(33) LELUCON SEMESTA

2.3K 121 9
                                        

"Semesta kembali mengajak bercanda dengan lelucon takdir yang menyapaku. Bisakah disudahi saja? Aku sudah teramat lelah dengan leluconmu."

-Lunaria Giovanni Adara





BUDAYAKAN VOTE DAN KOMEN!!!



🌻






“Pa— Papa?”

Suara lirih itu mampu membuat punggung Giovanni menegak. Pelukannya terhadap Revita melonggar, lalu dilepas paksa saat ia menemukan Luna berdiri di belakangnya dengan mata berkaca-kaca. Pergolakan batin sedang terjadi dalam diri Luna. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Luna, kok kamu bisa disini?”

Meskipun terkejut dan cemas, tapi Giovanni berusaha bersikap normal, pun nada bicaranya terkesan datar.

“Maksudnya apa, Pa?” Kali ini Luna mundur dan memaksa Giovanni untuk ikut Luna ke luar ruangan.

“Revita itu temen papa, tapi sejak setahun lalu kondisi psikisnya terganggu,” ucap Giovanni sambil menunduk, tak berani melihat wajah Luna yang menatap tajam ke arahnya.

“Kalau itu emang temen papa, kenapa kemarin mama kesini dan nangis di ruangan tante itu?” Luna menuntut penjelasan sejelas-jelasnya. Ia masih tidak mengerti situasi yang sebenarnya.

Giovanni menghela nafas. Ia bahkan tidak tahu Riani sekarang dimana dan bagaimana perasaannya. Tapi untuk sekarang, ia harus berusaha agar puterinya tidak kecewa padanya. Meski dengan cara menyembunyikan kenyataan sebenarnya.

“Mama kamu salah paham, Luna. Dia kira papa sudah macam-macam di belakang dia.”

Luna mengangkat wajahnya, menatap tak percaya ke arah Giovanni. Tapi pria itu mengangguk, mencoba meyakinkan Luna bahwa semua ini hanyalah salah paham. Akhirnya Luna menghela nafas lega dan memeluk papanya erat. Merasa bersalah karena telah memiliki kecurigaan pada Giovanni.

Sedangkan Marcel kini bersembunyi di balik belokan, dia mengepalkan tangan, dan berlalu pergi untuk mencari cara agar kenyataan terbongkar secepatnya.

🍓

Ekskul jurnalistik baru saja selesai. Tapi Luna belum beranjak dari sekolah karena harus menunggu Angkasa yang masih sibuk di lapangan futsal indoor belakang. Luna duduk di depan aula sambil memandangi Angkasa yang berkeringat dan bagi Luna itu pemandangan yang memporak-porandakan hatinya. Bagaimana ia tidak terpesona dengan manusia sekeren itu?

Hampir saja Luna mengarahkan kamera handphone dan memotret Angkasa diam-diam saat sebuah tangan menyentuh pundaknya. Ia tersentak melihat Aura berada di belakangnya.

“Hei, Luna. Boleh minta waktu lo bentar?” tanya Aura sembari duduk di samping Luna.

Luna mengangguk, lantas memperhatikan kakak kelas sekaligus senior di ekskulnya itu yang nampak akan berbicara serius.

“Gue mau ngomong sesuatu, tapi bukan berarti gue mau ngomporin lo yah,” ujar Aura setengah berbisik sambil sesekali melirik ke arah Angkasa.

“Ayu udah cerita semuanya ke gue, dia pindah kesini karena dia pengin tau cewek mana yang udah bikin Angkasa menjauh. Dan dia pengin memperbaiki hubungannya sama Angkasa yang akhir-akhir ini memburuk.”

LUNARIA [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang