TUJUH tahun sebelum...
Hujan turun tanpa henti membasahi bumi Arcova Republic, seolah-olah langit sendiri sedang menangis malam itu. Kilat sabung-menyabung, menghasilkan cahaya putih kebiruan yang membelah kegelapan langit. Jalan-jalan sesak dengan kenderaan dan manusia yang berlari pulang di bawah payung, mencari perlindungan dari ribut yang menggila.
Namun di hadapan sebuah rumah agam yang berdiri megah di atas bukit Avenlor, seorang gadis muda berusia dua puluh empat tahun berdiri kaku... tubuhnya lencun disimbah hujan dari kepala hingga ke kaki. Air menitik dari hujung rambutnya yang kusut, jatuh membasahi lantai marmar yang dingin dan mahal di hadapan dua pintu gergasi berukir lambang kekuasaan keluarga Sokolov.
Tubuhnya menggigil kesejukan. Bibirnya kebiruan, kulitnya pucat. Namun matanya... matanya tidak menunjukkan ketakutan. Hanya kekosongan yang tajam dan penuh luka.
Tangannya perlahan-lahan menolak daun pintu besar itu. Bunyi engsel yang berat bergema, diikuti langkah kasut tumitnya yang menjejak masuk ke dalam rumah. Setiap langkah meninggalkan jejak air di atas marmar putih... bunyi titisan air bergema di ruang udara yang sunyi dan tegang.
Dia terus berjalan... tenang, perlahan, tetapi pasti. Sehingga tiba di hadapan sebuah pintu kayu berat dengan ukiran lambang Sokolov Bratva, simbol legasi dan kuasa yang diwarisi turun-temurun.
Tanpa teragak, pintu itu dibuka.
Di dalamnya, seorang lelaki berwajah bengis sedang menulis sesuatu di atas meja kerjanya. Lelaki itu mengangkat pandangan apabila pintu terbuka, wajahnya kaku... separuh terkejut, separuh marah.
"Clara?" suaranya rendah, serak, dingin. "What happened to you?"
Dia menanggalkan cermin mata dan meletakkannya di atas meja. Anak perempuannya berdiri di hadapan... gaun putih yang pernah kelihatan indah kini kotor, koyak, dan berselut. Wajahnya basah, matanya merah, dan tiada satu pun sisa kelembutan tertinggal di dalam dirinya.
Clara tidak menjawab. Kilat memancar melalui tingkap, membiaskan cahaya ke wajahnya yang pucat.
"Father..." katanya perlahan.
Aleksandr mengangkat kening, menunggu.
"Take me in." Suaranya datar. Dingin.
"Take you in? Where?" soal Aleksandr, tidak mengerti.
"The bratva," jawab Clara akhirnya. "I want you to take me into the bratva, father."
Dahi lelaki itu berkerut. "Bratva is not for you, Clara," katanya tegas.
Namun sebelum sempat dia menambah kata...
Tap!
Clara jatuh melutut di hadapannya. Rambut basahnya melekat di wajah, matanya kini berkaca.
"Get up, Clara!" arah Aleksandr keras, terkejut dengan tindakan anak perempuannya.
"I won't until you agree to take me in. Please, father."
Aleksandr menarik nafas panjang. "I promised your mother I would never let you step into that world. The bratva destroys everything it touches. That's why we gave you a normal life... free from this blood."
"Normal?" Clara ketawa kecil, pahit. "No. I don't need it anymore. Take me in, and I'll carry the Sokolov name again. I'll make it feared... not forgotten."
"Your brother will take over when the time comes," jawab Aleksandr, tetap dengan pendiriannya.
Clara tersenyum sinis. "Joke on yourself, father. Anton doesn't want the bratva... you're the one forcing him. He wants a normal life. And I..." Matanya kini menatap tajam ke arah ayahnya. "I'm willing to trade that normal life for the blood and dirt he refuses to touch. Take me in, and you won't regret it."
YOU ARE READING
Bloody Love, Mafia
ActionWhen two giants of the underworld collide, the world trembles. A single mistake could ignite a war. Or maybe... it wasn't a mistake at all. Maybe someone wanted this. Maybe someone wanted her. Her. Clara Agnia Sokolov. In the bloodstained empire of...
