(7) LUKA YANG TERSAMAR

4.9K 197 1
                                        

"Bahkan mawar putih pun punya bayangan hitam."

-Unknown

🌻

Suasana meja makan rumah Angkasa malam ini lebih dingin dari biasanya. Hari ini, Arsen--ayah tiri Angkasa baru pulang dari perjalanan bisnisnya. Jika Miranda dan Titania merasa senang, justru tidak dengan Angkasa. Ia menatap makanannya tanpa selera.

"Ayah, minggu depan nonton tim futsalnya Kak Angkasa, yuk!" Suara Tania memecah keheningan, tapi Angkasa justru merasa suasana menjadi lebih kaku.

Arsen hanya menatap Tania tanpa minat, lalu melanjutkan makannya. Sudah bukan rahasia lagi jika Arsen dan Angkasa tidak pernah benar-benar seperti keluarga. Mereka tak pernah bertegur sapa apalagi pergi bersama. Walaupun begitu, Angkasa masih tetap menganggap Arsen sebagai ayahnya.

"Angkasa ke kamar duluan."

Kursi Angkasa berderit saat ia bangkit. Tak ada respon dari siapapun. Mereka yang ada di meja makan sibuk dengan pikiran masing-masing.

Langkah Angkasa berhenti saat menutup pintu kamarnya. Ia mematung di depan pintu. Seharusnya tidak seperti ini, Angkasa sudah bertekad untuk belajar menerima setiap kenyataan, bukan malah menghindari kenyataan.

Ia menghela nafas sebelum akhirnya memakai jaket abu-abunya dan mengambil kunci motornya.

Saat menuruni tangga, dilihatnya ketiga orang dalam rumahnya itu sedang tertawa entah karena apa. Yang jelas Angkasa merasa sessak melihatnya. Perlahan, anak tangga sudah habis ia turuni, ia melewati meja makan, Miranda dan Titania menatap ke arahnya, meminta penjelasan kemana pemuda itu akan pergi.

"Angkasa ke rumah Hanan dulu, Ma."

"Ati-ati, Kak."

Angkasa tersenyum miring saat berjalan menuju motornya yang terparkir di garasi samping. Setidaknya Tania benar-benar peduli padanya meski tahu Angkasa hanya kakak tirinya. Berbeda dengan Miranda yang merupakan ibu kandungnya tapi seringkali acuh pada pemuda itu.

Setelah menyalakan mesin motonya, Angkasa melaju dengan kecepatan tinggi. Tujuannya hanya satu, melampiaskan beban yang seolah menumpuk di pundaknya. Rasa sakit yang tak terlihat mata. Malam ini, setidaknya Angkasa harus pergi untuk menenangkan diri.

Angkasa baru saja akan berbelok ke kanan saat tiba-tiba sebuah motor hampir menyerempetnya. Angkasa merasa kesal bahkan sampai mengumpat. Tak lama, pengendara motor tadi menghampirinya tanpa melepas helm. Angkasa terkejut bahkan terbelalak saat sosok itu menghantam pipinya dengan pukulan keras.

"Apa-apaan lo!" Emosi Angkasa kini tak terbendung. Rahangnya mengeras. Wajah yang biasanya ramah itu kini memerah karena luka bekas pukulan dan menahan marah.

"Lo berengsek, Angkasa! Lo pantas dihajar!" makinya dengan tangan terkepal dan masih dengan kepala yang tertutup helm.

Angkasa yang tak mengerti maksud lelaki misterius itu balas memukul. Emosinya meletup-letup tak terkendali.

"Maksud lo apa pengecut?!" Kali ini Angkasa yang memaki, lenyap sudah kesabaran Angkasa.

Bukannya menjawab, seseorang misterius itu justru memukul Angkasa lagi. Angkasa yang tidak siap dengan serangan itu pun tersungkur ke tanah.

"Sekali lagi lo nyakitin Zizi, lo bakalan habis di tangan gue!"

Setelah mengatakan itu, sosok itu pergi meningggalkan Angkasa yang masih meringis kesakitan.

🍓

"Kemana aja lo?"

Marcel baru saja menapaki lantai rumahnya saat kembarannya sedang berkutat dengan laptop di ruang tamu.

LUNARIA [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang