Bab 7

782 87 0
                                        


Kanti merampungkan runutan cerita dalam kepalanya untuk yang keempat-belas kalinya. Seharusnya kronologinya sudah benar semua. Dia mengulang poin demi poin yang hendak diutarakannya dengan bibir yang bergetar komat-kamit seperti merapal. Orang-orang berseragam hilir-mudik, heran memandangi gelagatnya yang kikuk seolah dia manusia hutan yang nyasar ke kota. Lututnya bergerak-gerak gelisah di bangku selasar kantor polisi yang keras itu.

Sensasi gatal mengeriap di punggungnya seperti yang selalu terjadi sebelum dia bertemu orang. Dia belum pernah sukses saat berhadapan dengan orang. Pekerjaannya semua dilakoninya lewat platform semacam sribulancer.com dan freelancer.com. Bertatap muka langsung dengan para penggaji alias klien? Jarang, sangat jarang sampai dia tidak ingat kapan yang terakhir kali.

Bukan kebiasaannya mudah lupa. Ada yang mengganggu pikirannya sehingga dia gagal ketika mencoba mengingat satu-dua hal lain, selalu berganti jadi siluet teror yang menguntitnya hari-hari belakangan ini. Dia bahkan hampir yakin benar-benar ada orang yang menguntitnya. Orang itu tidak kelihatan olehnya, belum, sehingga dia hanya bisa melukiskannya sebagai figur gelap di kejauhan. Dia jadi mudah gugup dan terbebani, seperti menyimpan kanker yang pelan-pelan memakan dagingnya.

Satu minggu terakhir bukanlah masa paling menyenangkan dalam hidupnya. Dia mengira ujian hidup terbesarnya adalah hari saat ibunya meninggal. Dia berpikir dia telah lolos dari ujian itu, ketakutan dan kehampaan itu. Dia pikir tidak ada lagi yang bisa membuatnya takut. Dia salah.

Di sampingnya dia meletakkan sebuah kotak bekas pengemas makanan cepat saji. Kotak itu tak akan dibukanya. Nanti jika dia berbicara pada salah seorang polisi itu, kotak itu akan dia serahkan sekalian.

Pagi tadi adalah pagi yang biasa, seharusnya. Yang membuat jadi tak biasa adalah ini: Kanti tidak pernah bangun lebih awal dari jam sembilan, tapi kali ini jam enam dia sudah beranjak dari tempat tidur, mengenakan celana pendek rumahan dan memasak air dalam ceret listrik. Dia mengecek smartphone-nya hanya untuk melihat surel iklan berlangganan dan lowongan pekerjaan, duduk dengan mengangkat kedua kaki sembari menunggu air mendidih, mengkhayalkan ratusan cara untuk lari dari realita ruang segiempatnya.

Tanpa sadar, mungkin karena terlalu terbiasa, jemarinya menyisir lembar-lembar kertas lukis yang tertumpuk di sisi meja. Teksturnya kaku akibat cat yang mengering. Bercak-bercak hitam mewarnai lapisan demi lapisan teratas. Dia hanya bisa melihat hitam. Berbagai rupa warna hitam terkomposisi ke dalam bentuk kokoh gedung, dinding, dan pilar, serta sulur-sulur bayang mirip manusia di antaranya, satu di setiap lembar.

Tak berwajah, karenanya tak bernama.

Kanti merasakan keberadaan sosok hitam itu begitu dekat, menggelayut di pundaknya. Perutnya bergejolak, angin dingin meresapi tengkuknya tiap kali dia membayangkan seseorang sedang mengintainya di suatu tempat, suatu celah yang tak bisa dia temukan.

Tatapannya segera terpancang ke ruko seberang. Dia menggigiti kuku-kukunya.

Harus ada yang dia lakukan untuk mengalihkan pikirannya. Maka dia menyiksa diri dengan memperhatikan refleksi wajahnya di cermin saku yang kecil. Dia bisa saja menjadi orang yang berbeda, dia bisa saja melakoni karakter, pendirian, pribadi, yang berbeda dengan yang ini. Bisakah hidup berubah seketika begitu dia memutuskan berganti diri? Lagi-lagi dia harus menghadapi fakta, dia tidak punya uang bahkan untuk merubah diri sekalipun. Jika dia terlahir kembali jadi orang kampung, dia akan memberitahu dirinya sendiri supaya jangan sekali-kali berpikir hidup di kota itu lebih enak.

Seekor kupu-kupu terbang masuk melewati jendela kemudian hinggap di bibir gelas berisi air. Tidak pantas rasanya ada kupu-kupu di Jatinegara. Tak ada yang akan berhenti untuk mengagumi keindahannya. Tak ada yang tahu kepakan sayapnya mungkin akan menciptakan puting beliung.

[URBAN THRILLER] Chandra Bientang - Dua Dini Hari (SUDAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang