10. Rancangan Kematian

203 21 2
                                    

"Aaarrrhhh!" Langkah Raza terhenti saat suara teriakan gadis itu menggema.

Sialan! Rasanya sakit sekali saat melihat wajah pucat gadis itu, nafasnya memburu, wajahnya berkeringat. Batin Raza menatap gadis itu prihatin, penuh kecemasan.

Tatapan mereka bertemu, mata Joana berkaca-kaca penuh dengan air mata. Sesaat gadis itu terlihat bingung, kemudian ia menyeringai. Joana mengusap wajahnya mengatur nafasnya.

Ia tidak lagi terlihat penuh emosi, Raza baru menyadarinya. Bahwa wajah dingin itu adalah topeng yang Joana gunakan untuk menutupi sakit yang ia rasakan. Butuh waktu 5 menit penuh untuknya menenangkan diri, berganti menjadi si dingin yang mematikan.

"Apa yang dilakukan pak polisi didalam ruang tahanan?" tanya Joana dengan nada dingin. Raza tidak sanggup menahan rasa bangga melihat gadis itu dengan cepat menguasai diri. Namun dilain pihak, hatinya meronta.

Raza Ingin meminta Joana menanggalkan semua topeng itu, Joana kau boleh menangis, kau bisa menangis di depanku. Aku akan berusaha menjagamu, takkan kubiarkan siapapun melukaimu bahkan seujung rambutmupun.

"Apa yang kau mimpikan sehingga membuatmu selalu menjerit dini hari seperti ini?" Tanya Raza dengan nada lembut, sebisa munggin meraih hati gadis itu, yang sudah sejak lama membusuk.

"Apakah itu termasuk kedalam list pertanyaan negaramu, Pak?" jawabnya dengan seringai melecehkan. Seandainya hati laki-laki itu tidak memilihnya, atau seandainya gadis itu adalah seorang laki-laki. Sudah bisa dipastikan peluru menembus tepat dijantungnya.

"Joana!" ucap Raza dengan nada rendah, berusahan bersikap mengancam, sayangnya tidak setegas yang Ia harapkan. Tentu saja gadis itu tidak merasa takut, ia bahkan terlihat bosan. Kehidupan ini mulai terasa amat membosankan dimatanya.

Seandainya saja aku  bisa merubah pandangannya itu. Rasa menunduk sendu

"Raza?" balas Joana dengan nada menggoda, gadis itu berdiri kemudian mendekat kearah Raza. Menempelkan tubuh mereka sampai tiada jarak sedikitpun diantaranya.

Seakan perjaka, senjata Raza mulai mengeras dibawah sana. Ah.... sialnya Ia memang seorang perjaka, bahkan hanya dengan melihat wajah Joana, laki-laki itu bisa langsung mengeras tanpa aba-aba.

"Apa yang kau inginkan dariku?" bisik Joana tepat di telinga Raza. Kedua telapak tangannya membelai dada Raza, diiringi dengan paha yang membelah kedua tungkai laki-laki itu, bahkan lutut gadis itu menekan ringan tepat diujung miliknya.

"Keluarlah dari sini," ucapnya kemudian.

Raza menatap mata Joana, saat gadis itu  memberikan senyum miring andalannya.

Ah... sialan, sebentar lagi pukul 6 pagi dan aku harus mandi dengan air dingin. Raza mendecih sebal.

"Kenapa Raza? apa kau marah? Kalau begitu kenapa tidak kau tembak saja aku?" tantangnya sambil kembali mengelus dada Raza. Gadis itu menatap permukaan datar itu lekat, seakan ia memang menyukainya.

Sialan! Aku semakin mengeras. Jujur saja, ia terlihat sangat menggoda. Aku harus segera mengakhiri ini. Sebelum setan menguasaiku dan membuatku terpaksa memerkosanya. Raza mendorong gadis itu ringan, mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke kepala Joana. Tentu saja Raza tidak akan menembak, daripada menembakan peluru, akan lebih menyenangkan jika Ia menembakan spermanya kedalam rahim Joana.

Ah... otak perjakanya yang sungguh kotor.

"Aku tidak wajib menjawab pertanyaanmu sekarang, 'kan? Tanyakan saja besok! Bersama pertanyaan-pertanyaan negaramu itu. Mungkin aku akan mengira pertanyaan itu tidak bersikap pribadi." ucap Joana dengan nada serius, Raza hanya mampu mengangguk. Otak laki-laki itu seperti benar sudah rusak, bahkan wajah mengancam Joana-pun terlihat sangat cantik dimata Raza.

"Kembalilah tidur. Aku akan menanyakannya nanti. Begitu pula penawaranku kemarin." Raza melangkah keluar dari selnya. Menutup pintu itu dengan pengamanan ekstra. Sembari memikirkan apa yang harus Ia perbuat.

Negaranya atau cinta pertamanya, keduanya sungguh hal yang penting yang ingin Ia pertahankan.

Raza belum pernah merasakan cinta seumur hidupnya. Baginya Joana bukan hanya gadis pertama, ia ingin gadis itu menjadi yang terakhir.

Yah... memang menjijikan saat mendengar kata-kata laki-laki yang sedang menggilai wanita. Bahkan pujanggapun kalah alaynya.

-------

"Kau benar ingin melakukan ini?" Daniel menatap Raza sanksi.

"Menurutmu?" tanya Raza tanpa melirik, masih menulis surat-surat di atas kertas kosong.

"Kita tidak harus menerima serangan mereka! Kita sudah tau rencana penyerbuan mafia-mafia itu. Kita harus tingkatkan keamanan dan ungsikan beberapa orang."

"Harus? Disini yang memberi perintah aku atau kau, Daniel? Jika kau keberatan dengan keputusanku, kau boleh pergi."

"Hanya demi seorang perempuan..."

"Aku tega mengorbankan rekan-rekanku? Begitu?" Raza memotong kata-kata Daniel tidak sabar. Ia sudah cukup merasa bersalah dengan keputusan sepihaknya. Laki-laki itu tidak membutuhkan rengekan-rengekan Daniel untuk membuatnya semakin merasa berdosa.

Pintu ruang kerja Raza terbuka dengan kasar. "Pak," keterkejutan Daniel dengan nada sedikit bergetar, laki-laki itu membungkuk dalam-dalam. Membuat Raza mendongak mencari penyebab ketakutannya.

Raza menghela napas panjang, masalah lagi.

"Saya ingin berbicara bedua saja," ucapnya, membuat Daniel keluar secepat yang ia bisa.

"Otakmu kemana?" Bahkan sampai sekarangpun laki-laki itu masih saja mampu membuat Raza tidak dapat berkata-kata.

"Masih tetap berada dalam kepalaku, tapi mungkin sudah tidak bisa bekerja."

"Hanya karena seorang pelacur..."

"Dia bukan pelacur ayah!"

"Dan kau bukan manusia sembarangan Raza! Kau adalah abdi negara! Apapun itu kau harus meletakan kepentingan negara diatas segalanya!"

"Ayah... apakah aku pernah meminta sesuatu padamu?"

"Dan sekalinya kau meminta sesuatu, itu adalah hal yang tidak masuk akal! Kau goblok atau dungu, HAH? gunakan akal sehatmu! Pakai nalarmu!"

"Aku jatuh cinta ayah..."

"Kau hanya merasa kasihan nak! Itu bukan cinta. Ayah tidak percaya ini! Kau, putraku yang selalu aku banggakan, yang selalu ibumu manjakan. Tega meninggalkan kami untuk gadis yang beru beberapa hari kau kenal?"

"Hatiku berdebar, Ayah. Debaran yang tidak pernah kurasakan selama ini. Percayalah, keputusan inipun sangat sulit untuk kujalani. Tapi, aku pergi bukan untuk mati, aku pasti kembali."

"Masih banyak gadis diluaran sana, Raza!"

"Tentunya! Tapi tidak ada yang seperti dia."

"Ya iya lah bocah tua goblok! Mana ada wanita yang lebih kejam dari wanita itu! Penculik, pembunuh, penjual narkoba, penjual senjata tajam, sungguh banyak sampai tidak satupun tindakan kriminal yang tidak dia lakukan! Jangan senyum-senyum Raza! Ini bukan sebuah pujian."

Aku? Tersenyum? Sejak kapan aku menjadi seperti ini? Bahkan hanya dengan mengingat wajahnya saja aku menjadi seperti ini. Joana... apa yang telah kau perbuat padaku? "Keputusanku sudah final, Ayah. Tidak ada seorangpun dibumi ini yang bisa mengubahnya. Aku menginginkan Joana, dan aku pasti akan mendapatkannya walau harus menjual diriku pada iblis sekalipun!"

"Seandainya saja kau bukan putraku satu-satunya, kau sudah kucoret dari kartu keluarga!"

"Aku juga mencintaimu, Ayah."

"Bocah sialan! Walau kaki dan tanganmu terputus, kau tetap harus hidup."

"Tentu saja, dan aku tidak akan kembali sendirian. Aku akan membawakanmu seorang menantu, kalau bisa... sekaligus dengan cucu."

"Jangan banyak janji, kau perjaka karatan! Aku bahkan ragu kau bisa menaklukan hati gadis itu!"

"Ck..."

TBC

Stuck In LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang