[COMPLETED]
"Kita adalah dua bintang dari rasi berbeda yang sayangnya memiliki luka yang sama."
-Lunaria
Kisah tentang Luna yang diam-diam memiliki ketakutan terhadap hujan, sejak kehilangan menyakitkan yang me...
"Padapuncakkehancuran ini, semestamengajarkan, bahwa tidak ada yang paling peduli, kecuali diri sendiri."
-Lunaria Giovanni Adara
🌻
Perlahan, Luna menuruni anak tangga yang menghubungkannya ke lantai satu rumahnya.
Di meja makan, tanpa Luna duga, Giovanni sudah duduk di sana. Tampak sedang berbincang dengan bi Asri yang sedang menata makanan di meja.
Perasaan sakit kembali menghampiri Luna yang bahkan sudah berusaha menenangkan diri dalam waktu empat hari. Rasa kecewa jelas masih tersimpan dalam diri Luna. Apalagi saat tahu penyebab kematian Bintang.
Sebelum kepergok, Luna segera kembali ke kamarnya. Ia belum siap bertemu Giovanni. Ia butuh waktu untuk memulihkan rasa percaya yang sudah hancur sepenuhnya.
Jika sebelumnya Luna sudah memaafkan takdir yang telah mengambil kakaknya, maka kini Luna belum bisa memaafkan kesalahan fatal yang telah membuatnya berpisah dengan kakaknya.
Luna kini memilih untuk memesan taksi online dan ia akan menunggu di kamarnya sampai taksi itu datang. Ia tidak akan turun sarapan. Namun, beberapa detik kemudian, pintu kamarnya diketuk dari luar. Dan suara yang sedang tidak ingin Luna dengar justru terdengar dari sana.
“Na, sarapan dulu.”
Luna tidak menjawab. Ia segera meraih sisir dan pura-pura sedang menyisir rambutnya saat ia mendengar pintu kamarnya dibuka.
Giovanni tersenyum menatap Luna, tapi Luna sama sekali tidak mau menatap Giovanni. Ia justru terus menatap pantulan dirinya di depan cermin.
“Luna,” lirih Giovanni.
Luna menghela napas. Ia memakai kembali tasya yang tadi sempat ia letakkan di atas kasur, lantas berbalik.
“Driver Luna udah dateng,” ucap Luna sebelum ia cepat-cepat keluar dari kamarnya.
Giovanni mengusap wajahnya frustasi. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang.
Kemarin, Giovanni menemui Riani di villa-nya yang ada di Bogor. Tapi wanita itu tidak berbicara sama sekali. Ia hanya mendengarkan sampai Giovanni berhenti berbicara dan pergi begitu saja. Tentu saja, perasaan Giovanni sangat kacau, apalagi melihat sikap Luna barusan. Ia menduga bahwa Luna memang sudah tahu semuanya.
Sedangkan Luna kini sudah menaiki taksi yang ia pesan. Namun, sebelum driver sempat melajukan kendaraannya, Luna meminta mengubah lokasi tujuannya. Ia tidak akan ke sekolah hari ini. Tak apa. Toh, di surat ijin yang ia lampirkan surat keterangan dari dokter itu ada keterangan bahwa Luna memerlukan waktu istirahat tiga sampai lima hari.
Dan kemarin saat Mayang serta Nindy menjenguknya, mereka menyarankan Luna untuk istirahat lagi. Selain mereka, Aksel juga datang. Tepat saat Luna jatuh pingsan dan bi Asri sedang panik. Sayangnya, orang yang Luna harapkan tidak datang. Jadi, mungkin lebih baik hari ini ia tidak ke sekolah. Menenangkan diri, juga hati.
Bukannya Luna ingin bermalas-malasan, tapi datang ke sekolah saat kondisinya tidak baik--terutama perasaannya--bisa membuat konsentrasinya hilang sama sekali saat pelajaran di kelas.
Setelah beberapa menit Luna duduk di kursi penumpang, akhirnya ia sampai di tempat tujuannya. Luna yang mengenakan outer untuk menutup seragamnya itu segera turun dari mobil dan memasuki area pemakaman yang sepi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.