[COMPLETED]
"Kita adalah dua bintang dari rasi berbeda yang sayangnya memiliki luka yang sama."
-Lunaria
Kisah tentang Luna yang diam-diam memiliki ketakutan terhadap hujan, sejak kehilangan menyakitkan yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah tiga kali Luna mengabaikan panggilan masuk dari nomor yang sama, Luna kali ini berpikir untuk menjawab panggilan tersebut. Meskipun Luna tidak terbiasa menerima panggilan dari nomor tak dikenal, tapi Luna sangat penasaran. Sudah pukul sebelas malam dan penelpon itu tidak menyerah. Akhirnya Luna yang menyerah.
“Ha-“
Ucapan Luna dipotong oleh sang penelpon, “Halo, Lunaria Giovanni Adara.”
Luna mematung saat mendengar suara itu. Tidak mungkin salah. Itu suara Marcel. Meskipun Luna hanya beberapa kali mendengar suaranya, tapi Luna berhasil mengingatnya dengan baik.
“Masih inget gue?”
Di seberang sana terdengar suara sangat bising. Seperti banyak kendaraan bermotor yang sedang berada di sekitar Marcel.
“Apa maksud kak Marcel?” tanya Luna dengan suara bergetar, menahan marah.
Ia tidak habis pikir kenapa Marcel seperti sedang berusaha memasuki kehidupannya. Dan Luna tidak tahu apa maksud Marcel melakukan itu sampai-sampai mempertemukannya dengan seseorang di rumah sakit jiwa.
“Santai, Sayang. Besok sepulang sekolah, temui gue di depan ruang Mawar No 2.”
Mata Luna menyipit. Bukankah itu ruangan di rumah sakit kemarin? Dimana ia diserang oleh pasien wanita yang tak lain adalah ibu kandung dari Marcel.
“Dateng sendirian, jangan bawa siapapun. Apalagi pacar lo yang sok pahlawan itu.” Marcel terkekeh. Ia sendiri tidak tahu apa alasannya. Ia merasa geli saat mengingat sikap sok pahlawan Angkasa yang menyelamatkan Luna.
Meskipun Luna merasa tidak pernah berpacaran dengan siapapun, tapi ia tahu, orang yang dimaksud Marcel pasti Angkasa. Siapa lagi memang yang selalu datang menyelamatkannya?
Mengabaikan ucapan Marcel tentang Angkasa, Luna justru dengan berani bertanya, “Apa untungnya kalo saya datang?”
“Pertanyaan yang gue tunggu-tunggu.” Marcel kembali terkekeh. Entah apa yang lucu sebenarnya. Luna sampai kesal mendengar suara kekehan Marcel.