins. They falling in the same way, falling to the same places. : Be part of EGLAF. ( Was ) #1 - parkbros [ RAINDROPS ; DAY6's ] ©2018, Nyctoscphile All Rights Reserved.
