TtS (Dua)

96 8 6
                                    

Jibeom terlihat keluar dari ruangan guru. Sepertinya Jibeom telah bertemu dengan Guru Park untuk mengikuti ujian susulan. Raut wajahnya terlihat biasa saja, tak terlihat ada masalah sesuai dengan prediksi Chaewon . Namun, ucapan Guru Park beberapa menit yang lalu tak dapat dipercaya.

'Aku tahu kertas contekan itu bukan milikmu, mana mungkin seorang Jibeom, siswa yang paling pintar di SMA Hanlim mencontek saat ujian. Saem mengira kalau kertas itu milik Chaewon , apa Saem benar?'

'Chaewon itu anak yang baik, hanya saja dia tidak pintar sepertimu.'

'Bantulah Chaewon dalam belajar, itu adalah tugas untuk mengganti ujian matematika untukmu'

"Sial! Aku benar-benar tak mengira kalau akhirnya akan jadi begini. Si anak idiot itu benar-benar membuatku dalam masalah. Haish!! Bagaimana aku bisa mengajari gadis idiot seperti itu kalau kesan pertama sudah menjengkelkan." Jibeom menggerutu dalam hati. Ia berjalan sepanjang koridor menuju kelasnya. Banyak di antara siswi yang memperhatikan bahkan membicarakannya karena ketampanan dan kharismanya yang tak terelakkan. Jibeom sekali lagi tak bergeming. Ia sudah terbiasa mendapat perhatian dari banyak gadis di sekolahnya.

Setelah berjalan di sepanjang koridor, tibalah Jibeom di depan kelas. Jibeom segera duduk di bangkunya tanpa banyak bicara. Itu adalah kesan cool yang selalu ia tampilkan. Sementara Chaewon yang duduk di sebelahnya malah semakin menunduk. Ia tak ingin menatap Jibeom setidaknya untuk hari ini. Chaewon belum siap jika Jibeom tiba-tiba teringat kejadian saat ujian matematika kemarin dan kembali membuat perhitungan dengannya.

Lain dengan Chaewon, lain lagi bagi Jibeom. Kejadian kemarin sama sekali tak pernah Jibeom lupakan. Yang ada di pikiran Jibeom adalah, memikirkan jalan keluar agar dirinya tak harus menjadi guru pembimbing untuk Chaewon . Atau bagaimana caranya agar bisa mengajari anak idiot itu tanpa harus bertemu, atau bahkan hal terburuknya adalah bagaimana memulai mengajari Chaewon tanpa terlihat aneh. Berbagai pemikiran berputar di benak Jibeom namun ia sama sekali tak menemukan jalan keluarnya. Memikirkan hal ini sungguh lebih membuatnya pusing dibandingkan dengan soal matematika.

Selang beberapa menit, Guru Jung memasuki ruang kelas. Semua siswa telah bersiap di meja masing-masing, tak terkecuali Chaewon . Guru Jung terlihat membawa setumpuk kertas di tangan kirinya yang diyakini itu adalah hasil ujian para siswa. Guru Jung yang terkenal cantik di kalangan para guru adalah pengajar sejarah, namun setiap dia menerangkan pelajaran, seringkali para siswa mengantuk. Hal itu juga berlaku bagi Jibeom. Tak jarang Jibeom pun ikut terlelap saat pelajaran tersebut.

"Hari ini Saem akan membagikan hasil ujian sejarah kalian, Saem akan mengumumkan tiga orang dengan nilai tertinggi dan terendah. Dengarkan baik-baik." Guru Jung membuka buku jurnalnya untuk mengumumkan siapa saja siswa yang mendapat peringkat tertinggi dan terendah.

"Peringkat ketiga adalah Park Minji, kedua adalah Kim Donghyun dan peringkat pertama sudah pasti adalah Kim Jibeom," papar Guru Jung sejelas-jelasnya dan disambut tepuk tangan siswa seisi kelas.

"Sudah aku duga, Jibeom memang yang terbaik. Walaupun aku sering melihatnya tertidur saat pelajaran, tapi ternyata IQ nya benar-benar bukan omong kosong," batin Chaewon, seiring bibirnya melengkung tersenyum sambil melirik ke arah Jibeom. Sementara Jibeom hanya bersikap seperti biasa saja, toh dia sudah biasa berada di urutan pertama.

"Sekarang Saem akan menyebutkan peringkat tiga terendah. Dengarkan baik-baik, siapapun yang namanya disebutkan, Saem harap kalian tidak akan ada lagi di peringkat terbawah untuk ujian selanjutnya."

Touch the StarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang