Chapter 2

369 58 84
                                    


Musim gugur di Taebaek terasa lebih dingin dibandingkan Seoul. Mereka bilang, karena Taebaek adalah tempat yang tinggi maka suhu di sini menjadi lebih dingin.

Seharusnya Hoseok membawa mantel yang banyak dan jaket yang lebih tebal. Ia juga lupa membawa sarung tangan miliknya sebelum berangkat untuk jalan-jalan tadi pagi. Pukul sembilan malam, cuaca Taebaek terasa dingin seperti suhu berada di bawah nol derajat. Alhasil, ia harus duduk meringkuk di halte bus sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Hangat memang, tapi Hoseok merasa ada yang aneh. Kedua tangannya lantas dimasukkan ke dalam saku mantel, masih saja terasa aneh bagi pemuda itu.

Ia sejenak termenung seolah memikirkan sesuatu. Hoseok menghela napas. Ia kehilangan sesuatu ... lebih tepatnya seseorang.

Keping-keping memoar itu menari-menari di dalam kepalanya, tak mau hilang seperti ada seseorang yang sengaja menempelnya di sana. Masih teringat jelas terakhir kali ia mencengkeram lengan Jinhwa sekeras itu.

"Kau ingin apa, Jinhwa-ya?" ucapnya kemudian dengan kedua bola matanya yang bergerak gelisah. Hoseok berharap kedua telinganya berkhianat.

"Kita akhiri saja hubungan ini."

Hoseok sontak membelalak.

"Ke-kenapa?"

Hoseok tidak tahu siapa yang paling terpukul, lantaran matanya menangkap air mata Jinhwa siap tumpah dari pelupuknya. Pemuda itu tidak paham bagaimana bisa gadisnya minta berpisah sedangkan mereka dalam kondisi baik-baik saja. Belum lagi karir Hoseok yang nyaris mencapai puncak, setidaknya ia bisa membahagiakan Jinhwa kelak.

Gadis itu tak kuasa menahan air matanya yang terlanjur bergulir di pipinya.

"Kau tahu kapan terakhir kali kita jalan bersama, Hoseok-a? Ah ... apa kau tahu minggu lalu adalah anniversary kita yang ketiga?" Hoseok tercenung selagi pandangannya terus tertaut pada Jinhwa. Pekerjaannya menyita sebagian waktu Hoseok, tapi semua itu dilakukan semata-mata agar mereka bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik.

"Ma ... maaf. Tapi aku bisa memperbaiki-"

"Terlambat." Jinhwa melepaskan tangannya sebelum berucap, "selamat tinggal, Hoseok-a."

Pada akhirnya ia tak diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.

Memori-memori itu tergulung selesai bersamaan dengan suara klakson mobil yang menginterupsi lamunannya. Sebuah mobil pick up berhenti di depannya dengan kaca mobil yang sudah terbuka. Hoseok segera membungkuk berusaha melihat ke arah si pengemudi. Dia seorang laki-laki muda, mungkin usianya tak beda jauh dengannya.

"Butuh tumpangan?" sapa si pengemudi.

Tanpa sadar Hoseok tersenyum menanggapi tawaran itu. Sekilas ia melirik ke arah jam tangannya, masih sekitar 40 menit lagi bus menuju pusat kota Taebaek tempat Hoseok menginap akan datang.

"Bolehkah? Hm, tapi aku takut arahnya tidak sejalan."

"Aku mau ke pusat kota Taebaek."

"Ah, beruntung sekali. Baiklah, jika tidak keberatan." Hoseok lekas masuk ke dalam mobil dan si pengemudi pun menjalankan mesin.

Mobil pick up model fascia buatan tahun 90-an ini terasa nyaman dan juga hangat. Hoseok cukup kagum dengan selera orang asing yang memberinya tumpangan ini. Jika dilihat, pakaian yang dikenakannya cenderung biasa saja, tetapi interior mobilnya sangat dirawat. Dashboard-nya bersih dan tidak banyak lecet. Gantungan kaca spion tengah juga terawat dan tidak kusam. Ada bantal, selimut kecil, dan juga tisu di belakang tempat duduknya. Setidaknya merapikan mobil yang sudah tua seperti ini tidaklah mudah. Siapapun orang ini, ia nampak sangat akrab dengan kendaraan yang dibawanya.

AUTUMN DAYS [BTS FANFICTION: JHOPE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang