Waktu adalah prioritas.
Tidak lagi menjadi hal yang perlu diindahkan, agaknya, untuk Park Seongjin.
Karena menghadap kenyataan, Seongjin sudah berdiri di seberang tempat di mana ia biasa menemui sang gadis beraroma mawar itu.
Hujan sudah berhenti, sekian menit yang lewat, namun terasa belum puas membasahi area, tanda-tanda gemuruh bersahutan kembali terdengar, mungkin akan turun hujan lagi, satu menit ke depan, dua menit, tiga menit, atau delapan menit ke depan.
Itu sebabnya, Seongjin sengaja menegapkan kedua kakinya di seberang, menanti sang gadis dengan sebuah payung dalam genggaman. Paham bahwa sosok mungil itu terbiasa tidak melindungi dirinya sendiri dari jatuhan air berkapasitas rendah atau tinggi sekalipun.
Dia tidak boleh sakit, bukan?
Bisiknya, tidak urung tersenyum singkat saat bayangan lekuk wajah manis itu terlintas memenuhi retina dan pikiran.
Tanpa ia sadari langit berangsur menggelap, rintik kembali menyapa sekitar, angin berembus kuat, mengisyarakatkan semua humani di luar ruangan untuk segera mencari tempat berlindung.
Termasuk raga yang satu itu, yang tetap keras kepala membiarkan anak rambut berantakannya tersapu--bergoyang mengikuti arah lajur angin yang ada. Alih-alih peduli akan seruan orang-orang di sekitar yang memanggilnya untuk sekadar menepi di tempat yang kering, Seongjin mengangkat tangannya, membuka perlindungan terakhirnya tepat ketika suara gemuruh tergantikan dengan debit air yang kembali turun, untuk ketiga kalinya dalam hari ini.
Tetapi yang ditunggunya belum juga terlihat.
Napas terembus, mengudara dan lenyap seketika ditelan suhu berderajat rendah. Diam-diam sisi lain dirinya mengutuk jangkauan sekitar yang makin menggelap, membuat beberapa penerangan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Menyisakan titik buram yang berjejak tepat di dalam retina, atensinya pada semua tempat kini terasa sama. Buram dengan sempurna memburam.
Bantuan terakhirnya hanyalah layar pixel di dalam genggaman, tetapi itu semua tidak berguna, terlampau gelap jangkauan yang tidak lagi mau menerima setitik cahaya apa pun. Tetap memburam.
Park Seongjin menyerah, lantas derap kakinya kembali melangkah pergi, yang pada akhirnya, ia harus meninggalkan tempat itu tanpa bertemu dengan sang gadis.
Mungkin tidak untuk hari ini.
Rapalnya dalam diam.
Berkali-kali mencoba menyeimbangkan langkah di balik sisa-sisa pencahayaan yang ia dapat, melupakan ujung sepatunya yang sekali-dua kali keluar dari jalur selasar yang harus dipijaknya.
Mengalirkan tarikan-tarikan konstan yang membuat tubuhnya terasa nyeri, denyut tidak beraturan bahkan telah menyesak masuk ke dalam dinding kepala hingga netra sepenuhnya mengabaikan apa yang harus ditangkapnya.
Tidak. Jangan lagi.
Lalu menggelap, sempurna.
Suara paraunya tidak dapat menjangkau apa yang ia harapkan, tidak ada lagi yang dirasanya seketika itu, bahkan menggenggam jemarinya sendiri pun terasa mustahil.
Tetapi, tidak sakit.
Park Seongjin tidak merasakan sakit apa pun. Ia menerka jika tubuhnya telah terkulai basah di atas selasar, atau malah tubuhnya telah terbaring tenang di atas ranjang dengan bantuan humani manapun yang peduli padanya.
Padahal nyatanya tidak. Tidak keduanya.
"Sudah aku bilang jangan ceroboh! Kau tidak boleh menyusahkan oran lain, tahu?!"
Rungu Seongjin mendengar jelas vokal ringan itu, seperti berasal dari sisi yang dekat.
Maka ia mengulas senyum selebar yang ia bisa walaupun sepenuhnya tidak tergambar garis senyum dan semacamnya, membiarkan sebagian raganya terguncang perlahan oleh humani lain, dan Seongjin hanya berusaha membaitkan rasa terima kasih padanya bersamaan dengan pilu yang mengikat.
Tanpa membuka mata, ia tahu raganya kini telah berada di tempat yang lebih baik, tidak lagi dirasanya hujam air dari bentangan awan menusuk kulit. Tergantikan samar dengan decak-decak panjang yang terdengar lucu menggelitik putaran rungunya.
Park Seongjin terkikik amat kecil mendengar semua kekacauan itu, sampai pada titik di mana bahu lebarnya mendapat sedikit guncangan.
"Jangan tertawa, tidak ada yang lucu."
Katanya, sekaligus memutus suara parau milik Seongjin setelah itu.
Ia merasa aman sekarang, meski tidak hangat, ia yakin ia akan bisa membuka kedua matanya lagi dua atau tiga menit ke depan.
"Terima kasih. Aku akan selalu berterima kasih padamu."
*
"Biar aku ceritakan--"
"Cerita apa? Urus saja dirimu dulu. Tubuh dan bajumu basah!"
"Kau juga."
"Bagaimana kau tahu jika aku basah?"
"Aku hanya tidak pandai dalam melihat. Bukan tidak pandai dalam merasakan apa yang aku sentuh, Bodoh."
"Aku kira kau akan berterima kasih padaku.
Dasar. Harusnya tadi kubiarkan kau tergeletak seperti biasa. Lalu, beku saja, sana."
"Aku sudah mengucap sekian kali rasa terima kasihku saat itu juga."
"Bohong! Aku tidak dengar."
"Ya sudah, kau saja yang beku, sana."
"Kau memintaku beku? Kau yakin?
Setelah itu tidak ada lagi yang akan membantumu di saat-saat menyebalkan itu terjadi."
"Baiklah-baiklah."
"Apa?"
"Terima kasih atas segala yang telah kau lakukan. Bagaimanapun caranya kau menemukanku."
"Entahlah. Aku tidak sadar, langkah kakiku yang membawaku pergi ke sana, lalu menemukanmu."
"Kau percaya dengan kutipan itu?
Saat dua orang kembar mempunyai telepati?"
"Tanpa telepati pun, Tuhan telah mengaturku untuk selalu mencarimu, Park Seongjin."
*
KAMU SEDANG MEMBACA
RAINDROPS
FanficRaindrops are twins. They falling in the same way, falling to the same places. : Be part of EGLAF. ( Was ) #1 - parkbros [ RAINDROPS ; DAY6's ] ©2018, Nyctoscphile All Rights Reserved.
