"Semesta telah begitu banyak melukiskan luka lewat takdir yang tercipta pada jalan cerita yang ku punya. Sekarang, bolehkah aku bertanya, selanjutnya apa?"
-Lunaria Giovanni Adara
🌻
Pagi ini, hampir seluruh mata tertuju pada Angkasa dan Luna yang berjalan beriringan dari tempat perkir. Seharusnya itu bukan pemandangan langka mengingat Angkasa dan Luna sebelumnya juga sering berangkat bersama, tapi berkat kelakuan Angkasa yang tadi malam membagikan foto Luna saat berada di kedai pada akun instagram-nya, pemandangan ini menjadi tidak biasa.
Kebanyakan siswa di SMA Gemilang mulai berpikir bahwa mereka berpacaran, termasuk Ayu yang sejak semalam tidak bisa tidur setelah menerima voice call dari Angkasa dan melihat postingan Angkasa.
Dengan cepat, Ayu keluar dari mobil dan menuju kelasnya. Saat sampai di kelas, Angkasa sedang di-bully seisi kelas karena mengunggah foto alay, katanya.
“Beautiful, more than her name,” celetuk Hanan mengulang kalimat yang menjadi caption foto Luna di akun milik Angkasa. Ia baru saja sampai di kelas dan mendengar percakapan yang sedang berlangsung antar para siswa di kelas itu.
“Akhirnya lo udah nggak bego!” seru Hanan sambil merangkul Angkasa.
“Nggak bego tapi alay!” kekeh Rizal yang sedang memasang dasi abu-abunya.
Angkasa yang semula sedang berdiri di depan mejanya segera meletakkan tas dan hendak keluar dari kelas. Ia suntuk sejak tadi mendengar ocehan tentang dirinya. Namun, Hanan segera membuntuti Angkasa masih dengan mengulang kalimat yang menjadi caption foto itu.
“Ngapain sih lo ngukutin gue!” geram Angkasa saat Hanan masih terus mengoceh di belakangnya.
“Pede gila! Lo lupa kalo gini-gini gue seorang pemimpin barisan?”
Hanan kini berjalan di depan Angkasa. Benar, Angkasa melupakan fakta bahwa hari ini mereka akan menjadi petugas upacara. Dan yang pasti, Angkasa mengulum senyum saat dilihatnya di lapangan upacara sudah ada Luna yang tengah membantu membawa peralatan upacara.
Sesampainya di lapangan upacara, seluruh pengurus OSIS, kecuali Luna, kompak berdehem. Luna hanya bisa menghela napas karena sejak tadi ia sudah dilempari banyak pertanyaan terkait hubungannya dengan Angkasa, terutama oleh kakak kelas.
“Habis upacara ada makan-makan gratis dong ya!” seru Marissa dengan suara cemprengnya.
“Oh, jelas ada!”
Bukan Angkasa yang menjawab, tapi teman sebangkunya yang kini berdiri di samping Angkasa.
“Jadi sebenernya kalian jadian sejak kapan?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut sang ketua OSIS dengan tatapan sinisnya pada Angkasa.
“Gue pemimpin di organisasi ini. Gue berhak tau,” lanjut Fajri dengan nada bicara yang penuh penekanan.
Hanan menyikut lengan Angkasa. Sejak dulu memang Fajri selalu sinis pada Angkasa. Bukan tanpa alasan. Fajri merasa Angkasa selalu cari perhatian pada Dito--ketua OSIS lama. Apalagi saat Dito berkata akan mencalonkan Angkasa sebagai ketua OSIS, Fajri terus memusuhi Angkasa.
“Maaf, kalo yang lo maksud itu gue sama Luna--seperti yang temen-temen gue katakan tadi di kelas--gue kasih tau, gue sama Luna belum jadian.”
“Wow, berarti ada niat buat jadian,” gumam Fajri sambil berlalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUNARIA [SUDAH TERBIT]
Fiksi Remaja[COMPLETED] "Kita adalah dua bintang dari rasi berbeda yang sayangnya memiliki luka yang sama." -Lunaria Kisah tentang Luna yang diam-diam memiliki ketakutan terhadap hujan, sejak kehilangan menyakitkan yang me...
![LUNARIA [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/177400962-64-k50325.jpg)