Pada suatu masa, di suatu tempat yang jauh dan tidak diketahui, hiduplah seorang bocah laki-laki tanpa nama dalam sebuah penjara bawah tanah di sebuah gunung yang tidak pernah ditumbuhi tanaman, terkutuk seperti statusnya selama ini. Sendirian.
Tidak banyak yang mengingat eksistensinya di dunia.
Tanpa ada orang yang tahu apa yang bisa bocah itu lakukan.
Pun peduli dengan dongeng mengerikan ini.
***
Bisakah aku mati saja? Dengan menghancurkan kepalaku sendiri ke dinding goa mungkin? Apakah akan gagal seperti yang terakhir kali?Mengakhiri hidup adalah pilihan yang paling baik untukku saat ini.
Kalau tidak ....
Katakan padaku apa yang telah kulakukan hingga pantas dihukum?!
Aku tidak melakukan apapun yang salah, bukan?
Lalu ... KENAPA?!
Mungkin sejak lahir, bertahun-tahun mungkin (mengingat aku tidak bisa membedakan siang dan malam di tempat gelap ini) aku ditahan dalam goa yang dinginnya bisa membuat sekarat.
Selalu sepi di sini.
Hanya aku dan napasku.
Kesendirian yang terasa sesak.
Dan membunuh perlahan.
Yah, sebenarnya aku tidak sepenuhnya sendirian. Setiap bulan akan ada dua atau tiga laki-laki dewasa yang memberikan makanan-makanan basi, tentu setelah puas memukul dan menusukkan sesuatu di pangkal paha mereka ke bagian belakang tubuhku, seolah hidupku belum cukup mengenaskan untuk orang lain tertawakan.
Satu-satunya hal yang membuat mereka tidak membiarkanku mati dan hidup pada saat yang sama, mungkin, hanyalah harapan kosong mereka untuk "menjinakkan"-ku.
Takdir sialan!
***
Tiga detik aku memandang nasi yang sudah tercemari ulat hidup di depanku, sebelum memaksakan makanan itu masuk ke mulut dan membuat lidahku mengecap rasa asam serta menjijikkan yang familiar. Suatu keajaiban jika mereka memberikanku makanan normal lebih dari satu kali dalam satu tahun, kurasa.Saat itu kupikir hari akan berjalan menyedihkan seperti biasa. Namun nyatanya, gema langkah kaki yang menuruni tangga terdengar, bersamaan dengan tetes-tetes air yang bertalu-talu di bawah tanah kala itu. Masih belum lama orang-orang jahat itu datang, bahkan jatah makanku selama sebulan masih semangkuk penuh, tapi siapa lagi kalau bukan mereka?
Lalu dia muncul.
Seorang manusia yang sedikit berbeda.
Apa sebutannya? Perempuan?
Badannya kecil dan sedikit lebih pendek dariku. Air terus mengalir dari matanya yang hitam. Manusia menyebutnya ... menangis, bukan? Bajunya basah kuyup dan gemetaran dari tadi. Namun satu-satunya yang mencolok dari penampilan lusuh gadis itu adalah luka, memar, dan darah di sekujur tubuhnya.
Apa yang dilakukannya di sini?
Untuk pertama kalinya aku melihat manusia begitu rapuh.
Sangat mungil.
Manusia yang satu ini ... sangat lemah. Saking lemahnya aku yakin bisa membunuhnya hanya dengan satu tanganku yang bebas.
Memang apa bedanya manusia di depanku dengan yang lain? Tidak ada. Semuanya jahat. Sangat jahat. Tidak ada yang pantas hidup di atas penderitaanku. Tidak ada. Mereka harus mati.
Yah, mati.
Namun ....
"Oh, halo!" Tangisnya langsung berhenti setelah melihatku. Kaki kecilnya mendekat, serta tangan milik gadis cilik itu terulur.

KAMU SEDANG MEMBACA
Nightmare Viruses
HorrorSaat semua begitu ... abu-abu dan menakutkan. Mereka ada. Mereka selalu ada.