Part 5

6.8K 155 3
                                        

Vote!
Vote dong!

Ucapan Mama saat itu tidak terbukti. Toh, sampai saat ini aku baik-baik saja. Hamil dari mana? Masa' cuma sekali langsung isi. Setahuku, dalam pernikahan jarang seorang pasangan bisa langsung hamil. Walaupun ada juga sih, yang demikian. Coba pasangan di luar nikah, sekali tancap langsung hamil. Eh ... mengapa aku jadi sok tau begini, ya. Pikiran ngelantur ke mana-mana. Oh tidak. Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. Berharap semua pikiran-pikiran aneh ini terlempar ke luar.

Ponsel pintarku bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tak di kenal. Ternyata, sebuah panggilan wawancara di sebuah apotik.

Ya, setelah hubunganku dengan Randu merenggang, hidupku terasa hambar. Seperti sebuah patung manequin, yang keberadaannya tidak begitu dibutuhkan. Hanya sebuah pajangan. Maka dari itu, aku mencari pekerjaan yang sesuai dengan  bidangku, tanpa sepengetahuan Randu. Toh,  buat apa juga bilang-bilang padanya. Dia juga tak peduli. Aku bosan. Tidak mengerjakan apa-apa. Lagi pula ini juga buat jaga-jaga, jika suatu saat nanti Randu menceraikan diriku, aku sudah mandiri secara finansial.

"Sudahlah Nduk, biar Mama yang kerjakan. Kamu diem saja. Jaga kesehatan, ya!"  Selalu itu saja yang diucapkna ibu mertua saat aku hendak mwngerjakan rumah. Dia selalu berpikir aku ini sedang hamil. Hamil dari hongkong. Hufftt ....

Setelah membaca pesan itu, aku segera bersiap, wawancara akan di lakukan dua jam lagi. Sedangkan perjalanan dari rumah ke apotik itu memerlukan waktu sekitar dua puluh menit jika menggunakan motor. Namun, aku sudah tau pasti Mama tidak akan mengizinkan aku keluar sendiri. Ia akan menyuruh Randu, yang sedang tidak masuk kantor untuk mengantarkan aku. Sedangkan aku meminimalisir interaksi dengan laki-laki itu. Karena itu, aku memesan taksi online dari aplikasi ponsel.

Setelah siap, aku bergegas keluar kamar dengan langkah cepat, aku berpamitan sekadarnya, "Ma, Grey keluar sebentar, ya?"

"Kemana? Sendiri? Kenapa nggak minta anter sama Randu?"  Ibu mertua, memberondongku dengan pertanyaan.

Randu yang terlihat asik menonton televisi, hanya menoleh padaku. Pandangannya datar. Bahkan, bertanya pun tidak.

"Enggak, Ma. Grey udah pesen taksi kok."

"Loh, loh piye to, Randu?"

"Biar saja, ta, Ma. Mungkin ia sedang bosan di rumah. Gitu aja ribet amat sih."

"Eh ... eh ... kamu itu, istri sedang hamil kok--"

"Grey pergi dulu ya Ma. Taksinya sudah menunggu di luar."

Aku segera menyambar punggung tangan mertuaku. Lalu bergegas ke luar tanpa menoleh lagi.

"Eh, mbok ya pamit sama suami juga gitu lo.

Huft ... akhirnya aku bisa bernapas lega. Bisa keluar rumah dan lepas dari kungkungan ibu mertua, yang harus beginilah begitulah. Tidak boleh ini itu. Sikap Mama jauh bertolak belakang dengan Randu. Ibu mertuaku sangat perhatian bahkan cenderung lebay. Namun, anaknya justru semakin dingin dan cuek.

Tidak terasa, aku sudah sampai pada tujuanku. Ternyata apotek ini satu paket dengan dokter praktek juga. Strategi yang jitu menurutku. Terbukti dari banyaknya orang yang mengantre di apotek itu untuk dilayani. Padahal ini belum jam praktek dokter.

"Mari Mbak lewat sini," seorang apoteker mempersilakan masuk lewat pintu khusus, setelah aku mengutarakan maksud kedatanganku. Gadis bertubuh langsing dengan jilbab paris yang dibelitkan seadanya itu membawaku melewati lorong kecil, dengan kanan kiri penuh rak rak obat. Sampai di sebuah ruangan kecil, tepat di bagian belakang apotik itu ia mengetuk pintu lalu meminta aku masuk.

Terlihat seorang wanita berkulit putih, dan rambut sebahu sedang duduk di kursi kerjanya menghadap sebuah laptop. Menyadari kedatanganku, wanita cantik itu mengalihkan pandangannya dari layar sebelas inchi di hadapannya. Lalu berdiri menyambutku dengan senyum terkulum. Dari sana aku tau, ternyata dia sedang hamil tua.

"Selamat datang, Mbak. Kenalkan saya Novita Indri, pemilik apotik." Aku hanya tersenyum yang aku buat sesopan mungkin, dengan disertai anggukan kepala.

"Mbak, Greycia Wulandari saya lihat di CV ini pernah bekerja di RS Mitra Husada, ya?"

"Iya, Bu."

"Panggil, nama aja, atau Mbak juga nggak apa-apa kita seumuran kok." "Lalu mengapa resign. Itu rumah sakit bonafit lo. Biasanya yang kerja di sana, orang orang pilihan. Apalagi farmasis."

"Saya disuruh resign sama suami, Mbak."

"Oh, repot memang jadi perempuan. Mesti nurut kata suami. Untung suamiku nggak gitu." Wanita di hadapanku berkata lugas diakhiri dengan tawa yang renyah.

Aku hanya tersenyum pahit menanggapi. Mungkin akan terlihat lucu bagi orang yang tidak mengalami sendiri.

"Kok, sekarang Mbak kerja lagi. Udah dibolehin?" cetus wanita yang tengah hamil itu. Aku menjawab pertanyaanya dengan anggukan takzim.

Wawancara macam apa ini, tidak ada sangkut pautnya sama pekerjaan yang hendak aku lamar. Kalau sedang tidak butuh pasti aku akan pergi saja. Begini ya jadi orang kaya. Bebas berbuat apa saja!

"Oh ya, mbak. Apotik di sini buka 24 jam, jadi ada tiga shift. Setiap shift akan ada dua orang yang bertugas. Untuk satu minggu pertama, Mbak akan kebagian shift pagi, minggu berikutnya siang dan selanjutnya malam. Namun ingat, mbak harus siap jika sewaktu-waktu menggantikan sift teman secara mendadak."

"Jadi, saya diterima?"

"Ya. Mbak bisa bekerja mulai besok pagi."

"Alhamdulillah," gumamku pelan.

"Istirahat siang dari jam dua belas sampai jam satu siang. Tapi gantian ya, sama yang lain. Terus hari minggu dan hari besar apotik ini juga tutup. Masalah gaji, kita pakai patokan UMR kabupaten. Nanti akan ada hitungan tersendiri untuk lembur. Dan gaji akan diberikan setiap tanggal dua puluh lima. Bagaimana, ada keberatan?"

"Wah! Cerewet amat kamu, Dek!"

Suara lelaki yang tak asing di telingaku, menyela pembicaraan kami. Entah sejak kapan ia berada di ruangan itu. Mungkin saking asiknya mendengarkan Novi berbicara, aku sampai tak menyadari kehadirannya. Segera aku membalikkan badan, untuk mengetahui siapa yang datang.

Ya Tuhan ... mengapa dia harus muncul di hadapanku saat ini? Jangan-jangan dia adalah suami Novi? Tidak! Aku mohon jangan.

Wajahku terasa pias. Namun lelaki yang sangat aku kenal ini, justru mengulum senyum manis. Dua lesung pipi yang pernah membuat hati ini tergila-gila, tergambar sempurna di wajah oriental itu.
Untuk sesaat aku terpaku.

Hati ini tiba-tiba bergemurih, aku benar-benar tak berharap bertemu dengannya saat ini. Tuhan ... tolong, aku butuh pekerjaan ini. Namun, jika aku harus bekerja sebagai bawahan istrinya, apa kata dunia?

Next






Darah Perawan (OPEN PO)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang