6. Setitik Cahaya yang Kembali Memudar

189 21 1
                                    

"Tidak! Lepaskan! Kumohon!" teriakan pilu Agatha tidak mampu menggugah belas kasihan binatang-binatang itu.

"Agatha tenanglah! Tenang! Buka matamu," bisik seorang laki-laki dengan nada lembut tepat di telinga Agatha. Suara itu mampu menghipnotisnya, membuat Agatha reflek membuka mata.

Laki-laki itu tersenyum, kedua mata mereka bertemu. "Kau aman sekarang! Aku adalah salah satu pegawai Bian. Walaupun aku tidak dapat menyelesaikan tugasku, setidaknya Bian tidak akan membunuhku karena telah menyelamatkan wanita yang dia cintai bukan? Kau mau kan membantuku menjelaskan padanya?" Agatha mengangguk. Walaupun tubuh gadis itu masih bergetar, isak tangisnya masih terdengar, namun rasa takutnya sudah berkurang separuh. Agatha menatap sekelilingnya.

Belasan tubuh tergeletak bersimbah darah, "Apa yang akan terjadi?" tanya Agatha terbata.

"Kita akan pergi, aku sudan sering keluar masuk tempat ini. Aku akan mengembalikanmu pada Bian. Sudah... berhenti menangis, kau akan baik-baik saja sekarang," laki-laki itu mengusap air mata Agatha dengan ibu jarinya. Menuntun Agatha berdiri. Merapikan pakaian gadis itu, yang sudah penuh dengan sobekan.

"Kau kuat berjalan?" tanyanya. Agatha hanya mampu mengangguk tanpa bisa berucap sedikitpun. "Baiklah... kita akan berjalan pelan... berjalan sangat pelan sampai suara kaki kita tidak terdengar. Apa kau mengerti?" Agatha kembali mengangguk. Sejujurnya ia tidak mempercayai laki-laki ini.

Apakah laki-laki ini benar pegawai kekasihnya, ataukah hanya salah satu penculik yang sedang menyamar. Namun serangan tadi telah melumpuhkan otaknya. Agatha tidak lagi bisa berfikir. Tubuhnya kini tanpa jiwa. Lagipula mengikuti laki-laki ini atau tidak, ia akan tetap mengalami kemalangan. Setidaknya, dengan mengikuti laki-laki ini, ia tidak akan diperkosa oleh belasan laki-laki.

Mereka melangkah dalam diam. Laki-laki itu tidak berbohong, ia benar-benar sangat mengetahui seluk beluk ruangan ini. "Sebentar lagi kita akan sampai di pintu keluar," Agatha mengangguk. Sebentar lagi. Sebentar lagi ia akan bertemu Bian. Sebentar lagi ia akan kembali pada keluarganya. Tampa sadar pikiran-pikiran itu membuat langkah Agatha semakin cepat.

Laki-laki itu tersenyum senang melihat semangat hidup Agatha kembali berkobar. Tertular oleh rasa bahagia Agatha. Laki-laki itu membuka pintu keluar dengan senyum mengembang di bibirnya.

Agatha menjerit! Bola matanya membulat. Laki-laki yang membantunya itu tersungkur, dengan mata membelalak dan darah mengalir deras dari keningnya. Asap senjata api itu masih terlihat, bahkan suaranya masih mendengung di telinga Agatha. Kebebasan didepan mata, hanyalah sebuah fatamorgana. Nyatanya tuhan kembali mempermainkannya.

Sosok Samuel tersenyum menyebalkan dengan pistol masih mengarah kesebelah Agatha.

"Terimakasih Agatha, atas bantuanmu, kami bisa menemukan orang suruhan Bian ini. Kamu telah membunuh orang ini Agatha. Karenamu, dia harus mati. Taukah kau, laki-laki ini baru satu minggu menjadi seorang Ayah."

Agatha berteriak! Ia meremas rambutnya! Tidak! Ia tidak cukup kuat untuk menerima cobaan ini! Kenapa? Kenapa orang-orang harus mati karenanya? Kenapa tuhan harus menghancurkan hidupnya? Kenapa dia? Kenapa harus Agatha?

Tubuh gadis itu meluruh, dunia terasa gelap. Agatha........pingsan.

"Bawa gadis ini kedalam sel. Kita masih membutuhkannya untuk mengancam Joana!" Samuel memerintahkan anak buahnya.

"Kalian bisa mengancamnya. Tekan saja mentalnya, jangan beri dia makan, bahkan setetes airpun jangan!"

Flashback end

"Itulah yang terjadi padaku Jo," Aku terdiam, tidak mampu mengucapkan sepatah katapun. Hidup ini sulit. Juga menyakitkan. Terkutuklah mereka, orang biasa-biasa dengan kehidupan biasa. Mereka terlalu beruntung sehingga tidak harus menjadi sepertiku....atau... seperti Agatha.

Stuck In LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang