(44) DROPPING THE TEARS

2.7K 115 2
                                        

"Menangis memang mampu meredakan rasa sakit, sementara. Karena ada beberapa luka yang membekas selamanya."

-Lunaria Giovanni Adara

🌻

Yang dilakukan Dito sejak tadi hanyalah menghela napas, berusaha menenangkan diri. Kaos peach-nya berubah gelap karena noda darah. Begitu juga dengan Angkasa yang telah membantu Dito untuk membawa Marcel ke rumah sakit setelah dihajar habis-habisan oleh Dito. Dan, ya, Angkasa membawanya ke rumah sakit yang sama dengan tempat Giovanni. Bedanya, Giovanni sudah dipindah ke ruang rawat, sedangkan Marcel masih terbaring di UGD.

Angkasa tahu, meski marah, Dito pasti menyesal telah menghajar kembarannya sendiri sampai tak sadarkan diri. Maka dari itu, Angkasa mencoba menenangkan Dito dengan berkata, “Dia bakal baik-baik aja, Kak.”

Dito mengangguk dan tersenyum tipis, berbanding terbalik dengan hatinya yang terasa hancur. Apalagi jika mengingat semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Terkadang Dito merasa menjadi manusia paling menderita di dunia. Orang tuanya berpisah, bundanya terkena gangguan kejiwaan, ayahnya sibuk bekerja dan sebentar lagi akan menikah, lalu kembarannya sangat susah diatur. Sampai Dito sering merasa hidup seorang diri.

“Gue minta maaf sekali lagi, Sa,” lirih Dito dengan rasa penyesalan yang menumpuk.

Menyesal. Dito menyesal karena gagal mengawasi Marcel. Gagal membantu ayahnya untuk mengurus Marcel. Ia sudah gagal.

“Lo nggak salah, Kak.”

Angkasa kini teringat tentang Riani dan Luna. Ia masih ingin tahu tentang permasalahan yang terjadi sebenarnya antara keluarga Luna dan keluarga Dito.

“Kalau boleh gue tau, sebenernya keluarga Luna ada masalah apa sama keluarga Kak Dito?” Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Angkasa. Tentu saja, raut wajah Dito berubah tegang.

“Bunda gue pernah ada hubungan gelap sama om Gio di masa lalu. Kurang lebih dua tahun lalu.” Akhirnya Dito meyakinkan diri untuk bercerita. Tidak ada lagi gunanya menutup-nutupi karena Luna juga sudah tahu tentang masalah itu.

“Akar masalahnya cuma itu. Dan lo tahu akibatnya?”

Angkasa masih setia mendengar cerita dari Dito. meski Angkasa sendiri merasa tidak enak hati karena ekspresi Dito yang sekarang seperti sedang menyembunyikan kesedihan yang teramat dalam.

“Bunda gue bayar orang buat mencegah Bintang—kakaknya Luna cerita ke keluarga om Gio, karena om Gio saat itu sangat panik saat tiba-tiba Bintang dateng pas mereka lagi bermesraan di kantor om Gio. Om Gio sampai mengancam bakal ninggalin bunda kalo sampai keluarganya tahu tentang hal itu.”

“Akhirnya bunda nyuruh orang buat mencelakai Bintang. Niat awalnya cuma pengin mencegah Bintang cerita lebih cepet, tapi ternyata, orang suruhan bunda melakukan kesalahan fatal yang gue sendiri nggak bisa maafin.”

Dito menatap nanar tembok putih di depannya. Mengingat nama Bintang benar-benar membuatnya frustasi.

“Bintang meninggal karena ditabrak sama orang suruhan bunda.”

Refleks mata Angkasa terbelalak. Pantas jika Luna sangat terpukul beberapa hari kemarin hingga mengurung diri berhari-hari. Luna pasti hancur mendengar kenyataan ini.

“Dan lo tau, Bintang itu temen satu kelas gue sama Marcel di SMP,” lirih Dito, menggambarkan kehancuran yang begitu kentara.

“Sejak saat itu, ayah memutuskan buat ninggalin bunda. Bunda nggak terima dengan keputusan itu. Bunda depresi karena dalam waktu yang bersamaan, om Gio juga ninggalin bunda. Setelah bunda dirawat, kehidupan gue sama Marcel berantakan. Gue kayak nggak kenal Marcel lagi, Sa. Dia begitu kecewa karena bunda udah merenggut Bintang secara paksa, dan dia kecewa karena keluarganya hancur. Marcel bersikeras buat bales dendam sama keluarga om Gio.”

LUNARIA [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang