Philosophy

3.7K 700 60
                                        

Thanks for all of your love and support guys!

Don't forget to click vote!

.

©disclaimer all of this story line belongs to 'Flipped' production house

.

Britania Raya, 1962

Kelas satu SMP membawa perubahan yang cukup besar dalam hidup seorang Kim Taehyung, namun perubahan terbesar tak terjadi di sekolah, melainkan dirumah kediaman tuan Kim. Well, kakeknya mulai tinggal dengan keluarga mereka dan jujur saja, itu membuat Taehyung merasa sedikit 'aneh'.

Kakeknya hanya akan mendudukkan diri di atas kursi di depan jendela sepanjang waktu, menatap pekarangan kotor keluarga Brüschweiler yang tak layak pandang sama sekali bersama surat kabar ditangannya. Ibunya bilang kakeknya seperti itu karena merindukan sang nenek, dan itu bukanlah sesuatu yang ingin kakeknya ceritakan pada Taehyung.

Faktanya, dia tak pernah berbicara dengan Taehyung.

Tidak pernah, sejak tahun awal kedatangan kakeknya kerumah mereka hingga Lalice tiba-tiba muncul dalam harian lokal.

Pagi itu Taehyung akan berangkat sekolah, ia baru saja menghabiskan segelas susu cokelatnya saat sang kakek tiba-tiba secara ajaib melafalkan nama Taehyung dan mencegat langkahnya dari kursi kebesarannya di depan jendela tersebut.

"Taehyung, boleh aku bicara denganmu?"

"Apa?"

"Duduklah nak". Kang Sung Hoon, ayah dari ibunya itu tersenyum saat melepaskan kacamata bacanya. Taehyung masih mengernyit, saat mengambil tempat disatu sisi sofa ruangan tatkala sebuah nama yang tak terduga meluncur Dari bibir sang kakek. "Ceritakan soal temanmu, Lalice Brüschweiler"

Uh... Ekspresi Taehyung berubah aneh, ia tersenyum canggung. Terlihat enggan membahas nama itu, ia menggeleng pelan.

"Lalice.. Bukan temanku"

"Oh.. Kenapa begitu?"

"Kenapa kau ingin tahu?"

Kakeknya tak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum lebar sambil memberikan harian lokal ditangannya pada Taehyung.

Oh, sial.

Lalice takkan masuk The Mayfield Times karena menjadi Einstein di kelas dua SMP, dia masuk halaman depan karena menolak turun dari atas pohon Sycamore. Benar, benar sekali. Hal bodoh, tindakan konyol, ingatan yang menyebalkan.

Lalice Brüschweiler dan pohon Sycamore bodohnya.

Dia selalu percaya segala hal yang terjadi merupakan berkat Tuhan.

"Aku tahu kenapa ayah selalu suka berada diluar sini"

"Nah, bisa kau jelaskan pada ibumu?"

Lisa tersenyum kecil, menatap jemari sang ayah yang begitu telaten menuangkan setiap warna kedalam kanvasnya. Lisa selalu suka melihat sang ayah melukis, moment favoritnya adalah mendengar sang ayah yang berbicara selagi dirinya tengah melukis. Dia belajar banyak tentang sang ayah dengan hal itu, ayahnya memberitahu Lisa banyak hal.

🎥 FLIPPED [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang