8. Monster tanpa Rasa

176 20 2
                                    

"Jo... bangun sayang," Sudah 3 hari keluarga Joana didatangkan sebagai hadiah untuk kerja kerasnya. Selama 3 hari itupun Joana terus menangis dalam dekapan ayahnya. Menangis hingga gadis itu tertidur.

Joana terlihat kurus, amat kurus jika dibandingkan dengan saudari kembarnya. Seakan tubuh gadis itu hanya terbuat dari tulang dan kulit.

"Jo... bangun, kita harus pergi dari sini."

"Ayah...??" Joana terbangun namun masih merasa linglung.

"Bangun sayang, kita akan pergi. Ayo kita pergi ketempat yang amat jauh. Kita mulai hidup baru disana."

"Tapi ayah.."

"Stttt... jangan ribut Jo. Ibu dan Juwita sudah menunggu diluar," Joana memberontak hebat. Gadis itu meronta saat ayahnya membekap bulutnya erat kemudian menyeret gadis itu paksa.

Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh keluar dari sini. Ayah, ibu dan adiknya bisa! Tapi tidak untuk Joana. Joana tidak boleh pergi. Ia tidak bisa pergi.

Namun, ayahnya tidak peduli. Ia tidak ingin putrinya lebih menderita. Mereka harus pergi. Sejauh-jauhnya dari neraka dunia ini.

Saat mereka sampai di pintu keluar, bunyi sirine terdengar menggema. Kurang dari satu menit, puluhan penjaga sudah mengepung mereka. Bahkan Juan Luciano ikut berdiri di garda paling depan.

"Berani sekali kau mencuri aset berharga kami." tubuh Joana bergetar mendengar suara dingin itu. Ia sudah di peringatkan. Ia sudah tahu ini akan terjadi. Ia memberontak hebat bukan karena ia tidak mau pergi, tapi karena ia tidak bisa.

Juan Luciano sudah memasangkan chip di tubuhnya, chip itu akan merangsang sirine berbunyi jika Joana berada di luar garis teritori mereka.

Bagi Juan, Joana adalah aset. Ia tidak akan membiarkan Joana pergi bahkan seinchipun dari kediamannya.

Jantung Joana kembali mencelus, napasnya terasa berat.

"Kami tidak berencana kabur." Ucap Joana berusaha tenang namun tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.

"Ayahku ingin mengajakku keluar untuk merayakan ulang tahunku. Kami akan pergi ke taman bermain." Juan Luciano tertawa terbahak-bahak. Ia tidak mempercayai Joana. Namun, laki-laki itu memutuskan untuk ikut ke dalam permainan.

"Sayangku," ucapnya dingin, "taman bermain belum dibuka jam 2 pagi. Lebih baik kita ke aula, menunggu sebentar lagi." Juan memberi kode kapada anak buahnya. Masing-masing dua orang yang menyeret ibunya dan Juwita. 4 orang menyeret ayahnya. Dan Juan Luciano merangkul Joana untuk melangkah bersama.

Dalam aula, sudah banyak yang menunggu.

"Joana, aku memberikan pilihan padamu," ucapan Juan menggema di seluruh ruangan.

Joana masih mematung, ia tidak mengerti.

"Kau bisa memilih ayahmu atau ibu beserta adikmu."

"Aku tidak mengerti," ucap Joana terbata. Tidak... sejujurnya ia sudah mengerti kemana arah pembicaraan ini.

"Bunuh ayahmu, kau bisa menggunakan pistol ini." Joana menggeleng, gadis itu mundur beberapa langkah, menjauhi Juan yang mengulurkan pistol padanya.

"Kalau kau tidak mau, maka ibu dan adikmu dengan terpaksa harus melayani seluruh anak buahku. Aku akan melatih mereka menjadi pelacur terbaik." Sedetik setelah juan mengatakan itu. Seakan kata-kata itu adalah aba-aba bagi para anak buahnya untuk merobek paksa pakaian ibunya dan Juwita. Jeritan kedua gadis itu menggema, sementara teriakan tidak setuju ayahnya ikut terdengar. Namun laki-laki itu tidak bisa membantu. Sekeras apapun ia memberontak, ia tidak bisa melepas diri dari keempat anak buah Juan Luciano.

Stuck In LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang