"It's in your eyes where I find peace."
-Secondhand Serenade
🌻
“Ya udah, Nin. Lo yang sabar aja ya. Orang tua lo cuma pengin yang terbaik buat lo.”
Luna baru saja sampai di ruang kelasnya saat melihat wajah murung Nindy, sahabatnya, yang kini sedang diberi motivasi oleh Mayang.
Mereka kemudian tersenyum pada Luna, yang tentu saja disambut oleh senyum hangat gadis itu. Senyum yang sebenarnya sangat jarang bisa disaksikan. Karena Luna adalah gadis pendiam yang memang jarang tersenyum, kecuali saat bersama sahabatnya. Itupun hanya senyum singkat.
“Kenapa, Nin?” tanya Luna saat ia sudah duduk di kursinya, di samping Mayang.
Luna memutar tubuhnya ke belakang untuk mendengar jawaban Nindy yang memang duduk tepat di belakang Luna dan Mayang.
“Gue nggak dikasih ijin daftar OSIS, Lun. Katanya takut gue kecapekan dan sakit gue kambuh,” jawab Nindy dengan nada memelas.
Mereka bertiga memang kompak berencana mendaftar sebagai pengurus OSIS. Hari ini adalah hari pengumpulan formulir. Orang tua Nindy tidak mau menandatangani surat persetujuan dalam formulir itu. Bukan tanpa alasan. Anindyaswari, atau akrab disapa Nindy itu menderita asma sejak beberapa tahun terakhir. Nindy selalu dibatasi dalam beraktivitas, lelah sedikit saja bisa membuat asmanya kambuh.
“Ya udah, kalo gitu gue nggak jadi daftar juga deh,” balas Luna. Ia paling tidak tega melihat orang-orang terdekatnya sedih.
Memang sih, dia dan Nindy baru kenal sekitar dua minggu. Mereka dipertemukan setelah masa pengenalan lingkungan sekolah di kelas X IPA 4. Sementara Mayang, ia adalah teman Luna sejak SMP kelas satu. Mereka selalu saja dipertemukan dalam kelas yang sama setelah itu.
Mendengar pernyataan Luna, Mayang ikut mengiyakan, tapi Nindy dengan tegas menggeleng tidak setuju.
“Jangan, kalian harus tetep daftar walau tanpa gue. Kan kalian dari dulu juga ikut OSIS. Masa iya di SMA ngga ikut,” pinta Nindy pada kedua sahabatnya.
Terlalu singkat sebenarnya jika Mayang dan Luna ia kategorikan sebagai sahabat, tapi memang Nindy sudah menganggap mereka sahabat. Orang-orang yang mau menerima Nindy apa adanya. Dan selalu sigap membantu saat yang lain memilih acuh.
Contoh saat pertama kali masuk kelas X IPA 4, asma Nindy kambuh. Teman sebangkunya, Diana, hanya menatap ilfeel ke arah Nindy. Teman-teman satu kelasnya pun bersikap acuh, hanya menyuruh Nindy beristirahat ke UKS, padahal dalam kondisi seperti itu, Nindy tidak mungkin mampu berjalan sendirian ke UKS. Tapi Mayang dan Luna dengan sigap mencari inhealer-nya dan segera membantunya untuk beristirahat di UKS. Maka sejak saat itu, Nindy menjadi lebih dekat dengan Mayang dan Luna.
“Pokoknya kalian harus tetep daftar, ya? Please,” ujar Nindy dengan nada sedikit memaksa.
Mayang dan Luna saling berpandangan sebelum akhirnya mengangguk. Dan pada saat itu pula, dua orang pengurus OSIS yang bertugas mengambil formulir ke kelas mereka muncul di ambang pintu. Mayang dan Nindy melongo saat melihat siapa yang datang. Sedangkan Luna mengalihkan pandangannya pada langit-langit ruang kelas. Ia paling tidak bisa menatap satu sosok diantara kedua orang itu.
Altair Angkasa.
Sosok bermata biru yang membuat hati Luna luluh lantak hanya dengan menatapnya. Sampai sekarang bahkan Luna tidak tahu kenapa. Yang jelas, sosok Angkasa membuatnya teringat seseorang yang telah pergi meninggalkannya. Dua tahun silam.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUNARIA [SUDAH TERBIT]
Teen Fiction[COMPLETED] "Kita adalah dua bintang dari rasi berbeda yang sayangnya memiliki luka yang sama." -Lunaria Kisah tentang Luna yang diam-diam memiliki ketakutan terhadap hujan, sejak kehilangan menyakitkan yang me...
![LUNARIA [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/177400962-64-k50325.jpg)